Mensucikan Hati Menuju Ma’rifat Ilahi

Petikan kalimat yang penulis angkat sebagai tema tulisan ini barangkali sudah cukup mewakili ungkapan para peneliti dan pemerhati tasawuf, betapa sebagai sebuah ilmu maupun seperangkat tatanan prilaku (suluk) ia memiliki daya pikat yang begitu kuat, tidak menjemukan, bahkan kerapkali ditemukan hal-hal baru, baik berhubungan dengan rasa hati, maupun makna-makna yang tidak didapatkan dalam kesempatan pertama.

Melalui kalimat “mensucikan hati menuju ma’rifat Ilahi” inilah sumber daya pikat dan daya tarik tasawuf muncul. Dari rangkaian kalimat di atas, paling tidak ada dua penggalan kata yang memiliki signifikansi lebih dibandingkan kata-kata yang lain, dua kata tersebut adalah “hati” dan “ma’rifat Ilahi”.

Diskusi dengan menjadikan hati sebagai obyek senantiasa menarik dan mengasyikkan, karena hati adalah sumber emosi dan rasa yang beraneka ragam di dalam diri manusia. Emosi dan rasa inilah yang menjadikan hidup manusia menjadi penuh warna, dinamis dan tidak menjemukan. Dengan emosi dan rasa ini pulalah, manusia bisa mempertahankan eksistensi dan ujudnya. Bukankah kita semua lahir ke dunia ini melalui sinergi dan harmoni emosi dan rasa cinta kedua orang tua kita?

Hal kedua yang menjadi daya tarik tasawuf adalah karena ia memiliki visi dan misi ketuhanan (baca ma’rifat). Dalam sejarah peradaban manusia, diskursus dan isu tentang Tuhan dan alam ghaib selalu menempati posisi penting dan vital. Bahkan, lahir dan berkembangnya peradaban itu sendiri sejatinya banyak diilhami dan diinspirasi oleh upaya manusia “mencari dan menemukan” Tuhan atau usaha pembuktian adanya Tuhan. Dari proses inilah kemudian lahir dan berkembang ilmu filsafat, ilmu logika (mantiq), ilmu kalam, dan ilmu tasawuf.

Definisi Tasawuf

Para ulama tasawuf berbeda pendapat mengenai asal kata “tasawuf”, di antara pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut:

1. Abu ar-Raihan al-Biruni (w. 440 H/1048 M) dalam kitabnya “tahqiq ma lil hindi min maqulah” menyatakan bahwa tasawuf secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “suf” yang berarti “pecinta hikmah”, kemudian istilah ini dinisbatkan kepada “ahl shuffah” atau orang-orang yang tinggal di bangku-bangku yang terbuat dari batu/beranda masjid pada masa Rasulullah.(1)(Tahqiq ma lil hindi min maqulah, Abi ar-Raihan al-Biruni, hal. 24-25).

2. Sebagian ulama berpendapat bahwa asal kata tasawuf adalah “shufanah” yaitu jamur atau sejenis kacang-kacangan yang tumbuh di padang pasir. Mereka beralasan bahwa para sufi adalah sekelompok orang yang mengambil bagian sesedikit mungkin dari kesenangan dunia, sebagaimana jamur atau sejenis kacang-kacangan yang hidup di padang pasir.(2) (Ilmu at-tasawwuf, Dr. Muhammad Mustafa, hal. 10).

3. Pendapat lain menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuf” yang berarti bulu domba atau kain wol. Argumentasi mereka adalah karena para sufi biasanya memakai baju yang sangat sederhana dari bulu domba atau kain wol.

4. Pendapat berikutnya menegaskan bahwa tasawuf berasal dari kata “shafa’ yang berarti murni atau jernih. Ini artinya para sufi adalah orang yang memiliki hati yang murni dan jernih.

5. Pendapat ke lima tasawuf berasal dari kata “shaff” yang berarti barisan, artinya para sufi selalu berada di barisan terdepan dalam menghadirkan Allah Swt di hati mereka.(3) (lihat Qadhiyyah at-tasawwuf al-munqidz min ad-dhalal, Dr. Abdul Halim Mahmud, hal 31).

Di antara lima pendapat terkemuka ini, pendapat ke tiga dianggap sebagai yang paling rasional dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Dalam terminologi orang Arab, memakai baju diistilahkan dengan dan memakai baju wol diistilahkan dengan. Maka asal kata “shuf” yang berarti wol atau bulu domba dianggap yang paling mewakili dari segi kebahasaan. Sekalipun dari segi makna asal kata ini kurang cocok, akan tetapi menurut Dr. Abdul Halim Mahmud, hal ini tidak menjadi persoalan, karena makna tersebut akan senantiasa berkembang dan berubah sesuai dengan konteks yang melingkupinya. Selanjutnya menurut Dr. Abdul Halim Mahmud, memakai baju wol atau bulu domba merupakan manifestasi dan aktualisasi dari nilai kesederhanaan yang merupakan titik tolak dan nilai utama dalam tasawuf.(4) (lihat Qadhiyyah at-tasawwuf, hal.34-35).

Sedangkan definisi tasawuf secara terminologi begitu banyak dan variatif, bahkan menurut as-Sahrawardi mencapai sekitar seribu definisi.(5) (‘Awarif al-ma’arif, as-Sahrawardi, hal. 40). Hal ini disebabkan perubahan dan pergeseran kondisi (ahwal) para sufi yang terus-menerus terjadi dan beragamnya pengalaman ruhani yang mereka alami.(6) (Ilmu tasawwuf, hal. 21). Sekalipun demikian ada beberapa definisi yang layak diketengahkan dalam tulisan ini dan cukup komprehensip mewakili pendapat-pendapat yang heterogen tersebut. Di antara definisi tersebut:

1. Abu Sa’id al-Kharraz (w. 268 H) mengatakan bahwa sufi adalah: “orang yang Allah Swt sucikan hatinya, maka kemudian hatinya penuh dengan cahaya Ilahiyah, dan masuk ke dalam esensi kenikmatan dalam dzikir kepada Allah Swt.

2. Abu Bakar al-Kattani (w.322 H) menyatakan bahwa tasawuf adalah “kejernihan (hati) dan musyahadah (ma’rifat tertinggi kepada Allah Swt).

3. Ja’far al-Khuldi (w. 348 H) mengatakan bahwa tasawuf adalah “menyibukkan diri ke dalam ibadah, keluar dari dimensi kemanusiaan, dan ma’rifat kepada Allah secara utuh”.(7) (Qadhiyyah at-tasawwuf, hal. 4).

4. Al-Ghazali (w. 555 H) menyimpulkan berbagai pendapat para ulama bahwa tasawuf sejatinya adalah “menjernihkan hati dari noda, dosa dan tipu muslihat nafsu, dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt dan selalu merasa membutuhkan- Nya”.(8) (Ihya’ ulumuddin, al-Ghazali, juz 5, hal. 83).

Dari beberapa pendapat tersebut, Dr. Abdul Halim Mahmud memberikan komentarnya, bahwa tasawuf merupakan “wasilah wa thariqah” atau sarana dan jalan, sekaligus juga “ghayah” atau tujuan. Sarana dan jalannya berupa “mujahadah” dengan berupaya membersihkan dan mensucikan hati dari segala noda, dosa dan tipu daya nafsu, dan tujuannya adalah “musyahadah” atau ma’rifat kepada Allah Swt.(9) (Qadhiyyah at-tasawwuf, hal. 43-44)

Sejarah dan Perkembangan Tasawuf

Sebagai sebuah fenomena, tasawuf (Islam) sejatinya sudah ada semenjak abad pertama hijriah, dimana dijumpai sejumlah komunitas di lingkungan sahabat Rasulullah Saw dan para tabi’in mempraktekkan pola hidup yang teramat sederhana. Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, dan biasanya tinggal di beranda-beranda masjid, dengan melakukan aktifitas sehari-hari berupa ibadah, dzikir dan belajar agama. Ketika terjadi perpecahan umat Islam pasca pembunuhan Utsman bin Affan dan kemudian Ali bin Abi Thalib, maka sekelompok kalangan ini semakin mengkristal dan membentuk sebuah komunitas masyarakat dengan corak dan warna kesufian yang lebih kongkrit. Mereka berupaya untuk tidak larut dan terseret masuk ke dalam kubangan nafsu politik dan keserakahan dunia. Sejalan dengan waktu, kemudian muncul istilah “zuhud” yang berkolaborasi dengan istilah “tasawuf” dan “sufiyah”, sebagai julukan terhadap mereka.

Pada abad ke dua hijriah, muncullah dua kelompok besar masyarakat ilmiah, yakni kelompok Basrah dan Kufah. Dua tempat inilah yang kemudian menjadi pusat bagi perkembangan tasawuf sebagai sebuah ilmu maupun sebagai seperangkat pola laku dan hidup (suluk). Pada abad ke dua inilah Abu Hasyim al-Kufi (w. 148 H/766 m) mulai dikenal sebagai sufi pertama dalam sejarah tasawuf, demikian pula al-Hasan al-Bashri (w.110 H/728), seorang tabi’in yang walaupun tidak dikenal sebagai seorang sufi, akan tetapi prilaku hidupnya mencerminkan nilai-nilai yang dianut para sufi.

Selanjutnya pada permulaan abad ke tiga hijriah, tampaklah “wajah” para sufi semakin jelas dan nyata, ditandai dengan semakin terpolanya tasawuf sebagai sebuah disiplin ilmu, dan bermunculannya para ulama sufi terkemuka, seperti Abu Sa’id al-Kharraz dan Abu al-Qasim al-Junaid. Maka mulai dikenallah istilah-istilah dalam ilmu tasawuf, seperti hakikat, ma’rifat, ahwal, maqamat dan sebagainya. Semakin kokohnya epistimologi ilmu tasawuf terbukti dengan munculnya kitab pertama dalam disiplin ilmu tersebut pada abad ke empat hijriah yang di karang oleh Abu Nashr as-Siraj at-Thusi (w. 374) dengan nama “al-luma” jamak dari “lum’ah” yang artinya “bekal hidup”.(10) (Ilmu at-tasawwuf, hal. 161-162, lihat pula Fajr al-Islam, Ahmad Amin, hal. 287-296)).

Dari lingkungan Irak ini, kemudian ajaran tasawuf dan ilmunya menyebar ke Khurasan, Mesir, Maroko dan Andalusia . Selanjutnya penyebaran tersebut semakin cepat melalui kelompok-kelompok tarekat, hingga mampu menembus benua Afrika dan Asia Tenggara, termasuk di dalamnya Indonesia .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: