Sedikit tentang Kasyaf / Penyingkapan

Ketersingkapan itu memiliki 4(unsur):

  1. Yang menyingkap (Tuhan)
  2. Penyingkapan dilakukan untuk siapa
  3. Apa yang disingkapkan (hakikat Ilahiyah)
  4. Batas antara yang penyingkap dan yang disingkap (diantara orang yang mendapatkan ketersingkapan dan hakikat Ilahiyah terdapat hijab)

Penyingkapan terdapat 2 macam: Penyingkapan formal dan penyingkapan makna

 

Penyingkapan formal:

Secara lahiriah manusia mempunyai lima indera (pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap). Secara batin, manusia juga memiliki indera – indera ini, tetapi dalam kualitas dan level  berbeda. Ketika kita bermimpi, bukankah kita dapat melihat, mendengar dan merasakan? Bahkan perasaan sedih dan bahagia.

 

Indera lahiriah dapat digunakan secara aktif jika jantung kita masih berfungsi, jika jantung sudah tidak berfungsi, maka semua indera lahiriah kita juga akan mati. Begitu juga dengan indera batin, semua akan hidup jika jantung batin (qalb) kita berfungsi.

 

Sebagaimana indera lahiriah yang hanya berfungsi di wilayah fisik, indera batiniah kita juga berfungsi hanya di wilayah batin. Karena penyingkapan ini terjadi diwilayah batin, maka orang lain tidak akan dapat melihat. Sebagai contoh, ketika Nabi Muhammad melhiat Jibril, Nabi melihat dengan mata batin, dan ini membuat orang lain tidak mampu melihat Jibril. Pun ketika Nabi mendengar suara lonceng dan menggigil saat menerima wahyu. Semuanya berlangsung diwilayah batin.

 

Contoh paling sederhana adalah ketika kita bermimpi, dalam mimpi kita bisa merasakan seluruh kejadiannya, tetapi orang lain disekitar kita tidak mengetahuinya. Hal sepert ini dinamakan penyingkapan formal.

 

Penyingkapan makna:

Ketika kita ditanya bahwa 1 + 1 = 2, kita pasti sepakat dan mengerti. Tetapi, untuk anak kecil, kita perlu memberikan bentuk kepada angka 1 tersebut, misal bentuk apel. Jadi, 1 apel  +  1 apel = 2 apel. Kesadaran dan pemahaman terhadap 1 + 1 = 2 secara langsung ini adalah salah satu peristiwa penyingkapan makna.

Penyingkapan jenis ini memiliki beberapa tingkatan mulai dari yang rasional seperti penjumlahan tadi, sampai kelevel yang lebih tinggi (qolbu, sirr, dan seterusnya)

 

Lantas bagaimana dengan wahyu?

Wahyu adalah penggabungan dari kedua macam penyingkapan diatas, ketika Nabi memperoleh wahyu, itu berarti Nabi Muhammad melihat dan mendengar Jibril pada saat yang sama, Nabi juga memahami makna yang ada dibalik pembicaraan Jibril. Nabi menyadari makna dibalik bentuk itu. Nabi menyadari bukan hanya mengerti.

 

Disekitar kita mungkin banyak orang yang mengaku memperoleh satu penyingkapan. Padahal, mungkin yang dialaminya hanyalah penyingkapan formal saja. Misal ketika berdzikir atau sholat melihat seberkas cahaya dengan warna tertentu, atau bermimpi melihat wajahnya bercahaya. Dia memang melihat cahaya, tetapi tidak menyadari makna dari cahaya itu apa, dan ketika kita mulai mengarang dan menduga-duga maksud dari penyingkapan itu, ini bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

 

Dibutuhkan seseorang yang memang benar – benar mampu, mengerti dan menyadari untuk bisa menafsirkan segala penyingkapan itu, dan adalah tidak mudah menemukan orang seperti itu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: