Adab Hutang Piutang

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menghilangkan
satu kesusahan di antara sekian banyak kesusahan dunia dari seorang muslim,
niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari sekian banyak
kesusahan hari kiamat; barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang
didera kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di
akhirat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut
selalu menolong saudaranya.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1888, Muslim IV:
2047 no: 2699, Tirmidzi IV: 265 no: 4015, ‘Aunul Ma’bud XIII: 289 no: 4925).
Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim
memberi pinjaman kepada orang muslim yang lain dua kali, melainkan pinjaman
itu (berkedudukan) seperti shadaqah sekali.” (Hasan: Irwa-ul Ghalil no: 1389
dan Ibnu Majah II: 812 no: 2430).

Dari Tsauban, mantan budak Rasulullah, dari Rasulullah saw, bahwa Beliau
bersabda, “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan
terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong,
(kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (Shahih: Shahih
Ibnu Majah no: 1956, Ibnu Majah II: 806 no: 2412, Tirmidzi III: 68 no:
1621).

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jiwa orang mukmin
bergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (Shahih: Shahihul Jami’ no: 6779
al-Misykah no: 2915 dan Tirmidzi II: 270 no: 1084).

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia
dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka
dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada
lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1985,
Ibnu Majah II: 807 no: 2414).

Dari Abu Qatadah ra bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah
para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan
iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. Kemudian berdirilah
seorang sahabat, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika
aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka
jawab Rasulullah saw kepadanya “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam
keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian
Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang, karena sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam
menyampaikan hal itu kepadaku.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1197, Muslim
III; 1501 no: 1885, Tirmidzi III: 127 no: 1765 dan Nasa’i VI: 34).

Dari Abi Hurairah ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Barangsiapa mengambil
harta orang lain dengan niat hendak menunaikannya, niscaya Allah akan
menunaikannya, dan barang siapa yang mengambilnya dengan niat hendak
merusaknya, niscaya Allah akan merusakkan dirinya.” (Shahih: Shahihul Jami’
no: 598 dan Fathul Bari V: 53 no: 2387).

Dari Syu’aib bin Amr, ia berkata: Shuhaibul Khair ra telah bercerita kepada
kami, dari Rasulullah saw, bahwasannya Beliau bersabda, “Setiap orang yang
menerima pinjaman dan ia bertekad untuk tidak membayarnya, niscaya ia
bertemu Allah (kelak) sebagai pencuri.” (Hasan Shahih: Shahihul Ibnu Majah
no: 1954 dan Ibnu Majah II: 805 no: 2410).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Adalah Nabi saw pernah mempunyai
tanggungan berupa unta yang berumur satu tahun kepada seorang laki-laki.
Kemudian ia datang menemui Nabi saw lalu menagihnya. Maka Beliau bersabda
kepada para Shahabat, “Bayar (hutangku) kepadanya.” Kemudian mereka mencari
unta yang berusia setahun, ternyata tidak mendapatkannya, melainkan yang
lebih tua. Kemudian Beliau bersabda, “Bayarkanlah kepadanya.” Lalu jawab
laki-laki itu, “Engkau membayar (hutangmu) kepadaku (dengan lebih sempurna),
niscaya Allah menyempurnakan karunia-Nya kepadamu.” Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang terbaik di
antara kamu dalam membayar hutang.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 225, Fathul
Bari IV: 58 no: 2393, Muslim III: 1225 no: 1601, Nasa’i VII: 291 dan
Tirmidzi II: 389 no: 1330 secara ringkas).

Dari Jabir bin Abdullah ra, ia berkata, “Saya pernah menemui Nabi saw di
dalam masjid Mis’ar berkata, “Saya berpendapat dia (Jabir) berkata: Di waktu
shalat dhuha, kemudian Rasulullah bersabda, “Shalatlah dua raka’at.” Dan
Rasulullah pernah mempunyai tanggungan hutang kepadaku, lalu Rasulullah
membayar lebih kepadaku.” (Shahih: Fathul Bari V: 59 no: 2394, ‘Aunul
Manusia’bud IX: 197 no: 3331 kalimat terakhir saja).

Dari Isma’il bin Ibrahim bin Abdullah bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi dari
bapaknya dari datuknya, bahwa Nabi saw pernah meminjam uang kepadanya pada
waktu perang Hunain sebesar tiga puluh atau empat puluh ribu. Tatkala Beliau
tiba (di Madinah), Beliau membayarnya kepadanya. Kemudian Nabi saw bersabda
kepadanya, “Mudah-mudahan Allah memberi barakah kepadamu pada keluarga dan
harta kekayaanmu; karena sesungguhnya pembayaran hutang itu hanyalah
pelunasan dan ucapan syukur alhamdulillah.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:
1968 dan Ibnu Majah II: 809 no: 2424, dan Nasa’i VII: 314).

Dari Ibnu Umar dan Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa
menuntut haknya, maka tuntutlah dengan cara yang baik, baik ia membayar
ataupun tidak bayar.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1965 dan Ibnu Majah II:
809 no: 2421).

Dari Hudzaifah ra, ia berkata: Saya pernah mendengar Nabi saw bersabda,
“Telah meninggal dunia seorang laki-laki.” Kemudian ia ditanya, “Apakah yang
pernah engkau katakan (perbuat) dahulu?” Jawab Beliau, “Saya pernah berjual
beli dengan orang-orang, lalu saya menagih hutang kepada orang yang
berkelapangan dan memberi kelonggaran kepada orang berada dalam kesempitan,
maka diampunilah dosa-dosanya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan
Fathul Bari V: 58 no: 2391).

Dari Abul Yusri, sahabat Nabi saw, bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dalam naungan-Nya (pada hari kiamat),
maka hendaklah memberi tangguh kepada orang yang berada dalam kesempitan
atau bebaskan darinya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1963 dan Ibnu Majah
II: 808 no: 2419).

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Penundaan orang yang
mampu adalah suatu kezhaliman.” (Muttfaaqun ‘alaih: Fathul Bari V: 61 no:
2400, Muslim III: 1197 no: 1564 ‘Aunul Ma’bud IX: 195 no: 3329, Tirmidzi II:
386 no: 1323, Nasa’I VII: 317 dan Ibnu Majah II: 803 no: 2403).

Dari Amr bin asy-Syuraid dari bapaknya Rasulullah saw bersabda, “Penundaan
orang yang mampu (membayar) dapat menghalalkan kehormatannya dan pemberian
sanksi kepadanya.” (Hasan: Shahih Nasa’i no: 4373, Nasa’i VII: 317, Ibnu
Majah II: 811 no: 2427, ‘Aunul Ma’bud X: 56 no: 3611 dan Bukhari secara mu’allaq
lihat Fathul Bari V: 62).

Dari Abu Buraidah (bin Abi Musa), ia bercerita, “Saya pernah datang di
Madinah, lalu bertemu dengan Abdullah bin Salam. Kemudian ia berkata
kepadaku, “Marilah pergi bersamaku ke rumahku, saya akan memberimu minum
dengan sebuah gelas yang pernah dipakai minum Rasulullah saw dan kamu bisa
shalat di sebuah masjid yang Beliau pernah shalat padanya.” Kemudian aku
pergi bersamanya (ke rumahnya), lalu (di sana) ia memberiku minum dengan
minuman yang dicampur tepung gandum dan memberiku makan dengan tamar, dan
aku shalat di masjidnya. Kemudian ia menyatakan kepadaku, “Sesungguhnya
engkau berada di tempat di mana praktik riba merajalela, dan di antara
pintu-pintu riba adalah seorang di antara kamu yang memberi pinjaman (kepada
orang lain) sampai batas waktu (tertentu), kemudian apabila batas waktunya
sudah tiba, orang yang menerima pinjaman itu datang kepadanya dengan membawa
sekeranjang (makanan) sebagai hadiah, maka hendaklah engkau menghindar dari
sekeranjang (makanan) itu dan apa yang ada di dalamnya.” (Shahih: Irwa-ul
Ghalil V: 235 dan Baihaqi V: 349).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: