Seri ke-0 Ujian Allah – PENGANTAR, Ujian Allah Untuk Membersihkan Dosa Kita

Sahabats, sadarkah kita bahwa seringkali kita berdoa yang di dalamnya terkandung makna tersirat minta ujian yang lebih berat?
Mungkin kita akan membantah pernyataan di atas, eits, tapi tunggu dulu…, mari kita renungkan hadits dan ayat-ayat Al-Quran tentang ujian berikut ini.
Allah berfirman tentang ‘ujian’ di antaranya :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut[29]:2-3)
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu [422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”
(QS. Al-Maidah[5]:48)
Beberapa Hadits Rasulullah SAW, di antaranya:
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (HR. Bukhari)
Nah, pada saat kita memohon agar iman serta kadar keagamaan kita meningkat lebih tinggi, hal ini juga berarti kita juga sedang mengundang datangnya ujian Allah yang lebih berat (meskipun kebanyakan kita tidak menyadari konsekuensi ini). Namun, bukan persoalan berat atau ringannya ujian yang penting bagi kita, melainkan penyikapan kita terhadap ujian tersebutlah yang semestinya kita lakukan.
Allah juga menambahkan tentang maksud-Nya memberikan ujian itu kepada kita dalam Hadits Qudsi-Nya: Allah berfirman kepada malaikat-Nya:
“Pergilah kepada hamba-Ku. Lalu timpakanlah bermacam-macam ujian/bala’ kepadanya Aku cinta (Uhibbu) mendengar suara (munajat)nya” (HQR Thabrani)
Dari hadits Qudsi di atas, ternyata salah satu tujuan Allah menguji kita adalah Dia ingin agar kita bermunajat/berdoa kepada-Nya, serta untuk membersihkan dosa-dosa kita. Memang, sebenarnya ketika keimanan kita semakin Allah tingkatkan, terasa kesadaran kita tentang posisi Allah bagi kita, juga posisi kita yang tiada apa-apa-Nya di mata Allah. Dan hal itulah yang membuat suara munazat kita Allah sukai.
Apa Saja Ragam Ujian Allah kepada Kita?
Mari kita simak firman-Nya, yang di antaranya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah[2]:155)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS.Al-Anbiya'[21]:35)
Rasulullah saw bersabda tentang ujian rezeki:
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah.” (HR. Ahmad)
Sabar dan Ridho merupakan sikap yang Allah dan ajarkan kepada kita ketika ujian-Nya menerpa kita.
Nampaknya seperti layaknya siswa dari sebuah sekolah, -di sini Sekolah Kehidupan- ujian adalah sebuah kemestian

yang harus kita hadapi. Kita tidak tahu jenis ujian seperti apa yang tiba-tiba Dia berikan kepada kita suatu saat, namun sebagai seorang siswa yang bertanggung-jawab sudah selayaknya kita senantiasa dalam kondisi belajar sehingga selalu siap menghadapi ujian. Artinya semestinya kita selalu meningkatkan kesabaran dan keridhoan kita, bukan?
Wallahu a’lam bi shawwab.

Wawan TBH.

(Bersambung ke Seri selanjutnya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: