Mencari Saudara di Alam Kubur

“Ali bi Abi Tholib ra. me;ewati Sebuah Kubur”

*) Kumail ra. bercerita:

“Pada suatu hari saya berjalan-jalan bersama Sayyidina Ali ra. ke arah hutan. Dia mendekati tanah pekuburan yang terdapat di situ sambil berkata, ‘Wahai ahli kubur! Wahai kamu yang menghuni tempat yang sunyi ini! Bagaimanakah keadaan kamu di alam sana? Setahu kami segala harta peninggalanmu telah habis dibagi-bagikan; anak-anak telah menjadi yatim; dan janda-janda yang kamu tinggalkan telah menikah lagi. Sekarang ceritakanlah sedikit mengenai dirimu!’

Kemudian sambil menoleh ke arah saya , beliau berkata, ‘Wahai Kumail, seandainya mereka dapat bicara, sudah tentu mereka akan mengatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah ‘taqwa.’

Setelah berkata demikian, beliau menangis. Katanya lagi, ‘Wahai Kumail! Kubur adalah kotak tempat menyimpan amal. Dan hal ini akan diketahui setelah kematian menjemput kita’.”

*) Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Nabi Saw. bersabda:

“Tiga hal yang mengikuti seseorang ke kuburnya, yaitu: harta bendanya; kaum kerabatnya; dan amal perbuatannya. Harta dan kerabatnya akan kembali setelah upacara penguburan; dan yang tetap tinggal bersamanya hanyalah amal perbuatannya saja.”

*) Dalam hadits lain dikisahkan, pada suatu hari Rosulullaah Saw. bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kamu tentang permisalan hubunganmu dengan saudaramu?”

Para sahabat pun semuanya ingin mendengarkan penjelasan beliau.

Kemudian Rosulullaah Saw. bersabda,

“Hubunganmu dengan semua seperti seorang manusia dengan tiga orang saudaranya. Apabila manusia itu hampir mendekati wafatnya, ia pun memanggil saudaranya yang pertama lalu berkata, ‘Saudaraku, engkau tahu akan keadaanku bukan? Apakah pertolongan yang dapat engkau berikan kepadaku?’ Saudaranya menjawab, ‘Aku akan merawatmu dan mengobatimu, serta melayanimu sepenuhnya. Jika engkau meninggal aku akan memandikanmu, mengafanimu serta mengusung jenazahmu ke kuburan. Setelah penguburan aku akan berdo’a kebaikan untukmu.’

Rosulullaah Saw. bersabda, ‘Saudaranya yang pertama ini adalah kaum kerabatnya.’

‘audaranya yang kedua ketika diberi pertanyaan yang sama, dia menjawab, ‘Aku akan bersama-sama denganmu selama engkau masih hidup, apabila engkau telah meninggal aku akan pergi ke tempat lain.’

Saudaranya yang ke dua ini adalah harta kekayaannya.

Ketiga pertanyaan yang sama dkemukakan kepada saudaranya yang ketiga, ia menjawab, ‘Aku akan menemanimu walau pun kamu sudah berada di alam kubur, menjadi penghibur hatimu di tempat yang penuh ketakutan. Ketika amal perbuatanmu ditimbang, aku akan duduk di timbangan amal kebaikan dan memberatkannya.’ Saudaranya yang terakhir ini adalah amal sholih yag telah dilakukannya.’

Rosulullaah Saw. bersabda, ‘Sekarang saudara yang mana yang menjadi pilihanmu?

Jawab para sahabat, ‘Ya Rosulullaah, tidak diragukan lagi saudaranya yang terakhir itulah yang menjadi harapan kami, karena saudara yang pertama dan yang kedua tidak begitu berguna’.”

walloohu a’lam

Prihastri Septianingsih
semoga berkenan dan bermanfa’at buat kita semua
(sumber: ‘Fadhilah ‘Amal, MM. Zakariyya) Al-Khandhalawi ra.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: