Hikmah Kesucian

Hikmah “Kesucian” dari Kalimat Idrisiyyah – Fushuush Al-Hikam, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Pendahuluan

Untuk memahami himah “kesucian” dari kalimat Idrisiyyah, sebelumnya penting untuk mengetahui makna dari akar kata qadasa (dijauhkan, menghilangkan keburukan), yaitu dalam rangka mendekatkan hubungan dengan Tuhan sebagai pengendali kosmos atau alam semesta. Untuk menggambarkan lebih jauh qadasa, kita bisa melihat tujuan dari melaksanakan syariat agama, tata cara berhubungan dengan Tuhan, dan pensucian diri yang erat kaitannya dengan tempat, posisi atau kedudukan (maqom) yang tinggi, derajat kemuliaan dan keagungan. Itulah inti dari hikmah “kesucian” dari kalimat Idrisiyyah ini, yang sekaligus juga menunjukkan hal “ketinggian”.

Muhyiidiin Ibn `Arabi membagi konsep `ketinggian’ menjadi dua macam, yaitu:
1. Ketinggian Posisi/ tempat/ kedudukan, yang berhubungan dengan aktivitas alam jiwa. Dengan kata lain, terkait dengan tingkatan alam-alam; dilahirkan oleh sebab al-amal.

2. Ketinggian Derajat, yang berhubungan dengan pengenalan ruh. Dengan kata lain terkait dengan tingkatan Ketuhanan (Illaahiyyah), meskipun hanya Tuhan Satu (Al-Ahad) Yang disembah dalam hubungan antara Pencipta dengan ciptaan; dilahirkan oleh sebab pengetahuan/ al-‘ilm.

Ketinggian tentu saja lantas berhubungan dengan Tuhan, Yang diTinggikan (Al-`Aliyy) atas semua Realitas Al-Haqq, mencakup ketinggian posisi dan ketinggian derajat. Hal itu tergantung dari pandangan tiap orang tentang Tuhan sebagai Al-Ahad dalam Al-Wahid atau Al-Ahad dalam Al-Awwaal (Yang mengawali segala keberadaan/ eksistensi (wujuud)).

Pandangan tentang Tuhan tersebut lebih lanjut akan membawa kita kepada pemisalan pada teori angka mistik, dalam hal ini yaitu angka satu (1), sebagai angka tertinggi dari keseluruhan angka yang ada; dimana darinya semua angka diturunkan, manifest, memiliki keunikan dalam dirinya sendiri, tidak bisa dihubungkan dari arah mana saja dengan angka lain, dan angka yang jika dikalikan dengan angka lain maka hasilnya adalah angka pengali itu sendiri. Bagi Ibn `Arabi, pandangan tentang Tuhan lebih kepada lawan berpasangan dari Nama-nama Tuhan dalam Diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan kata lain, bagaimana cara pandang kita tentang Tuhan terkait dengan Kebenaran (Realitas Al-Haqq) yang sampai pada qalb kita.

Terkait dengan hubungan antara alam dengan Tuhan, Ibn `Arabi mengambil perbandingan hubungan antara ayah dengan anak dan Adam dengan Hawa; dimana tampak bahwa segala ciptaan berasal dari Tuhan, tiada Tuhan selain Allah. Namun bagaimana pun, tetap saja inti dari hikmah kesucian Idrisiyyah terletak pada Realitas Al-Haqq, Kebenaran dalam menyaksikan Al-Haqq, Dia Sang “Pencipta ciptaan (Al-Khaliq)”, dan Dia Yang “mencipta ciptaan”, sebagaimana Kehendak-Nya yang menifes “Kun!” Fa ya kun.

Hikmah kesucian Idrisiyyah juga terkait dengan Nama-nama Illaahiyyah, dimana semua Nama menunjukkan hubungan antara Pencipta dengan ciptaan. Setiap Nama memiliki fungsi khusus yang harus dimanifestasikan. Setiap ciptaan berhubungan secara unik dengan Tuhannya, sebenar disaksikan melalui bathin, manifest dalam realitas lahiriyyah dalam setiap wujuud ciptaan, namun walaupun setiap ciptaan memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing, tetap saja Dia tiada tertandingi Ketinggian-Nya (Al-`Aliyy).

Hikmah Kesucian Idrisiyyah

Ketinggian melekat dalam dua cara, terkait dengan: ketinggian posisi (tampil dalam alam syahadah) dan ketinggian derajat (dari hakikat Al-Haqq).

Co. Qs. 19 : 57

“Dan Kami telah mengangkatnya ke posisi (makaana) yang tinggi (`aliyyaa).”

Ketinggian Posisi/ Kedudukan tampak pada pemisalan perputaran bola-bola langit, dimana matahari merupakan bentuk spiritual yang mencerminkan posisi Idris.

Ada tujuh bola lelangit yang berputar pada posisi langit lebih tinggi, yaitu Planet Mars, Planet Jupiter, Planet Saturnus, Tempat kedudukan bintang, Rasi bintang, `Arsy, dan Kursiyy. Sementara pada posisi langit yang lebih rendah terdapat Planet Vanus, Planet Merkurius, Bulan, Eter, Udara, Air, dan Planet Bumi. Sebagai kutub dari bola lelangit, Idris berada – ditinggikan – pada posisi terpenting, quthb.

Ketinggian Derajat (dari hakikat Al-Haqq), secara nyata tampak contoh pada diri Muhammad saw.

Qs. 47 : 35

“Janganlah kamu lemah dan minta damai (as-salm), padahal kamulah yang di atas (a’la) dan Allah pun bersamamu (ma’akum) dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu (a’malukum).”

Ketika kita merasa lemah tak berdaya dan ketakutan, maka ingatlah bahwa Allah akan senantiasa bersama kita; memberikan pahala atas amal-amal kita, yaitu amal berupa ketinggian posisi yang tampak dalam perilaku keshalehan, sementara amal berupa ketinggian derajat tampak dalam pengetahuan yang dipunyai. Demi kita, Tuhan menyatukan dua jenis ketinggian; ketinggian posisi melalui amal berupa perilaku dan ketinggian derajat melalui pengetahuan.

Kemudian Dia berkata, dalam

Qs. 87 : 1

“Tasbihkanlah Nama Tuhanmu Al-A’la,”

Seorang manusia, disebut sebagai seorang Insaan Kamil (manusia sempurna), dikarenakan wujuud kemanusiaannya telah ditinggikan, tetapi ketinggiannya tergantung pada ketinggian posisi atau derajat jiwanya, bukan berasal dari diri jasadiyyahnya, hingga menetap menjadi miliknya. Manusia ditinggikan karenakan ia menduduki sebuah posisi yang tinggi (dalam keteraturan alam) atau karena ia telah memiliki sebuah derajat yang tinggi.

Ketinggian Posisi, sebagaimana termaktub contohnya dalam:

Qs. 22 : 5

“(Yaitu) Tuhan Ar-Rahmaan. Yang bersemayam di atas Al- ‘Arsy”.

`Arsy menetap pada posisi tertinggi.

Qs. 2 : 30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, `Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, `Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”

Perumpamaan pada Ketinggian Derajat, termaktub contohnya dalam:

Qs. 28 : 88

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Qs. 11 : 123

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan segala al-amr, maka mengabdilah kepada-Nya, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

Qs. 27 : 60

“Atau siapakah yang telah menciptakan lelangit (tujuh buah langit) dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit (langit pertama), lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (tidak ber’aql).”

Qs. 38 : 75

“Allah berfirman, `Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’.”

“Ditinggikan (Al-`Aliyy)” merupakan salah satu dari Asmaul Husna; namun terlepas dari itu, apakah sebenarnya hanya Dia Yang eksis (mawjuud)? Siapa dan apa saja yang ditinggikan, lalu apakah sebenarnya hanya Dia yang ditinggikan? Dan itu berarti bahwa Dia Meninggikan (menjadikan tinggi) Diri-Nya Sendiri? Dalam hubungan-Nya dengan ciptaan, Dia merupakan hakikat terdalam, inti sebenarnya dari segala sesuatu yang eksis (mawjuud). Lalu, dalam hal tertentu, makhluk ditinggikan secara relatif dalam diri (baca nafs/ jiwa) mereka sendiri; Al-Haqq nya, adalah tiada tuhan selain Alah dan Ketinggian-Nya merupakan hal mutlak, bukan sesuatu yang relatif. Hal itu dikarenakan, pada hakikatnya makhluk tidak memiliki manifestasi yang kekal, selalu mengalami perubahan, tidak mengetahui apa-apa dari sesuatu yang manifest, dan mereka tinggal menetap dalam keadaan sedemikian, meskipun terdapat aneka macam manifestasi ciptaan-Nya dalam bentuk yang berbeda-beda. Dzat-Nya Al-Wahid, Terunik dari dari keseluruhan dalam keseluruhan. Aneka ragam bentuk hanya manifest dalam hubungannya dengan Nama-nama Illaahiyyah, dan murni hanya dalam bentuk hubungan; tidak manifest dalam diri mereka sendiri.

Semua wujuud fana, kecuali Dzat-Nya, Yang Meninggikan-Nya Sendiri, sehingga ketinggian tersebut tidak berhubungan dengan yang lain selain-Nya Sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut, jadi sebenarnya tidak ada yang namanya `ketinggian relatif’, meskipun terlihat perbedaan keunikan tertentu dalam tiap ciptaan-Nya. Ketinggian relatif eksis di dalam Dzat Al-Wahiid hanya sejauh batas kemampuan manifestasinya dalam berbagai aspek.

Seorang Al-Kharraaz (Abu Sa’id al-Kharraaz dalam kitab Kashf al-mahjuub), merupakan salah satu saksi Al-Haqq, penyambung Lidah-Nya, mengatakan bahwa, “Dia bukan Dia dan engkau bukan engkau,” lalu, “Dia menggambarkan Diri-Nya Sendiri.” Kemudian lanjutnya, “Tuhan tidak mampu dikenal kecuali dengan menyatukan pasangan lawan bertentangan,” dalam pelbagai perbedaan keunikan satu sama lainnya. Dia Al-Awwaal dan Al-Akhiir, Al-Dzahir dan Al-Bathin (Al-Ghayb); merupakan hakikat dari segala yang manifest dan tidak manifest, bahkan sebagai Dia Yang memanifestasikan Diri-Nya Sendiri, bagi-Nya manifest kepada Diri-Nya dan menyembunyikan dari Diri-Nya Sendiri juga. Tiada seorang pun yang memberikan nama kepada makhluk selain Dia. Al-Ghayb (Al-Bathin) berkata “Tidak” ketika Al-Dzahir berkata “Aku” dan Al-Dzahir berkata “Tidak” ketika Al-Ghayb (Al-Bathin) berkata “(Hanya) Aku”. Contoh tersebut merupakan pasangan lawan bertentangan, namun pembicara dan pendengar berasal dari Yang Satu, Al-Ahad, Al-Wahiid.

HR. Bukhaarii; Nabi Muhammad saw. bersabda, “… dan apa yang telah mereka katakan tentang diri mereka sendiri,” mereka menjadi pengabar, seseorang yang berbicara, dan memberitakan, mengetahui apa yang sebenarnya tentang diri mereka.

Dzat-Nya Al-Wahiid, sementara perbedaan ada dikarenakan memiliki pertentangan. Keadaan demikian akan lebih dipahami jika setiap orang telah mengenal jiwa mereka, menjadi bentuk dari Al-Haqq. Namun kenyataannya, segala sesuatu di dunia penuh dengan pencampurbauran satu dengan lainnya. Angka-angka berasal dari satu kelompok yang telah distandarisasi dengan benar. Lalu dari yang satu membuat kemungkinan angka-angka lain, dan lalu tersebarlah berbagai angka. Dari yang satu tadi. Lebih jauh, penghitungan sesuatu hanya mungkin dilakukan jika berasal dari jenis penghitungan yang sama. Nanti, hasil percampurbauran tersebut tidak semuanya terlihat secara fisik, namun lebih secara intelektual (imajiner). Karena itu, akhirnya ada yang disebut sebagai angka murni, dan ada yang disebut sebagai yang diangkakan. Hakikatnya adalah bahwa ada yang harus mengawali proses untuk mengembangkan diri.

Setiap bagian merupakan sebuah kebenaran dalam dirinya, menurun dan menaik dalam proses pengembangannya, meskipun tiada satu pun dari mereka yang benar-benar sempurna; setiap mereka menjadi istimewa (unik) satu sama lainnya dalam satu kelompok yang sama, dan itu juga berarti bahwa tidak ada yang lebih istimewa (lebih unik) dari yang lainnya. Keseluruhan berada di dalam satu, saling mendukung. Namun dikarenakan tadi dikatakan bahwa setiap proses ada yang mengawali (al-awwal), maka dalam hal ini angka satu tidak dapat dikatakan sebagai angka.

Siapapun yang memahami penjelasanku tentang angka-angka, yaitu dengan cara menyangkal keberadaan mereka dalam usaha untuk meyakini keberadaan mereka, maka akan mengetahui bahwa manifestasi Al-Haqq merupakan ciptaan (makhluk) yang bersifat relatif, bahkan sekalipun jika ciptaan itu dibedakan dengan nyata sejelas-jelasnya dari Pencipta. Al-Haqq pada sekali waktu merupakan ciptaan Sang Pencipta dan menciptakan ciptaan. Semuanya berasal dari hakikat Al-Ahad, terkadang Al-Wahiid, dan terkadang banyak dari pelbagai Nama.

Qs. 37 : 102

“Maka tatkala anak itu sampai (pada usia kematangan) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, `Hai, Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.”

Perkataan Ismail `Hai, Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’ mampu membuka hakikat perintah Allah kepada Ibrahim as, bapaknya; bahwa apa yang dicintai itulah yang harus dikorbankan. Ketika hakikat itu terbuka, maka Allah pun menggantinya dengan seekor domba jantan.

Qs. 37 : 107

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Jasad manusia, ibaratnya seperti seekor domba. Jasad Ibrahim as, ibaratnya seperti seorang Ismail. Mencintai jasad tidaklah mampu membawa jiwa kepada Tuhan, karena itu hal yang menjadi bagian dari jasad harus dikorbankan.

Qs. 4 : 1

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Allah menciptakan Adam beserta pasangannya, sehingga Adam sebenarnya melihat dirinya sendiri (bercermin) dalam diri pasangannya. Dari keduanya lahir anak-anak, sementara bagi Sang Pencipta hal itu merupakan satu dalam kebanyakan yang kompleks.

Siapa yang termasuk Alam Universal (aspek feminine Allah) dan siapa saja yang manifes di dalamnya? Tampak bahwa Alam Universal telah melakukan urusan-Nya dengan sempurna, memanifestasikan banyak bentuk di dalamnya, mengembangkan dan mencampurbaurkan isinya. Sebenarnya, Dia memanisfestasikan Diri-Nya Sendiri, secara tidak langsung. Ada dingin dan kering, panas dan kering. Keduanya sama-sama ada unsur kering, namun berbeda dalam sisi lainnya. Seperti halnya Adam dan Hawa, Ismail dan Ibrahim, maka dingin dan kering, panas dan kering juga merupakan cermin satu dengan lainnya. Lebih jauh, banyak cermin juga bisa memperlihatkan satu hal. Pernyataan tersebut mungkin akan membuat bingung alih-alih membuat lebih paham, karena sifat relatif makhluk yang tak benar-benar mampu memahami Sang Pencipta dengan sempurna.

Dia lah Yang sebenar berpengetahuan, dan benar-benar mengetahui apa yang aku tuliskan di sini jauh dari ketidakbenaran.

Dalam sisi lain, Al-Haqq merupakan ciptaan, tafakurilah!
Sisi lainnya bukan seperti itu, maka berdzikirlah!
Siapa saja yang meyakini kata-kataku, maka ‘akal’nya (sudah ber’aql) tidak akan tersalah,
karena keyakinannya akan menyelamatkannya.
Apakah sekarang engkau sedang menyatu dengan-Nya atau terpisah,
akan tetap saja Dia Al-Wahiid.
Sebagai Dia yang menurunkan banyak manifest dan yang belum diturunkan.

Dia Yang Meninggikan Diri-Nya Sendiri menikmati kesenangan dalam kesempurnaan hubungan dengan makhluk-Nya, walaupun tak satu atribut pun dari-Nya yang mampu dikenakan oleh makhluk dengan sempurna. Maksudnya, bahwa semua realitas dan hubungan yang ada, apapun bentuknya, dalam pandangan syariat lahir, hukum atau peraturan, kemuliaan dan lain sebagainya, sebenarnya semuanya hanyalah untuk menunjukkan Al-Haqq sebagai “Allah”. Allah, merupakan Nama yang menyatukan semua Nama-nama. Al-Haqq selain Allah, yang manifest dalam beberapa tempat atau bentuk selalu disertai dengan kualitas manifestasinya. Jika bentuknya adalah seorang Insaan Kamil (manusia sempurna), maka manifestasi-Nya pun akan lebih sempurna, identik (mirip tapi tak sama) dengan lokasi tempat manifestasinya. Keseluruhan turunan dari Nama “Allah” masuk ke dalam bentuk tersebut, dimana sesekali bukan Dia dan sesekali tiada lain selain Dia.

Berkata Abuu al-Qaasim b. Qissi dalam bukunya “The Shedding of the Sandals”, “Setiap Nama Illaahiyyah sebenarnya diselubungi oleh Nama-nama-Nya yang lain.” Hal itu dikarenakan setiap Nama mengimplikasikan hakikat kecintaan-Nya kepada makhluk.

Jika engkau sebenar memahami penjelasanku (Muhyiiddiin Ibn `Arabi), kau akan temui bahwa sebenarnya tiada batas antara ketinggian posisi (terlahir karena sebab amal) dengan ketinggian derajat (terlahir karena sebab pengetauan/ ‘ilm). Apa bedanya kekuatan seorang gubernur, sultan, mentri, hakim, dan setiap pengambil suatu keputusan? Kesemuanya sama-sama pengambil keputusan, walau dalam posisi yang berbeda. Adalah hal mustahil jika seorang pengambil keputusan berada di luar kendali dirinya, tidak mengetahui realitas yang sebenar terjadi. Namun, hal itu hanya bisa dicapai dengan Pengetahuan Al-Haqq.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wassalaamu’alaykum wr. wb.

“Hikmah Kesucian dari Kalimat Idrisiyyah”, Fushuush al-Hikam, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris “The Bezels of Wisdom”, R. E. J. Austin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: