SEKILAS MENGENAI ILMU TASAWUF (Bagian 2)

II. DEFINISI TASAWUF

A. ETIMOLOGI (Derivasi kata Tasauf).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tasawuf itu asli bahasa arab dan musytaq. Namun mereka berbeda pendapat dalam asal-usul isytiqoqnya, secara terperinci sebgai berikut:

1. Sufanah. artinya tanaman rumput yang menggumpal dan tampak bulu seperti wol. Sedangkan kata Sufani yang dinisbatkan pada sufi bukan bentuk qiyasnya. Kata sufanah adalah sejenis bunga atau tumbuhan ruana yang hidup di padang pasir. Ungkapan ini menunjukkan bahwa sufanah adalah tanaman langka padang pasir yang berbulu halus seperti wol. Pemilik pendapat ini menjastifikasikan sisi pandang mereka bahwa kaum sufi adalah orang yang merasa cukup dengan sedikitnya perhiasan dunia.

2. Suufah. gelar seorang lelaki di jaman jahiliyah, bernama Al-Ghaust bin murra bin Ad bin Tobihah bin ilyas bin Mudlor. Ibunya bernazar jika mempunyai anak akan dikhidmatkan sebagai penunggu Ka’bah, kemudian anak tersebut diletihkan oleh panasnya tempat itu, lalu ketika ibunya melihat Al-Gaust dalam keadaan seperti itu ia berkata: Anakku telah menjadi seorang sufah (ahli ibadah). Kemudian kata itu tersebar dari mulut ke mulut, akhrinya dijulukkan kepada Al-Gaust dan anak-anak setelahnya.

3. Suufatul Qofa. Rambut yang tumbuh atau mengumpul di belakang kepala. Menggambarkan karakter sufi yang lemah lembut, suka membantu/ringan tangan, dan rendah hati laksana bumi yang diinjak oleh orang yang baik dan buruk, dan bagaikan matahari yang terbit untuk semua yang baik dan buruk. Atau menggambarkan ke lenturan mereka menuju Allah Swt.

4. Shafful Awwal. Hal itu karena mereka berada pada baris terdepan di sisi Allah Swt dengan ketinggian semangat mereka, kepasrahan hati dan lubuk hati mereka kepada Allah Swt.

5. as-Sifah. Karena mengandung makna segala kebaikan, dan terhindar sifat-sifat tercela.

6. Shafaa (bersih). Hal itu karena kejernihan lubuk hati seorang sufi, dan kebersihannya.

7. Ahlu Shuffah. Ahlu suffah merupakan pendahulu kaum sufi. Generasi pertama dari tokoh-tokoh sufi, mereka adalah para shahabat yang fakir, mereka tinggal di masjid Rasulullah saw. mereka sejumlah empat ratus lelaki yang tidak memiliki tempat tinggal dan famili, kehidupan mereka hanya semata-mata beribadah saja kepada Allah Swt seperti halnya yang diinginkan para tokoh Tasawuf (rijaulttasawuf) pada masa-masa keIslaman berikutnya.

8. Shuuf. Adalah pakaian wol yang kasar, karena kaum sufi dahulunya lebih senang mengenakkan pakaian ini untuk menunjukkan hidup sederhana dan tidak mewah. Pendapat ini adalah mayoritas pendapat para peneliti seperti: Kalabazi, Ibnu Taimiyah, Sahrowardi, dan Ibnu Khaldun. Karena shuuf adalah pakaian para Nabi, simbol orang-orang salih, para wali, dan orang zuhud, mereka mengutamakan kesederhanaan, rendah hati, dan menghadap kepada Allah.

B. TERMINOLOGI

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa definisi Tasawuf banyak sekali, jika kita amati secara seksama definisi tersebut terbagi kepada tiga bagian:

1. Ta’rif Parsial

Adalah definisi yang melambangkan salah satu sisi dari kondisi orang-orang Sufi, dan ini banyak sekali, sejumlah kondisi yang terjadi pada setiap sufi, karena setiap seorang dari mereka memberika definisi Tasawuf adalah ungkapan dari apresiasi jiwanya (dzauq, wajad dan hal).

Kunci perbedaan istilah parsial ini terpulang kepada tingkatan pritual tokoh-tokoh tersebut dalam tangga-tangga suluk mereka; setiap seorang dari mereka menterjemahkan apa yang dirasakannya dalam tingkatan akhlaknya, dan sama sekali tidak akan kontradiksi kepada keadaan tokoh lain, karena hakikatnya satu, yaitu umpama sebuah taman yang lengkap terdapat berbagai keindahan, setiap seorang salik berdiri di bawah pohon di didalam taman tersebut kemudian masing-masing melukiskan keindahannya, maka tidak ada yang mengatakan bahwa di dalam taman itu hanya ada satu pohon.

Sehingga Imam as-Sahrawardi menuturkan bahwa Tasawuf ini memiliki lebih dari seribu definisi, bahkan Syekh Zarruq menyebutkan lebih dari duaribu. oleh karena berbeda-bedalah ungkapan tersebut, ada yang mengenalnya bahwa Tasawuf adalah Zuhud, Akhlaq serta Mujahadah dan lain-lain. Realitanya semua itu adalah satu definisi yang saling melengkapi dan menyempurnakan.

Definisi-definisi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam menurut karakteristik dominannya, sebagai berikut:

1.1. Terpokus pada Sisi Prakstis (amal), Yang memperhatikan mujahadatun nafs dan melawan hawa nasfu (syahwat). demikian itu seperti: zikir, muroqobah, muhasabah dan zuhud dari dunia. Diantara contoh definis ini:

A. Tasawuf adalah: meringankan isi perut dari beratnya makanan, serta berlindung diri kepada Allah dan meninggalkan manusia.

B. Tasawuf adalah: mengontrol panca indra serta memelihara nafasmu (waktu).

C. Imam Syazili berkata: Tasawuf adalah Training jiwa untuk beribadah, dan mengembalikannya kepada undang-undang Ketuhanan (Rububiyah).

D. Tasawuf adalah: Seorang hamba yang setiap saat menyibukkan diri dengan sesuatu lebih prioritas.

1.2. Sisi Moral (akhlak).

Aspek ini adalah salah satu rukun tasawuf terpenting. cotoh definisi ini:

A. Imam Junaidy ( – 297) berkata: Tasawuf adalah berhias dengan seluruh keluhuran akhlak dan meninggalkan semua akhlak rendah.

B. Tasawuf semuanya akhlak, barangsiapa yang bertambah akhlaknya maka bertambah pula ketasawufannya.

C. Imam Harawi Al-Anshari berkata: Para pakar Tasawuf telah sepakat, bahwa tasawuf itu adalah akhlak.

1.3. Sisi ‘Irfani (makrifat)

Yaitu pengetahuan yang bersumber dari ilham dan apresiasi kebersihan jiwa (Makrifat ilhamiyah Zauqiyah) yang menjadi tumpuan kebanggaan kaum sufi.

Salah satu definisi tersebut sebagaimana yang dikatan Imam Junaidy Al-Bagdadi, Tasawuf adalah bahwa Allah mematikan nafsumu dan menghidupkanmu dengan (kekuatannya) -NYA.

Imam Al-Afifi berkata: Tasawuf adalah “tidak ada” (menghilangkan sifat basyari’ah) dan “ada” (menyaksikan keesaan wujud Allah), yakni merasa tidak memiliki wujud, kemudian wujudnya karena adanya wujud Allah.

Al-‘Athar berkata: Tasawuf adalah buah amal dan hal, bukan hasil dari hapalan dan perkataan; Ia adalah dari persaksian hati bukan penjelasaan lisan; dari asraar (dalam lubuk hati) bukan pengulangan (pengulangan fisik); dan dari ilmu ladunni (pemberian Allah), dan bukan kasbi (usaha manusia).

2. Definisi Semi Komprehensif

Yaitu definisi yang tidak mencapai cakupan komprehensif. diantaranya definisi Imam al-Sahrawardi: Tasawuf pertamanya ilmu, kedua amal dan akhirnya mawhibah (pemberian) dari Allah SWT.

3. Definisi Komprehensif

Definisi pilihan yang komprehensif dan global, yaitu menurut Imam al-Kattani: bahwa Tasawauf adalah “Kebersihan (as-Shafaa) dan Musyahadah”.

Kata as-shafa mencakuf dampak dari rangkaian upaya pembersihan diri adalah sebuah pemberian dari Allah, meliputi sisi keluhuran moral dan menyangkut ibadah, zuhud, mujahadah, ikhlas, ridla dan tawakal.

Adapun musyahadah, mencakup seluruh kondisi ruhiyah serta seluruh dampak yang menjadi keistimewaan orang-orang Sufi dengan kema’rifatan dan kecerdasan spiritual mereka.

Bersmabung ke bagian 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: