SEKILAS MENGENAI ILMU TASAWUF Bagian 3

III. SEJARAH TASAWUF DALAM ISLAM

Tasawuf di kalangan umat Islam dampak dari sejumlah faktor dan pengaruh interen dan ekstren. Semua faktor ini terus bereaksi dan saling menyempurnakan hingga membuahkan sebuah teori ilmu Keislaman yang sangat istimewa dari ilmu lainnya, seperti ilmu fikih, kalam, Hadits dan lain sebagainya. Begitu pula bila ditinjau dari sisi amal (tatbiq) ilmu ini lebih menonjol melalui cara tarbiyah, akhlak dan lainnya.

Muncul dan terbentukya setiap ilmu, dan permasalahan, kasus-kasus, serta metodanya tidak secara integral dalam waktu relatip singkat. bahkan memerlukan waktu panjang sehingga factor-faktor penunjang di atas siap mencapai tujuannya, demikian halnya dengan perkembangan ilmu tasawuf.

A. Zuhud, Embrio Tasawuf.

Zuhud adalah lingkuangan alami tempat tumbuhnya tasawuf, atau fase pendahuluan yang mempersiapkan kelahirannya. Dikalangan muslim Zuhud berpulang kepada beberapa faktor, baik faktor agama, politik, dan sosial. Berikutnya kami akan mencoba menjelaskannya satu-persatu:

1. Faktor Agama.

Maksud dari faktor agama adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi saw yang memberikan pengaruh langsung pada diri kaum muslimin dan mengarahkannya untuk hidup zuhud di dunia, meninggalkan kelezatan dunia, dan tidak tenggelam dengan kenikmatan dan rongrongan dunia. Memandang kesenangan dunia merupakan sesuatu yang tidak langgeng dan sedikit. Memiliki perhatian yang besar kepada dunia dan sangat disibukkan dengan urusan-urusan dunia akan memalingkan pemiliknya dari kebaikan yang banyak, dan menjadikannya di akhirat kelak terancam akibat perbuatan buruknya.

Allah swt berfirman:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. al-Hadid:20) .

Sunnah datang dengan gaya dan tipe yang sama, dimana kita dapati hampir semua perkataan Rasulullah saw diarahkan ke sana . Kemudian diperkuat dengan prilaku nyata Rasulullah saw sendiri yang melahirkan kehidupan zuhud, penuh kesederhanaan, jauh dari kehidupan yang penuh gelamor, dan kemewahan. Diriwayatkan, suatu hari Rasulullah saw bersama para sahabatnya melewati seekor domba betina yang mati, kemudian Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya: “Tidkkah kalian melihat domba ini hina bagi pemiliknya?” , Mereka menjawab: “ya”, kemudian Rasulullah berkata: “Demi Allah dunia ini lebih hina bagi Allah dari pada domba yang mati itu bagi pemiliknya ketika dibuang”. (HR. Ahmad)

Semua para shabat berjalan mengikuti manhaj Allah dan Rasul-Nya. Mereka mewariskan sifat zuhud, dan senang dengan hidup yang penuh kesederhanaan dan apa adanya. Semua ini dapat dilihat pada perjalanan hidup para shahabat, seperti: Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Abdul Rahman bin Auf. Zuhud adalah prilaku hidup pada masa shahabat. Orang-orang yang datang sesudah mereka mengakui hal itu, mereka mangatakan: Sesungguhnya zuhud para shabat pada hal-hal yang halal lebih besar dari zuhud orang-orang yang datang setelah mereka pada hal-hal yang haram.

2. Faktor Politik.

Yang dimaksud dengan faktor ini adalah dampak dari peperangan yang terjadi di tengah kaum muslimin sekitar memperebutkan kedudukan khilafah atau kepemimpinan. Perang yang diawali dengan fitnah pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan r.a. dan berakhir dengan terbunuhnya Ustman bin Affan r.a. Kemudian semakin membesar di masa khalifah Ali bin Abu Thalib ra, dan berakhir dengan terbunuhnya beliau. Akhirnya kaum muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bersengketa. Sebagian ada yang mendukung Ali, sebagian lagi ada yang mendukung Mu’awiyah, dan yang lainnya mendukung Tolhah bin Zubeir. Setelah peristiwa tahkim kekuatan Ali r.a terbagi, dan muncullah kelompok khawarij. Namun di tengah-tengah peristiwa itu terdapat satu kelompok dari pembesar sahabat berpandangan untuk menjauhkan diri dari golongan-golongan yang bersetru untuk menghidari fitnah, mengutamakan keselamatan, mencari ketenangan, dan khawatir terjebak ke dalam pembunuhan sesama muslim. Kelompok ini terdapat di masa Ali ra sendiri, kemudian sebagiannya muncul setelah terbununya Ali bin Abu Thalib ra.

3. Faktor Sosial.

Maksudnya adalah bentuk-bentuk prilaku dan tipe hidup baru yang menimpa kehidupan sosial yang sebelumnya tidak dikenal di masa Sahabat, para Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti cara hidup mereka. Ketika itu kehidupan mereka dikenal dengan penuh kesederhanaan dalam perkara makanan, minuman, tempat tinggal, dan seluruh urusan kehidupan mereka. Tanpa terasa secara gradual kehidupan sosial itu mengarah kepada perubahan yang sedikit-demi sedikit mulai menjauh dari tauladan hidup masa pertama Islam. Ketika itu kita menemukan satu gaya hidup yang tidak dikenal sebelumnya. Kita dapatkan bermacam-macam corak makanan, minuman, dan perjamuan, serta aneka ragam permainan di tempat-tempat nyanyian, biduanita, dan minuman.

Rupanya interaksi dengan sebagian bangsa seperti Parsia memiliki pengaruh besar perhadap perubahan tersebut. Kehidupan hura-hura dan glamor tampak sangat menyakiti perasaan yang sensitif dan menyinggung orang-orang yang tak punya, fakir serta miskin. Terkadang kita mendengar perayaan-perayaan resepsi pernikahan dan khitanan yang menghabiskan biaya ratusan ribu, bahkan jutaan dinar dan dirham. Dan kita mendengar pada masa khalifah al-Makmun ada yang membayar mas kawin istrinya sebesar seribu kantong permata, menyalahkan lampu lilin dengan minyak wangi dan setiap satu lilin menghabiskan dua ratus liter minyak wangi serta dihampar permadani dengan tenunan emas dan dimahkotai dengan permata yaqut.

Kondisi ini sepenuhnya banyak memotifasi orang untuk mengetuk pintu zuhud, karena barangkali diri mereka merasa puas dengan sebuah selogan masyhur: “Jika yang engkau inginkan tidak ada , maka ambillah apa yang ada”. sebagian mereka memilih sifat zuhud karena motifasi agama, melawan syahawat, menjauhi haram, mengutamakan akhirat, dan mencari ridha Allah swt. Berkaiatan dengan hal ini sebagian mereka ada yang berkata: “Dunia menurut pandangan kami ada tiga tingkatan, halal, haram, dan syubuhat. Haramnya akan dihisab, haramnya akan mendapat siksa, dan syubuhatnya akan mendapat celaan Allah Swt. Karena itu, ambillah dunia itu yang engkau butuhkan saja”.

Begitulah, zuhud merupakan sebuah reaksi penolakan pada gaya hidup yang menyimpang dari kehidupan pertama Islam, dan upaya meniru gaya hidup para shahabat dalam hal zuhud, dan wara’. Dari uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa fenomena zuhud adalah sebuah konsekwensi dari sejumlah faktor tersebut, baik agama, politik, dan sosial. Patut disinggung disini bahwa zuhud itu sendiri bukanlah tujuan, akan tetapi ia adalah sebuah sarana untuk mengapai tujuan lain yang harus dijalani guna merealisasikan seluruh nilai-niai luhur, serta mendapatkan muroqobah dan musyahadah Allah. Kemudian pada masa itu orang-orang yang zuhud mendapatkan bermacam-macam sebutan (gelar) seperti ‘ubbad, nussak, fuqora, dan qurroo’, mereka adalah para ulama atau orang-orang yang memahami Al-Quran dengan baik.

B. Sejarah Munculnya Tasawuf Islam

Di tengah-tengah kelompok tersebut dan di kalangan para ahli zuhud, zuhud mulai menyaksikan perkembangan baru yang membawanya kepada nama baru, yaitu Tasawuf, serta kelompok baru bernama As-sufiyah. Perkembangan ini tidak terlepas dari sebagian faktor atau fenomena internal dan eksternal. Faktor eksternal terpulang kepada permulaan atau pertengahan abad kedua –di mana bahwa para zuhud waktu itu lebih meng-utamakan berpakaian sof (wol) sebagai selogan tawadlu, pakaian orang-orang soleh, simbol keprihatinan serta unjuk protes terhadap kemegahan serta kegelamoran dunia, bahkan pakaian itu telah menjadi pakaian khas mereka.

Dari sini para Sufi itu satu sama lain mulai berkumpul; mulai memilih orang yang patut di antara mereka menjadi pemimpin atau pembimbing atau para syekh, Yang di dalam kepribadiannya telah terkumpul sifat-sifat atau karakteristik yang menjadikan mereka layak berdiri didepan saudara-saudaranya. Diantara salah satu kelebihan atau keistimewaan yang terpenting adalah mereka mampu merenungkan, menyimpan pengalaman spritual mereka, dan mampu mendeskripsikan serta mengekspresikan kembali pengalaman spritual tersebut. Deskripsi spritual ini tidak mereka ambil dari orang-orang sebelum mereka akan tetapi benar-benar bersumber dari pengalaman dan petualangan spiritual yang mereka alami sendiri.

Pengalaman itu memberikan ilmu khusus dan pengetahuan pribadi bagi mereka, terkadang sebagian mereka ada yang merasa terpaksa untuk mengungkapkan pengetahuan itu dan sulit disembunyikan gejolak perasaan yang memenuhi qalbunya, seola-olah –dalam kondisi seperti itu- ia seperti tengah terjadi al-wajdu al-fana (megalami satu kondisi kebersamaan kepada Allah yang kuat dalam dirinya) atau dilanda perasaan seperti yang melanda para seniman atau penyair, oleh karena itu mereka mendapatkan kebebasan dalam mengungkapka apa yang tengah bergejolak dalam dadanya, dalam hal ini imam al-Hakim at-Tirmidzi berkata: “Tidaklah aku menyusun satu huruf tentang sebuah perancangan, tidak juga agar sesuatu itu dinisbatka kepada diriku, namun ketika aku merasa sempit aku menjadi terhibur “.

Mulailah mereka mencatat khawatir (lintasan pikiran dan jiwa sebagai apresiasi kondisi spiritual yang bersih) mereka, menyusun pengalaman-pengalam an mereka, serta berbicara tentang zauk, dan mawajid mereka. Bermunculanlah sebagian artikel-artikel yang berbicara tentang pengalaman spritual. Tidak hanya itu, bahkan sebagian mereka sudah ada yang mendiskusikannya atau berbicara tentang tasawuf di masjid-masjid. Orang pertama diantara mereka adalah Abu Zakaria Yahya bin Muaz Ar-Razi (W : 275 H), dan Abu Hamzah Al-Bagdadi yang sebelum bicara di masjid Madinah ia telah berbicara di Bagdad terlebih dahulu.

Dan kewajiban para syekh adalah menjelaskan pesan-pesan kepada para pengikutnya, membatasi kaidah-kaidah suluk serta etikanya (adab) dan menulis buku-buku dan artikel-artikel yang berhubungan tentang tasawuf. Dari sini mulailah dikenal sejumlah tokoh-tokoh sufi pada abad ketiga hijriyah dan setelahnya, di-antarnya: Imam Muhasibi, Sahal at-Tusturi, al-Junaidi al-Bagdadi, Imam al-Ghazali, dan Abdul Qodir al-Jilani. Sebagian mereka ada yang merasa cukup mengajarkan ilmu tasawuf secara lisan, oleh karenanya mereka tidak menulis buku-buku, bahkan mereka mengatakan: “Buku-bukuku adalah para sahabatku (murid/pelanjutnya)”

Diantara moti-motif terpenting penulisan karya-karya tasawuf adalah untuk mengkanter para penyeleweng yang dilakukan oleh para pengaku-aku tasawuf. Tujuan ini sangat jelas sekali terdapat pada setiap muqoddimah buku-buku tasawuf, seperti buku Atta’arruf karya al-Kalabadzi, Alluma’ karya imam at-Thusi dan Ar-risalah karya imam al-Qusyairi. Begitu pula diantara tujuan-tujuan terpenting mereka adalah menghadapi serangan-serangan yang diarahkan kepada kaum Sufi semenjak kelompok ini memiliki label khusus dalam pakaian, dan manhajnya, kemudian sebagaian para penysusun buku-buku tasawuf berupaya menjelaskan dasar-dasar tarbiyah tasawuf (tarekat), membatasi unsur-unsurnya secara umum, juga berusaha memunculkan pandangan kelompok sufi terhadap ilmu-ilmu kelompok lain yang semasa dengan mereka, seperti para fuqoha, mufassirin, mutakallimin, dan , ulama-lain yang sepadannya. Diantara mereka misalnya Abu Thalib al-Makki dalam bukunya qutul qulub (konsumsi pokok qalbu).

Ibnu Khaldun berkata: ketika ilmu pengetahuan ditulis dan dibukukan, para fuqoha menyusun fikih, serta usulnya, ahli kalam meyusun ilmu kalam, mufassirin menulis tafsir, dan lain sebagainya, para tokoh sufi juga melakukan hal yang sama, menulis dan menyusun buku-buku tasawuf setelah sebelumnya thoriqoh hanya sebuah ritual ibadah saja dan hukum-hukumnya hanya bersumber dari dada (hafalan) para tokohnya, sebagaimana halnya terjadi pada semua ilmu yang dibukukan, seperti tafsir, Hadis, fikih, usul dan lain sebagainya.

Ibnu Taimiyah menyebutkan, ilmu tasawuf pertama kali muncul di kota Bashroh, hal itu ditandai dengan adanya sifat zuhud, ibadah dan rasa takut yang berlebihan serta hal ini tidak dialami seluruh penduduk kota besar, karenanya, pada saat itu dikenal fikih ahli Kufah dan ibadah ahli Bashrah.
Dapat dikatakan bahwa tasawuf muncul secara alami dalam lingkuangan Islam sebagai dampak dari beberapa faktor yang ada di dalam lingkungan tersebut. Dan ilmu ini tetap akan terwujud, walaupun kaum muslim tidak memiliki kontak langsung dengan kebudayan asing, atau bentuk-bentuk tasawuf yang lain. Tokoh-tokoh tasawuf sering kali menjelaskan bahwa tasawuf mereka bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Mereka sering kali mengulang-ngulang dalam berbagai kesempatan serta kukuh dengan sikap itu di berbagai kondisi agar hal itu melekat di dalam jiwa pengikutnya. Sebagaiman imam Junaidi bertutur: “Mazhab kami ini berpegang teguh dengan dasar-dasar Al-Qur’an dan Sunnah”. Ia berkata lagi: “Semua jalan (manhaj) terhalang bagi makhluk kecuali orang-orang yang meneladani Nabi serta mengikuti Sunnah dan tetap konsekwen dalam manhajnya”. Ketika salah seorang tokoh sufi ditanya tentang bid’ah, ia menjawab: “bid’ah itu adalah melanggar hukum, mengabaikan Sunnah, mengikuti jalan pikiran manusia dan hawa nafsu, serta tidak meneladani dan mengikuti Nabi saw”.

Maka pada akhir abad ini, serta pada abad ketiga dan keempat Hijriyah tasawuf menurut tokoh-tokohnya adalah “sekumpulan etika, akhlak, dan keyakinan-keyakinan yang sangat dipegang teguh oleh para sufi dan kalangan elit ulama”.

Dapat kita katakan terhadap tasawuf macam ini adalah Tasawuf Sunni, yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, bersumber serta tidak keluar dari batas-batasnya, mengontrol prilaku, lintasan hati, dan pengetahuan mereka dengan dua neraca itu. Selama para tokoh tasawuf ini mengumandangkan loyalitas mereka kepada Syari’ah Allah, maka kita harus meyidang mereka menurut dua standar di atas, karena itu adalah standar apa yang mereka ridlai. Jika perkataan dan perbuatan mereka sesuai dengan Syari’ah maka kita terima, sementara jika melanggarnya, maka kita harus menolak dan meninggalkannya.

Salah seorang syekh tasawuf mengatakan hal ini secara terang-terangan. Syekh Abul Hasan syazili pernah berkata kepada salah seorang muridnya: “Apabila Kasyafmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka engkau harus tetap komitmen terhadap keduanya dan tinggalkanlah kasyafmu itu, dan katakanlah kepada dirimu bahwa Allah telah menjamin keselematanku dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sementara aspek kasyaf, ilham, dan musyahadah tidak memberikan jaminan kepadaku”.

Sementara dikalangan kaum muslimin sendiri juga terdapat tasawuf lain yang berbeda dari apa yang telah kita bicarakan. Yang kita kenal dengan nama tasawuf asing (mistis) atau tasawuf filsafat. Maksud tasawuf filsafat ini adalah tasawuf yang membahas tentang pemikiran-pemikiran , atau tema-tema yang memiliki kesamaan pada apa yang kita dapati di sebagian formulasi ajaran kerohanian yang ada di luar lingkuangan ummat Islam, contohnya seperti kerohanian hindu, masehi, atau Flato modern.

Keberadaan tasawuf ini dikalangan ummat Islam disebabkan beberapa faktor. Secara umumnya dapat dikatakan bahwa sebagian kelompok sufi telah mendapat kesempatan berkomunikasi atau mengenal langsung macam-macam ajaran mistis asing. Hal itu terkadang berpulang pada tarjamah-tarjamah yang menjadi sebuah faktor umat Islam mengenal turos bangsa-bangsa lain. Faktor lain juga disebabkan setelah futuhat Islam kaum muslimin menjalin kontak langsung dengan bangsa-bangsa yang memang sudah mempunyai akar kuat pada ajaran mistis seperti Hindu, dan Persia . Barangkali juga asal-usul sebagian kelompok sufi tersebut berasal dari bangsa-bangsa ini. Tidak salah kalau kita megatakan bahwa agama-agama minoritas juga memiliki pengaruh terhadap masalah ini, hal itu merupakan dampak dari adanya komunikasi dengan para pendeta Nasrani, atau Yahudi, terlebih lagi di antara mereka ada yang dikenal sebagai orang yang sering menta’wilkan teks-teks agama.

Buah dari komunikasi dengan sejumlah referensi ini, maka kita sering mendapati diantara orang-orang yang memliki loyalitas kepada tasawuf ada yang berbicara tentang ittihad, wihdatul wujud, atau suqut at-taklif (terbebas dari taklif agama) dari para wali, dan tema-tema lain yang tidak mudah dirujuk kepada Islam, namun lebih mudah dikembalikan pada sumber-sumber asing di luar Islam.

Oleh karena itu, tasawuf digambarkan sebagi sebuah bid’ah, atau kependetaan, padahal para pembaharu tasawuf Sunni terus mengawasi teori asing ini dan mengkanter para tokohnya serta menjelaskan hal-hal yang menyimpang dari Syari’ah Islam. Di samping mereka juga melakukan hal yang sama menjelaskan aqidah mereka, dan menjelaskan dasar-dasar Syari’ah yang menjadi landasan berdirinya torekat (tarbiyah) mereka. Karena itu tidak heran bila kita temukan di sejumlah buku-buku tasawuf dimulai dengan menjelaskan aqidah sufi yang berhubungan dengan Allah dan sifat-sifat- Nya, keNabian dan karekteristik serta kedudukannya. Semua itu telah dijelaskan dalam kitab at-Ta’aruf, al-Luma’, Qutul Quluub, Risalah Qusyairiyah, dan karya-karya Sufi lain yang berbicara tentang hal itu.

Ketika kelompok sufi pertama telah membagi antara ilmu Syari’ah (ilmu zhohir) yang tampak pada lahiriyah, dan ilmu hakikat (ilmu bathin) yang stresingnya adalah hati, maka mereka mulai menysusun terminologi- terminologi khusus untuk kalangan mereka sendiri serta simbol-simbol tertentu yang hanya dapat dipahami dengan betul oleh seorang yang belajar langsung dengan mereka. Maka berbondong-bondongl ah orang mendatangi mereka untuk bergabung dan menimba ilmu, namun metoda kelompok Sufi pertama ini belum sempurna dan terorganisir dengan baik, sebagaimana metoda sufi belakangan. Di mana mereka masih individual yang terpisah-pisah dan tidak memiliki ikatan diantara mereka. (belum terorganisir) .

Pada abad kelima muncullah Imam Ghozali r.a (w: 505 H) kita dapati bahwa ia memiliki pemahaman tasawuf yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dipahami oleh para sufi di masa pertama. Ia berpendapat, bahwa tarekat tarbiyah tasawuf merupakan persembahan mujahadah dan penghapusan sifat-sifat tercela. Tarbiyah ini berpulang kepada semata-mata upaya pembersihan jiwa dari seorang salik (seorang insan tarbiyah), penjernihan dan pencerdasan, kemudian penyiapan dan penyerahan diri kepada Allah. Imam Ghozali telah menjelaskan kaidah-kaidah suluk (tarbiyah ruhiyah) secara terperinci, seperti hubungan seorang murid dengan Syekh (murobbi), menjelaskan tentang tata cara uzlah, dzikir, dan semua yang berhubungan dengan kaidah-kaidah tersebut. Bahkan Ia juga melandasi kaidah-kaidah taswuf Sunni yang memperhatikan sisi pendidikan akhlak dalam dunia Islam, meyatukan antara ilmu syari’ah (ilmu lahiriyah) dan ilmu hakikat (bathin), serta menolak bentuk-bentuk tasawuf lain yang menyimpang, seperti tasawuf filsafat yang berdiri atas pemikiran hulul dan ittihad.

Tidak lama kemudian bermunculanlah para pembesar Tasawuf yang mengagumi konsep dan orientasi Imam Ghozali ini, kami sebutkan di antara mereka adalah: Syekh Abdul Qodir Jailani (W:561 H) pendiri thoriqoh Qhodiriyah, dan Syekh Ahmad Rifai (w:578 H) pendiri thoriqoh Rifaiyyah, kemudian terus bermunculan pembesar Syekh tasawuf di beberapa negara Islam dan thoriqoh sufiyyah itu terus berkembang dan tersebar sejak abad ke IV Hijriyah sampai saat ini.

Sejak abad itu kata tasawuf dilekatkan kepada: “sekumpulan individu-individu kaum sufi yang berafiliasi kepada syekh tertentu, dan patuh terhadap sistem suluk (tarbiyah ruhiyah) secara detail, dan mereka hidup secara kolektif di berbagai zawiyah, rubbat, dan khanoqoh, atau mengadakan perkumpulan rutin pada kesempatan-kesempat an tertentu, serta mengadakan majlis-majlis ilmu dan zikir secara teratur”.

Toriqoh ini setelah berjalan secara individu akhirnya menjadi sebuah tarbiyah tasawuf kolektif seperti madrasah spritual dalam dunia Islam. Dan dapat dinamakan sistem ini dengan “Tasawuf Amali (praktis) atau Thoriqoh Sufiyah. Syekh Abdul Qodir Jilani dalam hal ini merupakan orang pertama yang mendirikan metoda Thariqoh praktis ini.

IV. PENUTUP

Demikian, terjawablah sudah pertanyaan yang selama ini bergelayut di benak para peneliti dan pengkaji ilmu-ilmu keislaman, bahwa Tasawuf bukan susupan dari luar Islam, bahkan ia lahir dari dalam dan embrio Islam serta tumbuh besar di lingkungan Islam. Tasawuf adalah bagian misi Islam, salah satu rukun agama Islam, hakekat dari Syari’ah dan Thariqah, terminology ijtihad Islam dan berdasarkan dalil-dalil Islam Alqur’an, Hadis, Ijma dan QIyas serta lainnya. Semoga bermanfaat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: