Tongkat Nabi Musa

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

“Tinggallah kalian di sini sebentar. Sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepada kalian atau barangkali aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”, kata nabi Musa kepada keluarganya.Waktu itu beliau sedang melakukan perjalanan bersama keluarganya melewati padang pasir yang luas.

******

Ada tiga perbekalan yang mutlak diperlukan oleh pengembara di rimba daratan, yaitu terompah, tongkat dan api. Terompah digunakan untuk alas kaki sehingga kaki bisa digunakan untuk berjalan di tengah panasnya pasir di siang hari dan tusukan hawa dingin di malam hari. Tongkat bisa digunakan untuk membantu berjalan di medan yang sulit, menghalau binatang atau meraih buah buahan. Sedangkan api sangat berguna terutama di waktu malam untuk menghalau binatang buas; atau sebagai identitas suatu kafilah di malam hari.

Ketika hari mulai malam, dan nabi Musa kehabisan bekal api, tampaklah oleh beliau akan setitik api di kejauhan. Pucuk dicinta ulam pun tiba.“Tinggallah kalian di sini sebentar. Sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepada kalian atau barangkali aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu” (10), kata nabi Musa kepada keluarganya.

Namun tatkala beliau sampai di tempat itu beliau diseru: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).”(12-13)

Apa daya, maksud hati meraih api; untuk melengkapi terompah dan tongkat yang sudah dimiliki, justru beliau diperintah untuk melepas terompah beliau. Setelah terompah dilepas, perintah pun berlanjut: “Benda apa yang ada di tangan kananmu itu wahai Musa!” Musa menjawab dengan mantap, “Ini adalah tongkatku. aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi berbagai keperluan yang lain padanya”(17-18). Nabi Musa tahu betul akan tongkat beliau. Beliau dengan bangga menjelaskan panjang lebar manfaat dan kegunaan tongkat beliau.

“Buanglah tongkat itu wahai Musa!” (19)

Sungguh, betapa terkejutnya nabi Musa. Beliau datang untuk mencari api; akan tetapi diminta untuk melepas terompah, dan kini, tongkat yang belum kering bibir nabi Musa yang dengan bangganya menjelaskan manfaatnya, disuruh pula untuk membuangnya.

Dengan berat hati, nabi Musa membuang tongkatnya. Begitu tongkat dilempar, seketika itu pula ia berubah menjadi ular yang bergerak dengan gesit. Nabi Musa terkejut, takut dan berusaha menjauh darinya. “Tangkaplah ular itu, dan jangan takut; akan Kami kembalikan ke bentuk semula.”(21)

Terompah adalah kedudukan. Ia menjadi alat berpijak. Manusia mana yang tidak memerlukan kedudukan dalam kehidupannya? Ia menjadi sarana penting dalam kehidupan. Kedudukan membuat seseorang mudah mewujudkan keinginannya. Dengan kedudukan ia bisa mengendalikan roda kehidupan diri dan orang orang di sekitarnya.

Api adalah energi. Ia menjadi penggerak roda kehidupan. Dari belantara hutan khatulistiwa hingga belantara kota metropolitan, semua orang membutuhkan energi untuk keberlangsungan hidupnya. Barangsiapa menguasai sumber sumber energi, minyak bumi, misalnya, maka berarti ia menguasai penggerak perekonomian dunia. Ia membawa banyak manfaat.

Tongkat adalah teknologi. Ia menjadi sarana pengolah alam; yang sulit menjadi mudah, yang tandus menjadi subur, yang tersembunyi menjadi tampak. Dengannya manusia berperan sebagai khalifah di bumi ini. Bumi menjadi nyaman untuk ditempati dengan sebab keberadaannya.

Tetapi semua itu, terompah, api dan tongkat, hanyalah sarana semata. Mereka menjadi tidak bermakna ketika dihadapan Allah ta’ala, Yang menguasai segalanya. Maka ketika kita menghadap Allah ta’ala, tidak pantas kita datang dengan membanggakan segala atribut terompah, api dan tongkat yang kita miliki. Sebagaimana Musa diminta melepas terompah dan membuang tongkatnya, kita harus melepas semua itu ketika menghadap Allah. Kita datang dengan jiwa yang bersih.

Dan ketika kita sudah dekat dengan Allah, sudah mampu melepas semua itu, mampu memisahkan jiwa kita dari kebesaran dan kehebatan tongkat, terompah dan api yang selama ini begitu lekat di hati kita, maka Allah bukakan mata hati kita. Allah tunjukkan kepada kita “the dark side” dari semua itu. Sebagaimana nabi Musa ketika ia sudah membuang tongkatnya, maka yang tampak padanya adalah ular: sesuatu yang membahayakan; dan bukan lagi tongkat yang beliau bisa mengambil berbagai macam manfaat darinya.

Setelah disampaikannya “the dark side” dari tongkatnya, nabi Musa diperintah untuk mengambil kembali tongkat beliau. Beliau tidak diperintah untuk membuang selamanya. Kelak, kita tahu bahwa dengan sarana tongkat itulah Allah memenangkan nabi Musa atas para tukang sihir fir’aun. Dengan tongkat itu pulalah nabi musa membuatkan 12 sumber mata air untuk 12 kabilah bani Israil.

Tetapi tongkat tetaplah hanya sebuah tongkat. Ia tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat tanpa kehendak dan perkenan Allah ta’ala.Kebesaran Allah telah mengisi seluruh relung hati Nabi Musa. Maka ketika seluruh pengikut nabi Musa dihadapkan pada posisi antara laut merah dan pasukan fir’aun – dua duanya adalah sebab kematian bagi mereka – nabi Musa tidak mengandalkan tongkat beliau (yang sudah terbukti “kesaktiannya”). Beliau tetap mengandalkan Allah; berdoa memohon petunjuk dan pertolongan kepada Allah. Meskipun, lagi – lagi, Allah berikan pertolonganNya dengan perantaraan tongkat tersebut.

Terompah, tongkat dan api: kedudukan, energi dan teknologi; tanpa ketiganya mustahil manusia menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dengan sempurna. Seorang Nabi Musa pun memerlukan ketiganya. Tetapi khalifah adalah fungsi eksternal manusia. Secara internal, sejatinya manusia adalah hamba Allah. Hamba Allah yang sejati hanya tunduk kepada Allah. Hanya Allah-lah yang besar di hatinya; bukan tugas kekhalifahan dan bukan pula sarana untuk mencapai kekhalifahan itu. Perhatikanlah firman Allah kepada nabi Musa yang disampaikan diantara perintah melepas terompah dan membuang tongkat berikut ini:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (14) Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (15) Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”(16).

Sebagai khalifah di muka bumi, seperti nabi Musa, kita memerlukan terompah, tongkat dan api. Sebagai hamba Allah yang beriman, hanya Allah sajalah yang seharusnya besar di hati kita. Terompah, tongkat dan api adalah sarana, bukan tujuan. Sebelum menggunakan sarana itu, seperti diperintahkan kepada Nabi Musa, marilah kita membuang kebesaran terompah, api dan atau tongkat yang kita miliki dari hati kita. Jangan beri sedikitpun ruang di hati kita untuk kebesaran mereka di hati kita. Niscaya Allah akan membuka mata hati kita dan senantiasa memenangkan kita, menjadikan kita sebagai khalifah di muka bumi dan menunjukkan kepada kita akan kebesaran dan kekuasaanNya.

Saya memohon ampun kepada Allah atas kemungkinan kesalahan pada tulisan saya di atas.
Wallahu a’lamu bis-showab

PS: Kisah nabi Musa di atas termaktub di dalam Surat Thaa-haa. Umar bin Khtatthab langsung masuk islam ketika mendengar adik perempuannya membaca surat Tha haa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: