“Solusi Sufi Atas Aliran Sesat …”

“Solusi Sufi Atas Aliran Sesat …”
wawancara Prof. DR. Nasaruddin Umar, Dengan Cahaya Sufi
http://www.sufinews.com

Sejarah perjalanan agama-agama, terutama di Indonesia, banyak mencatat
ketegangan-ketegangan, yang berakhir dengan pertumpahan darah antar
sesama pemeluk agama. Atas nama agama, masing-masing kelompok merasa diri
paling benar sambil memurtadkan atau mengkafirkan satu sama lainnya.
Dogma agama pun menjadi semacam tabuhan genderang perang yang setiap saat
dan dimana tempat absah ditabuh, bendera-bendera berani mati pun
dikibarkan.

Lalu lahir sikap antoginistik yang berujung pada kebodohan. Dan kebodohan
itu sendiri kemudian menciptakan prilaku anti kemanusiaan dan anti
ketuhanan. Maka apa namanya jika ada sekelompok orang (yang merasa
paling) beragama berperilaku antagonis terhadap aliran tertentu yang
dianggapnya sesat, sambil berteriak Allahu Akbar, Allahu Akbar mereka
merusak asset dan harta benda kelompok lain yang dianggap sesat, sebut
saja misalnya tragedi “Parung Kelabu” yang menimpa kelompok Ahmadiyah
beberapa waktu lalu.

Tanpa bermaksud membela atau menyalahkan salah satu pihak, seharusnya
setiap perbedaan pandangan dapat dijadikan sebagai sebuah proses alamiah
dan ilmiah, bagi terciptanya pengayaan khazanah nalar dan ruhani. Sebab
jauh-jauh hari Nabi S.a.w. telah mewasiatkan kepada umat ini bahwa
perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat. Sungguh, kemuliaan umat ini
tak kan pernah menjadi rahmatanlil’aalaamiin sepanjang umat tetap
berpandangan picik terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dan yang bakal
muncul dikemudian hari. Berikut wawancara Cahaya Sufi bersama Prof. DR.
Nasaruddin Umar, MA – Pakar Tasawuf seputar Solusi Sufi Atas
Aliran-Aliran Agama Yang Dianggap Sesat:

Anda bisa sampaikan sikap seorang Sufi dalam menyikapi
perbedaan-perbedaan yang ada ditengah kehidupan ?

Kaum Sufi sangat anti kekerasan. Mereka menjawab perbedan-perbedaan yang
ada dengan sikap tawakkul dan taslim. Tawakkul itu adalah keyakinan
berdasarkan pengetahuan. Sedangkan taslim itu merupakan bentuk penyerahan
diri kepada Allah tanpa syarat.

Seperti apa jelasnya ?

Seperti yang dilakukan Ibrahim al-Khawwas yang kemana-mana senantiasa
membawa jarum, benang, gunting dan sebuah ember kecil ditangan. Ketika
ditanya oleh seseorang kenapa ia selalu menenteng benda-benda tersebut,
padahal al-Khawwas seorang yang amat terkenal kepasrahannya kepada Allah.

Ibrahim menjawab bahwa ember kecil ditangannya digunakan untuk mengambil
air wudhu. Ia pun menjelaskan bahwa ia tak memiliki apa-apa kecuali
sepotong jubah yang mudah sobek. Jarum, benang dan gunting digunakan
untuk menjahit pakaiannya yang mudah robek. Jika ia tidak membawa
gunting, jarum dan benang, niscaya auratnya akan terbuka dan shalatnya
pasti tak bakal diterima Allah.

Seorang Sufi tidak menutup mata atas gejolak sosial ?

O, tidak ! seorang Sufi juga dituntut tanggungjawab sosialnya. Tapi, ya
harus disesuaikan dengan kapasitas masing-masing Sufi.

Termasuk dalam persoalan Ahmadiyah beberapa bulan lalu?
Ahmadiyah-kah, JIL (Jaringan Islam Liberal) kah, Israel-kah, Zionis-kah
atau apapun persoalannya, seorang Sufi akan mengambil sikap yang
sebanding lurus antara langkah-langkah riil dengan pasrah dan doa.
Seorang Sufi menghindari sikap black or white dalam menyelesaikan
masalah. Seorang Sufi sadar bahwa masyarakat pluralistik butuh pendekatan
yang non fiqh semata. Seorang Sufi pasti menghindari cara-cara anarkhis
dalam menyelesaikan satu masalah.

Tapi kalau kita mau menengok kebelakang, keberadaan Ahmadiyah juga
memiliki kekuatan hukum baik dalam UUD 1945 maupun surat izin yang
dikeluarkan Departemen Kehakiman ditahun 1953. Bagaimana ini?
Ketika saya katakan sebuah pendekatan yang non fiqh, itu artinya
pendekatannya tidak semata-mata hukum atau undang-undang saja. Dekati
mereka, ajak diskusi mereka, doakan mereka. Dan yang perlu kita ingat,
bahwa hanya Allah saja yang memiliki hak perogratif apakah seseorang
beroleh hidayah atau tidak.

Bukan malah buang-buang waktu keterangan anda diatas, padahal masih
banyak persoalan yang harus diselesaikan bangsa ini ?

Kita enggak boleh putus asa. Era kesementaraan harus dilewati, kita harus
optimis. Pokoknya besok, lebih baik dari yang hari ini, dengan doa
bersama, insyaallaah. Sebab kalo kita putus asa masalah yang sedang dan
bakal kita hadapi akan bertambah kuat.

Doa bersama? Bukankah Indonesia Berdzikir rutin dilakukan di masjid
Istiqlal? Bukankah Kursus Spiritual marak dimana-mana? Bukankah Menejemen
Qalbu juga sedang trend? tapi… (Prof.DR.Nazar memotong)

Ya, saya mengerti kemana alur pertanyaan anda. Oase spiritual seperti itu
(Indonesia Berdzikir, Kursus Spiritual dan Menejemen Qalbu; red) harus
ada ditengah kota. Jadi saya kira anda tidak perlu memandang sebelah
mata. Jangan iri melihat orang berhasil mengumpulkan massa seperti itu.
Jangan-jangan kita enggak sanggup melakukan seperti itu, lantas kita
mencemooh mereka. Segala yang positif itu harus didukung. Kalau
teman-teman kita terbukti lebih banyak menyadarkan orang ketimbang
menyesatkan orang, kenapa harus dicegah? Iya kan?

Maaf, dalam dunia tashawwuf kita mengenal kategorisasi amal dan ahwal.
Amal adalah prilaku lahiriah sedang ahwal adalah perilaku qalbu yang
sekaligus merupakan rasa (dzauq) yang berkaitan dengan intisari (sasmita)
ketuhanan. Kami mengamati pada kegiatan-kegiatan diatas, jamaah atau
peserta tidak disiapkan landasan pendaratan rasa (dzauq) yang
sesungguhnya, sehingga ketika keluar dari majelis atau tempat kursus
semacam itu, jamaah atau peserta dihadapkan pada dua pilihan; pertama,
kembali kepada karakter negatif yang mendominasi dirinya atau ia terjebak
pada ghurur (tipuan makhluk halus yang seolah-olah merupakan sasmita
Tuhan). Bagaimana ini?

Saya tidak mau melihat kekurangan orang lain. Tapi kalau saya boleh
memberi masukan pada teman-teman yang anda maksud, mereka harusnya
membekali jamaahnya tidak melulu pada aspek intelektualnya semata atau
ruhaninya saja, tapi kedua-duanya harus dibekali agar dapat mempersempit
ruang nafsu dan ghurur (tipudaya) bermain didalam setiap diri. Sehingga
yang didapat jamaah bukan emosional sesaat seperti menangis yang
tersedu-sedu atau penyesalan yang mengharubiru, tapi sesudah itu mereka
kembali menjadi buas. Na’udzubillah..! Saatnya, teman-teman memiliki
referensi yang mu’tabar agar kemunculan mereka saat ini bukan sesuatu
yang sporadis sifatnya.

Lantas apa lagi yang dilakukan seorang Sufi menghadapi kontroversi aliran
sesat ?

Kemunculan kelompok-kelompok yang dianggap sesat lebih disebabkan karena
telah mensosialisasikan sikap over maskulin, baik oleh negara maupun oleh
pemeluk satu agama. Sikap yang over maskulin ini lalu memunculkan
arogansi kekuasaan dan memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Lalu
lahirlah dalam format politik apa yang disebut “ektremis” yang dalam
format religi sering diistilahkan dengan “murtad” atau “sesat”. Tugas
seorang Sufi berikutnya melempar fibrasi cinta kasih dan menghembuskan
arrohman-arrahim pada setiap fakultas-fakultas jiwa setiap manusia dalam
setiap space kehidupan ini. Dari sini lalu lahir ikhtilaafu ummatii
rahmah, perbedaan ditengah umat adalah rahmat, yang menghantarkan setiap
kita dapat memahami pesan-pesan Tuhan, bekal dari sebuah peradaban umat
yang tercerahkan dimasa mendatang.

1 Comment (+add yours?)

  1. wongsasak
    May 07, 2011 @ 02:52:01

    saya setuju.
    alhamdulillah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: