Mushalla kecil yang berbau keringat

Kalau pas lagi diluar jalan-jalan, dan bertepatan dengan waktu shalat, Dul ,suami saya pasti bertanya pengen shalat dimana.

Dengan mantap saya menjawab, “di mushalla nya ****” aja. ***** adalah pom bensin yang ada di bilangan bintaro. Pake bintang karena takut disangka iklan..

Awalnya saya menganggapnya kepraktisan saja, karena memang terletak di perempatan, dan parkirnya gampang. Tapi ternyata, lebih dari itu, saya merasa di mushala itu ada yang berbeda. Shalat disitu selalu terasa nikmat.

Fisik Mushala itu memang tidak istimewa. Cukup kecil. Mungkin ukurannya dua cubicle kalau di kantor. Dan letaknya di depan toilet pula . Tidak berkarpet. Ada tanda kiblat di ujung kanan langit-langit. Kipas angin yang tertempel di tembok (sering saya matikan karena jaraknya cukup dekat dan membuat kepala pusing), kotak plastik berisi mukena yang (seringnya) terlipat cukup rapi, serta dua buah sajadah yang lusuh. Kadang orang shalat berdesakan. Tapi disaat-saat tertentu mushala itu cukup sepi, sehingga kita leluasa memakainya. Baunya tentu saja tidak wangi, seringnya berbau keringat.

Lama saya berfikir, kenapa mushalla kecil yang berbau keringat itu begitu istimewa di hati saya.

Suatu sore saat saya lagi ngantri shalat disana, tampak ibu-ibu dengan mukenanya yang berumbai dan lux juga berdoa dengan khusuknya disitu. Setelah shalat dia menyalami saya. Apakah dia menikmati juga shalat disana? saya tidak berani bertanya pertanyaan personal itu, untuk orang yang tidak saya kenal.

Tapi saya coba amati orang yang datang kesana satu persatu, ada pengendara motor yang bau debu jalanan, ada petugas pom bensin, ada bapak dengan anaknya berjamaah. Di mushala kecil didekat WC itu, orang-orang berbagai kalangan menyatu untuk menghadapkan hatinya pada Tuhan. Mereka datang, tanpa memperdulikan tempat yang tidak ideal, fasilitas yang seadanya, tapi mereka datang hanya untuk shalat. Untuk menyembah Tuhan. Mengadukan keresahan, memohon perlindungan, di tengah segala rutinitas yang mengikat. Mereka datang ke mushala kecil yang berbau keringat itu, hanya untuk menyujudkan kepala dan hatinya.

Orang-orang yang datang, mereka sebelumnya pasti ada di jalanan. Dan ups, teirngat waktu shalat, dan mereka pun pergi ketempat wudhu yang kecil mushala tanpa karpet dan menunaikan kewajibannya. Orang – orang itu datang ke sana bukan untuk mengagumi tempat yang mewah, atau curi-curi tidur sebentar.. (walaupun saya yakin Dia yang Maha Baik dan Maha Pengampun tidak akan marah dengan segala deviasi niat manusia yang beraneka macam saat menghadapNya itu) Tapi hanya untuk shalat.

Tanpa saya sadari betul, perangkat fisik yang kelihatannya hina itu menjadi saringan untuk memurnikan niat. Dan niat-niat murni yang terjejak dalam mushala kecil itu agaknya membuka satu tirai langit, dan semoga membawa setiap orang yang bersujud dengan ikhlash disana semakin dekat dengan Dia, Sang Pencipta.

Siska Widyawaty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: