Khusyu dan Husnul Khuluk (Akhlak Baik), Dua Kunci Ketenangan Jiwa.

Dalam sejarah, tercatat bahwa seorang Rasulullah SAW yang mulia, pernah dilempari batu, dihormati, diguyur kotoran ternak, dicintai, diasingkan, diteladani, difitnah, dijunjung, ditinggalkan oleh anak laki-laki semata wayang, diliciki, berperang hingga berdarah-darah, berdakwah walau dihina, diteladani hingga ratusan tahun setelah beliau wafat, menjadi yatim piatu, dan sebagainya. Ada apa dengan kemampuan beliau menghadapi semuanya dengan senantiasa muthmainnah (berjiwa tenang) dalam mengarungi pasang surut ekstrim dalam hidupnya tersebut?
Tidakkah kita juga berhadapan dengan dunia beserta semua kerumitan dan masalah masing-masing? Bagaimana caranya kita bisa setangguh beliau?

Kekhusyuan dan akhlak baiknya, adalah kunci ketangguhan beliau.
Menurut kamus Indonesia, khusyu berarti penuh penyerahan dan kebulatan hati; sungguh-sungguh; penuh kerendahan hati.
2:45 Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
2:46 (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Sholat adalah dialog tertinggi antara hamba dan Allah SWT. Sholat yang diterima adalah sholat yang khusyu. Diawali dengan niat yang bulat, maka kita menghadirkan keseluruhan diri kita, baik jiwa maupun raga, di ruang, tempat dan waktu saat kita melaksanakan solat. Mata sebaiknya tidak menutup tapi terpusat di satu titik tempat sujud kita. Pikiran tidak melayang kemana-mana. Bila ada bagian tubuh yang gatal, maka kita tidak menggaruknya dengan gerakan berlebihan. Bila anak menangis, maka kita menggendongnya sambil meneruskan solat kita. Demikianlah penjabaran dari khusyu itu sendiri. Namun, seperti diungkap di atas, khusyu itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang meyakini, mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Dengan keyakinan seperti itulah, Rasulullah melaksanakan solat yang khusyu.

Kekhusyuan ini, adalah perilaku yang datang dari dalam diri, terpancar ke raga dalam kekhusyuan menghadapi lingkungan lengkap dengan apa-apa yang ada atau hadir di sana. Diberitakan bahwa salah satu adab beliau SAW adalah senantiasa menghadapkan seluruh wajah dan tubuh beliau pada orang yang sedang berurusan atau berbicara dengannya. Sikap ini adalah perpanjangan kekhusuan dalam solat, yang termanifestasi dalam kekhusyuan di luar solat. Beliau SAW menghadapkan seluruh niat dan perhatiannya, pada orang yang sedang berhubungan dengan beliau. Jiwa raga beliau hadir di ruang, tempat dan waktu saat terjadi interaksi. Tidak aneh, bahwa setiap orang yang berurusan dengan Rasulullah SAW, merasa dia adalah orang terpenting di hadapan beliau. Kekhusyuan beliau, telah membuat orang tersebut menjadi pusat perhatian Rasulullah SAW semata-mata.

Kekhusyuan adalah modal besar dalam menghadiri kehidupan yang penuh tantangan. Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan nama Allah, meniatkan lillahi ta’ala, kemudian pikiran dan daya kita fokuskan pada pelaksanaan kerja, dengan penuh penyerahan diri. Dengan sikap seperti ini, apa pun yang hadir dan terjadi dalam kehidupan, apakah itu baik maupun “buruk”, apakah itu direncanakan atau tidak, apakah itu menyenangkan atau menyedihkan, maka kita bisa mengalami semua itu dengan tenang. Karena kita juga tahu,bahwa kita telah memulainya dengan niat lillahita’ala. Khusyu, pada apa pun yang telah dihadirkanNya di hadapan kita..

Seseorang yang bisa khusyu di dalam dan di luar solat, adalah seseorang yang kuat menghadapi apa pun yang terjadi di hadapannya. Niatnya jelas untuk Allah SWT. Dia tidak akan lari dari masalah atau terbakar oleh masalah, karena dia telah menyerahkan dirinya pada Allah SWT. Dia akan khusyu menjalani semuanya.

Maka tak heran, Rasulullah dan seluruh nabi-nabi dalam Al-Quran dan Al-Kitab, mampu dan berani menjalani segala tantangan kehidupan, tidak peduli bagaimana menyedihkan, memilukan, memalukan, menyengsarakan, setiap episode yang harus dijalani. Kekhusyuan para jiwa yang mulia ini, telah menghantarkan mereka untuk bertahan dan sukses dalam kehidupan, dan berakhir dengan husnul khatimah (akhir yang baik).

Kunci ketenangan jiwa yang kedua, adalah Akhlak yang baik. Akhlak, menurut kamus bahasa Indonesia berarti budi pekerti, kelakuan, etika. Akhlak yang baik, berarti adalah budi pekerti yang baik, kelakuan yang baik, etika yang baik. Inti dari pelajaran akhlak itu sendiri, adalah bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, agar:
1. Orang lain tidak terzolimi dengan apa-apa yang keluar dari dalam diri kita, baik itu dalam bentuk pikiran, kata,tulisan, tindakan maupun perbuatan/perilaku.
2. Orang lain akan merasa lebih nyaman berinteraksi dengan kita karenanya, sehingga, semoga orang tersebut juga menghindari mendzolimi kita melalui pikiran, kata,tulisan, tindakan maupun perbuatan/perilaku.
Bila pun ternyata orang tersebut tetap menzalimi kita, maka kita bisa menjalani kezaliman itu dengan terus khusyu; penuh penyerahan dan kebulatan hati; sungguh-sungguh; penuh kerendahan hati. Terus fokus pada ruang, tempat dan waktu saat kejadian itu terjadi, dan berusaha mencari penyelesaian dengan niat semata-mata karena untuk menyenangkan Allah.

Pada saat seseorang bisa mengalami kejadian apa pun yang hadir di hadapannya dengan kekhusyuan, maka ia telah mendapatkan setengah kunci ketenangan dan kebahagiaan jiwa. Ketika ia melahirkan perbuatan dan interaksi terhadap orang lain, berdasarkan akhlak yang baik sehingga orang yang berinteraksi merasa nyaman karenanya, maka ia telah mendapatkan setengah kunci yang lain. Orang lain ini tidak usah jauh-jauh, bisa jadi itu anak kita, keluarga, teman, rekan bisnis, dan sebagainya.

Bila semua orang dalam sebuah kelompok, masyarakat, paguyuban, perkumpulan, desa, kecamatan, kabupaten, kotamadya, propinsi, Negara, dan dunia, menjalankan kedua hal tersebut, wah…bayangkan betapa tentram dan bahagianya dunia.

Bukankah kita ingin bahagia, ingin tenang dan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini, baik di dunia maupun di akhirat? Bukankah kita ingin meniru ketangguhan Rasulullah SAW menghadapi naik turunnya kehidupan?

Selanjutnya….

Maka mari, kita mulai belajar khusyu dan belajar berakhlak baik….

Wassalam,
Ranti
Tulisan ini terinspirasi dari karya Ron L.Hubbard, tentang Dua Kunci Kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: