Fisika dan Sufi

Fisika Modern Bersua Sufisme

Oleh: Muhammad Hikam

Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan
Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al
nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari
akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan
spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk
menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari
partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai
benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan
dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat
diterangkan secara rasional.

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau
menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang
egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti
meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian,
mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya
berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk
bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama
kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat
sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau
pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan
hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal
yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di
Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua
jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu
maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya,
perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klasik
(Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme.
Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi
banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan
Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu realitas
yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan
yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang
tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman
manusia.

Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada
baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep
filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik.
Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti
filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena
yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum
Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan
diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka
perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat
ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana
seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam
tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan
Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau
matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil
pengamatan.

Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu
kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa.
Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan
analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta
merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat
diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa,
roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi
dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan.
Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi
sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untuk
berputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.

Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia
makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan
kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh,
Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada
skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah dua
cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh Bohr,
Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang
diungkapkan Einstein.

Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan
peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah
melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada
gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan
informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk
menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh
gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman
besar) dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.

Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang
prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil
eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan
terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam dunia sub-atomik,
hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel
diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut
indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi
dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah
dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger
menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah
persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi
informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen
benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut
meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah
ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen
dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan
secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan kucing
Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan skizofrenik
sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini merupakan bahasa
metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan “yang
sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang
bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori
Kuantum.

Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir
ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun
teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru
merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum,
sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan
Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu
dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun
“agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia
mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang akan
diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh pengamat atau
dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitian sosial
tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatu
benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh
karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran
(consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa
pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.

Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme
atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan
syair Rumi:

“Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai”.

Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:

“Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non
eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari
itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq,
namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini
makhluk, namun ini bukan makhluk”.

Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan
Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum
yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga mati, mati yang juga
hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat
suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang.
Dalam hal ini -secara matematik- ada bagian yang berada di luar kerucut
ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang
kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. Hal ini juga
didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation
atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun
1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal
ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju
ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”

Rumi menulis dalam puisi yang lain “Sang Sufi bermi’raj ke ‘Arsy dalam
sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.”
Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak sombong dari Sang
Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan konsep relativitas
pada Fisika modern.

Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15
trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan -big bang- dan galaksi-galaksi
tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh
sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali.
Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun
beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara
terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru,
tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang berekspansi terdiri
dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke
keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.

Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan
terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib,
pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat
mempengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal
usul semesta.

Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi
yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang
sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia
atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini merupakan harta
tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah
telah berkata “Aku adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku
ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui”

Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun
mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan kontribusi
penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam
kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis yang dapat
ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?

Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di
Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu
energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat
real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi
sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada
dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa
para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang
berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan
sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidak
mengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan
sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat
melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori
Kuantum bahwa kesadaran dapat mempengaruhi materi (mind over matter).

Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan.
Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi secara
seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.

Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Hikam
Staf Pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Penelaah
Naqshbandi-Haqqani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: