Pengendalian Diri dan Pengaruhnya dalam Menerima Hukum-hukum Allah

Dari Buku “Muhasabah Diri” karya Imam Tirmidzi:

Orang-orang yang diberi pemahaman oleh Allah selalu berusaha mengendalikan dan mengintrospeksi dirinya. Mereka berujar, “Bagaimana caranya agar kami tidak berduka cita atas hilangnya kekayaan dan kenikmatan duniawiyah, dan bagaimana caranya agar kami tidak banyak mengangankan kesenangan duniawiyah ini?” Mereka mencari sebab darimana datangnya bahaya yang menimpa mereka (yang disebabkan keinginan duniawiyah). Mereka dapati bahwa ketika diri mereka menginginkan sesuatu, mereka mengatakan dan mengangankannya kemudian berusaha mencari dan mendapatkannya sekuat tenaga, mereka berikan harapan pada diri mereka akan keberhasilan mendapatkannya.

Ternyata ketika mereka tidak berhasil meraihnya, mereka bersedih dan berduka atasnya. Akhirnya mereka dapat memahami bahwa sedih dan duka ini diakibatkan oleh angan-angan untuk mendapatkan keinginan tersebut, juga karena mereka memberikan suatu harapan pada diri mereka akan keberhasilan mendapatkannya. Akibatnya, diri mereka terlanjurmerasa senang jika keinginan tersebut tercapai, dari sini semakin kuatlah nafsu untuk mendapatkannya.

(Setelah memahami hakikat ini) akhirnya mereka berusaha mengendalikan diri dengan cara meninggalkan keinginan-keinginan dan memutus angan-angan sehingga padamlah api syahwat dan keinginan dalam diri mereka. Mereka berusaha melawan hawa nafsu dan ajakannya hingga akhirnya hawa nafsu pun tunduk. Jika datang suatu perkara atau terlintas suatu keinginan dalam hati, mereka tidak mengangankannya juga tidak memberikan suatu harapan, mereka menunggu kepastian takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, mereka menyerahkan semua urusan pada Allah, tunduk pada kebijaksanaan Allah Swt seperti tunduknya seorang hamba pada tuannya.

Maka (dengan sebab ini) mereka dapat hidup di dunia ini dengan mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya, dengan kedudukan yang paling mulia, hati yang sangat tenang dan kehidupan yang bahagia dan tentram di bawahnaungan agama Islam. Mereka mati (dari segala keinginan dan angan-angan duniawiyah) dengan membawa kesenangan dan kebahagiaan, sehingga mereka dapat berjumpa dengan Tuhan yang tidak murka. Mereka ridha terhadap Allah, dan Allah pun ridha terhadap mereka. Mereka diberi pertolongan, kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati dan kemenangan terhadap musuh di dunia ini, dan mendapat kedekatan serta kasih sayang Allah di akhirat nanti.

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung.” (QS Al Mujaadalah [58]:22)“Para kekasih Allah, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita.”(QS Yunus [10]:62.

Hati mereka bercahaya oleh keyakinan, sehingga keadaan mereka tidak berubah walaupun ketika mendapat musibah. Setiap mereka mendapat kesulitan atau kemudahan, rasa takut atau rasa aman, hina atau mulia, musibah atau kenikmatan, mata hati mereka akan segera melihat bahwa hal yang menimpa mereka memang telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana yang mereka alami saat itu, dan hal ini sudah menjadi ketetapan dari Allah Swt. Dalam diri mereka tidak ada keinginan atau hawa nafsu yang memberatkan mereka dalam menerima ketetapan Allah ini. Mereka menyambut ketetapan-Nya dengan wajah yang riang gembira dan berseri-seri. Mereka adalah orang-orang yang selalu rela dan bersabar.

Kebalikan dari mereka adalah orang-orang yang menerima ketetapan dari Allah dengan rasa tidak senang dan berat hati. Hal ini disebabkan karena keinginan mereka masih kuat dan hidup dalam diri mereka, ditambah dengan keyakinan yang lemah sehingga mereka tidak melihat adanya kehendak dan kasih sayang Allah pada mereka dalam menetapkan perkara tersebut. Mereka tidak merasakan adanya kenikmatan dalam menerima kehendak Allah ini. Kenikmatan menerima kehendak (yang seharusnya mereka rasakan) telah bercampur dengan pahitnya nafsu, sehingga kenikmatan tersebut lenyap terbawa pahitnya hawa nafsu, sebagaimana halnya kamu menemukan pahitnya obat, lalu kamu mencampurnya dengan madu atau gula dan sebagainya sehingga dapat mengalahkan rasa pahit serta menghilangkannya.

Kenikmatan menerima kehendak Allah Swt dalam hatimu hanya dapat dirasakan sebatas kadar cintamu kepada-Nya. Dan kadar cintamu kepada-Nya dapat kau rasakan sejauh kadar ma’rifat (pengetahuan)mu akan kekuasaan-Nya. Semakin kamu mengenal-Nya bahwa Allah Swt adalah Yang Tertinggi di atas apapun maka semakin tinggilah kedudukan-Nya dalam dirimu, dan semakin cintalah kamu terhadap-Nya. Oleh karena itu, pepatah mengatakan, “Orang yang paling mencintai Allah adalah orang yang paling mengetahui-Nya dan paling mengenal-Nya.” Dalam hal ini Badil Al ‘Uqaili berkata, “Barangsiapa mengenal Allah, ia akan mencintai-Nya. Dan barangsiapa mengenal dunia ini, maka ia akan bersikap zuhud terhadapnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak).

Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah, “Hajjaj bin Farafishah menyitir perkataan Badil rahimahullah berikut ini, ‘Barangsiapa tidak mampu mengendalikan diri, maka ia hanya dapat menerima segala ketetapan dan kehendak Allah sebatas keimanannya saja, ia dapat
bersabar atas segala perkaranya sebatas ketakwaannya saja dengan dipenuhi rasa berat hati serta kehidupan yang susah dan sulit.

Dan barangsiapa mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya, maka nafsunya akan tunduk serta terlepas dari perangai buruknya dan Allah akan memberinya pertolongan serta menepati janji-Nya.” Hal ini sesuai dengan penjelasan Allah Swt dalam Al Qur’an berikut : “Berjuanglah di jalan Allah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya…”(QS Al Hajj [22]:78)

Dalam ayat di atas Allah memerintahkan untuk berjuang melawan nafsu dan melepaskan diri dari akhlak yang tercela, yang selalu menginginkan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan Allah Swt. Jika sekiranya Allah membiarkan kita dengan perintah-Nya (dalam ayat) ini saja, niscaya perintah-Nya ini merupakan perintah yang agung dan dahsyat. Tetapi Allah menjanjikan dalam ayat lain bahwa Dia akan memberikan keselamatan, kekuatan dan pertolongan serta petunjuk sesuai dengan firman-Nya: “Orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan pada jalan-jalan Kami kepada mereka. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al ‘Ankabuut [29]:69) Allah-lah yang memberimu petunjuk, Dia selalu bersamamu, memberi pertolongan dan kekuatan. Kasih sayang-Nya amat dekat denganmu. Siapa lagi yang memberimu kekuatan dan Siapa lagi yang dapat menemukanmu? (Hanya Allah semata!)

1 Comment (+add yours?)

  1. novi
    Sep 27, 2012 @ 07:12:08

    izin copy ya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: