Tawa menuju Tuhan

Alkisah setelah kehilangan keledainya, Mulla lalu mengangkat kedua tangannya,

ia bersyukur kepada Tuhan. “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, aku telah kehilangan keledaiku.”

Seorang yang melihat dan mendengar doa Mulla bertanya,

“Kamu kehilangan keledaimu, dan kamu bersyukur kepada Tuhan?”

“Aku bersyukur kepada-Nya atas kebijakan-Nya

yang mentakdirkan bahwa aku tidak menunggangi keledai waktu itu.

Kalau tidak, sekarang aku tentu hilang juga.”

Anda boleh tersenyum ataupun tidak, melihat keluguan Mulla ini.

Keluguan Mulla adalah ciri lain dari keikhlasannya.

Tidak hanya Mulla atau guru sufi lainnya tapi seperti begitulah

cara kaum sufi menempatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Dalam sebuah kesempatan kajian tasawuf seorang teman “spiritual” saya berucap

sembari bergurau “Hanya ada satu hal yang membedakan antara masyarakat manusia

dengan komunitas primata – kera atau gorilla -”

Apa itu ? humor.

Humor adalah ciri khas yang ada pada masyarakat manusia.

Di belahan dunia ini kita bisa cari dimana atau apa ada yang bisa membuktikan

bahwa pada primata (kelompok kera atau gorilla) ada humor, yang kita saksikan hanyalah keseriusan.

Masyarakat gorilla adalah masyarakat tanpa canda dan tawa.

Kalau anda masih bisa tertawa anda masih manusia?

Bagaimana kalau anda yang sering ditertawakan ?

Nah, lanjut kawan saya , sama juga yang membedakan masyarakat awam dengan kaum sufi.

Kalau sufi dianggap sebagai kelompok minoritas ditengah mayoritas Muslim awam – juga adanya humor,

yakni humor sufi.

Melalui humor kaum sufi bercerita tentang kisah-kisah

yang tidak saja bisa mentertawakan diri sendiri tapi malah mampu mentertawakan seluruh kehidupan ini.

Buat kaum sufi kehidupan ini adalah sejenis senda gurau,

gurauan yang tidak saja memberitahukan akan makna-makna kegenitan duniawi tapi juga berisi kejenakaan dan kesadaran diri yang ingin menyatu dengan-Nya.

Cerita sufi kadang-kadang menggelitik bahkan cenderung “nakal”

tetapi kisah-kisahnya mengajarkan banyak kearifan.

Kearifan memang tidak harus disampaikan dengan kening berkerut,

tapi bisa juga disampaikan melalui cerita jenaka.

Kejenakaan humor sufi tidak hanya dipenuhi dengan teori-teori kearifan (hikmah) teoritis,

tetapi humor sufi lebih banyak mengajarkan kearifan praktis

yang muncul pada sebagian besar kisah-kisah sufi yang amat masyhur.

Di pasar Mulla melihat orang-orang mengerumuni seekor burung kecil,

dan mereka berani membelinya dengan harga yang tinggi.

“Tentu harga burung dan unggas sudah naik,” pikir Mulla.

Dia lalu pulang ke rumah. Setelah dikejar-kejar,

akhirnya dia berhasil menangkap kalkunnya yang sudah tua.

Di pasar mereka hanya berani membeli kalkun itu dengan harga dua mata uang perak.

“Itu tidak adil,” kata Mulla,

“Kalkun ini besarnya beberapa kali lipat dari burung yang ditawar dengan harga tinggi itu.”

“Tapi burung itu seekor betet, ia dapat berbicara.”

Mulla memandang sekilas ke arah kalkunnya yang terkantuk-kantuk di tangannya.

“Kalkun ini bisa berpikir!” kata Mulla.

Kaum sufi tidak hanya mampu bercanda dengan diri/manusia

tetapi juga mampu “bercanda” dengan dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Cerita sufi adalah cerita yang banyak dihiasi tentang relasi manusia dengan manusia

atau hubungan manusia dengan alam, dan dengan Tuhan.

Tidak kita temukan dalam cerita-cerita sufi, para sufi menghindar dari masyarakat manusia,

hidup digunung mengasingkan diri, bak para pertapa, “Tidak ada kerahiban dalam Islam”, sabda Nabi saw.

Oleh sebab itulah Syamsi Tabrizi, teman sekaligus guru Rumi berkata:

“Para pertapa yang hidup di gunung merupakan bagian dari gunung, bukan bagian dari manusia. Kalau dia itu manusia, dia akan hidup di antara masyarakat manusia, yang memiliki kesadaran untuk mengenali Allah. Apa yang dilakukan oleh para pertapa di gunung-gunung?

Apa hubungan manusia dengan batu-batu karang dan bebatuan?”

“Beradalah di tengah-tengah manusia, maka kamu dapat sindiran.”

Untuk mengungkap sesuatu yang tersembunyi diperlukan sindiran.

Sindiran-sindiran inilah yang mampu mengungkap “kebenaran” tanpa menyakitkan.

Dalam kerangka mengungkap kebenaran inilah humor sufi diperlukan.

Kadang-kadang kebenaran yang diungkapkan oleh cerita sufi sangat menyegarkan.

Tengoklah cerita berikut ini:

Suatu hari Mulla Nasruddin meminjam jambangan bunga besar dari tetangganya.

Besoknya ia mengembalikan jambangan bunga itu beserta sebuah jambangan bunga kecil.

“Yang kecil ini bukan milik kami,” kata si tetangga.

“Ya, memang,” sahut si Mulla. “Semalam jambanganmu melahirkan yang kecil ini.”

Si tetangga merasa senang dan menerima keduanya.

Beberapa hari kemudian Mulla meminjam jambangan besar lagi, tapi dia tidak mengembalikannya keesokan harinya. Ketika si tetangga datang memintanya, Mulla berkata:

“Malang benar jambangan itu, ia sudah tak ada lagi. Semalam ia telah meninggal dunia.”

“Bicara apa kamu ini?” protes si tetangga.

“Mana mungkin jambangan bunga bisa mati?”

“Yah, mana mungkin jambangan bunga bisa melahirkan, ” jawab Mulla.

Dalam pandangan Soren Keirkegaard,

terkadang ketika kebenaran bertemu dengan kepalsuan hasilnya adalah kelucuan.

Dalam kepalsuan yang lama tersamar humor benar-benar menjelma menjadi kelucuan yang amat sangat.

Soren malah berkata “Ketika muda aku lupa tertawa. Kemudian ketika kubuka kedua mataku dan kulihat realitas . . .

aku mulai bisa tertawa, dan terus tertawa sejak itu.

Berbeda dengan group lawak yang mengemas tawa sebagai komuditas ekonomi.

Lawakan kebanyakan mengemas tawa dengan mengeksploitasi kepalsuan-kepalsuan.

Kekurangan aspek fisik manusia dianggap sebagai bahan tertawaan,

dan tawa yang diciptakan tidak banyak memuat kearifan spiritual,

tawa jenis ini lebih tepat dianggap sebagai ledekan terhadap ciptaan Tuhan,

lebih dalam lagi tawa yang dipenuhi pengingkaran terhadap ketuhanan.

Dalam bahasa Rumi tawa jenis dianggap tawa tanpa bunga.

Jalaluddin Rumi menulis :

Tawaku seperti bunga, Bukan sekedar tawa mulut

Dari tak maujud aku maujud, Dengan gembira dan penuh keriangan

Namun cinta mengajari, Cara lain untuk tertawa

Sang muallaf tertawa, Kalau beruntung

Bak rumah kerang,

Aku tertawa ketika berduka.

Dunia tawasuf adalah dunia orang-orang yang ingin melakukan perjalanan ruhani yang panjang,

mendekatkan diri keharibaan Tuhan, atau lewat konsep yang lain malah menuju “Tuhan” sendiri.

Lewat latihan-latihan spiritual (riyadhah) kaum sufi berupaya manangkap realitas lain dari yang ada selama ini,

lewat riyadhah inilah yang kadang-kadang sampai dan tidak, dan tidak sedikit yang terjebak dalam sebuah “ketersesatan”.

Para sufi mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang teramat sukar untuk diceritakan untuk konsumsi orang awam. Seolah-olah mereka mulai mendapatkan dan merasakan “ruh tasawuf”,

ruh ini pulalah yang dalam proses perjalanan riyadhah itu banyak diceritakan oleh kaum sufi baik lewat cerita ataupun ucapan-ucapan mereka, kadang-kadang jenaka atau malah sulit diberi makna.

Rasa-rasanya tidak mungkin untuk menangkap ruh tasawuf tanpa humor sufi.

Kita tak harus berdebat dengan beragam spekulasi filosofis.

Kaum sufi amat menyukai pesan-pesan verbal maupun bukan – biasa dapat membuka kedok orang yang suka pamer ilmu. Humor dalam perpekstif sufi adalah satir tentang hidup dan kehidupan itu sendiri.

Karena sulitnya mengajarkan konsep-konsep tasawuf para guru sufi lebih banyak menempuh jalan bercerita

dalam mentransfer ajaran-ajarannya, disamping agar mudah dipahami para murid,

juga agar tidak disalahpahami oleh para penentang tasawuf – para pembenci humor -.

Dengan cerita atau melalui humorlah para sufi pemula mulai bisa memulai pengembaraan panjang

ke dunia sufi yang tiada bertepi. Dengan humor pulalah kita bisa memahami pandangan kaum sufi

tanpa harus dipenuhi lipatan kulit di dahi kepala atau dengan kening berkerut.

Namun kemampuan para sufi untuk menyampaikan hal-hal yang serius dengan hal yang jenaka,

yang mengagumkan dengan yang tampaknya konyol,

inilah yang membedakan antara tasawuf dari banyak agama dan filsafat pemikiran lainnya.

Dengan humorlah para guru sufi mengajarkan konsep tasawuf bagi muridnya tanpa merasa digurui.

Humor dalam perpektif sufi juga merupakan gambaran masyarakat.

Dalam sastra Arab atau tulisan para sufi klasik atau, tokoh-tokoh yang banyak disebut dalam cerita-cerita sufi

antara lain Mulla Nasruddin Hoja dan Bahlul.

Dalam beberapa kisah di berbagai negeri Persia seperti di Iran dan Irak, Bahlul seringkali menjadi tokoh dalam sejumlah kisah yag dinisbahkan kepada Mulla Nasruddin (atau sebaliknya).

atau di Mesir cerita Bahlul lebih sering serupa dengan nama si Juha yang dalam sastra Arab dikenal sebagai tokoh kocak tetapi bijak, lucu tapi serius, bodoh tapi cerdas.

Dalam sebuah kisah dalam Matsnawi Bahlul pernah diceritakan dimana ia pernah berkata kepada beberapa orang

bahwa dia berpura-pura sebagai orang tolol, sejak ia dianggap sebagai orang paling arif dikotanya

dan karena itu, masyarakat kota mendesak dirinya untuk menjadi hakim, tapi ditolaknya dengan berlagak tolol.

Dari kisah-kisah yang dikenal selama ini sedikit sekali kita menemukan mereka tampil benar-benar sebagai orang arif, barangkali karena itulah lakon mereka dalam cerita sufi tidak pernah berakhir apalagi mengalami kematian.

Seandainya cerita-cerita mengenai mereka hanya mengandung nilai pendidikan barangkali kisah-kisah itu sudah lama tergeletak berdebu di rak-rak perpustakaan.

Sebuah cerita tentang si Juha, mengantar kita ke akhir tulisan ini :

Suatu hari Juha berangkat ke pasar menunggang keledainya, ia menambatkan keledainya dengan seutas tali.

Tanpa diketahui, dibelakangnya ada dua orang pencuri.

Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang di antara mereka melepaskan keledai dari pengikatnya

dan membawanya pergi. Kawannya mengikatkan tali keledai itu ke lehernya sendiri.

Kembali dari pasar Juha terkejut. Ia mendapatkan keledainya hilang. Sebagai gantinya, ia melihat orang tidak dikenal dengan tali keledainya. “Siapa anda?” tanya Juha. Orang itu merunduk seperti sedih dan malu,

“Saya ini keledai yang engkau miliki. Dahulu saya durhaka kepada orang tua.

Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini orang tua saya sudah memaafkan saya. Dan Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula.”

Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat,

“Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Janganlah sekali-kali menyakiti orang tuamu.”

Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seseorang tak dikenal lainnya sedang menawarkan keledainya.

Juha yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik.

Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik ditelinganya,

“Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua.

Baru sehari aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukumanmu.”

Boleh jadi anda cuma tersenyum atau bahkan tertawa renyah, tetapi mudah-mudahan tawa kita adalah tawa yang menuju Tuhan.

Mohon maaf, wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: