Mimpi Bertemu Jiwa Orang Yang Sudah Meninggal

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan bahwa, Iyas bin Daghfal, seorang ‘ulama yang terkenal kejujurannya dan kesholehannya, berkata: ‘Suatu hari aku bermimpi bertemu al-Ala’ Yazid bin Abdullah. Aku berkata kepadanya, “Wahai Abul Ala’! bagaimana kau merasakan kematian?”

Abul Ala’ menjawab, ‘Sangat menyakitkan dan pahit.’

“Bagaimana keadaanmu setelah meninggal kini?”

‘Aku kini senang dapat bersama angin dan Allaah tidak marah lagi.’

“Bagaimana dengan saudaramu, Muthrof, apa yang terjadi dengannya?”

‘Ia telah mendahuluiku mendapatkan kenikmatan karena keyakinannya kepada Allaah.’

*) Ibnu Abid DUnya juga meriwayatkan kisah berikut ini:

Sha’b bin Jutsamah dan Auf bin Malik adalah dua sahabat yang dipersaudarakan oleh Rosulullaah Saw. Suatu hari Sha’b berkata kepada Auf, ‘Saudaraku, siapa pun di antara kita yang lebih dahulu meninggal dunia, datanglah ke mimpinya.’

Auf bertanya, ‘Apakah hal itu akan mungkin terjadi?’

Sha’b menjawab, ‘Ya.’ Dan atas kehendak Allaah, ternyata Sha’blah yang meninggal terlebih dahulu. Tidak lama Auf bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi tersebut Auf bertanya, ‘Saudaraku, apa yang terjadi denganmu?’

Sha’b menjawab, ‘Allaah telah mema’afkanku setelah proses yang sangat panjang.’

‘Aku melihat ada kilatan berwarna hitam di lehermu, apakah itu saudaraku?’ tanya Auf.

‘Ini adalah uang sepuluh dinar yang pernah aku pinjam dari seorang Yahudi, uang itu belum aku kembalikan kepadanya dan masih berada di laciku. Tolong saudaraku, berikan uag sepuluh dinar itu kepada Yahudi itu. Ketahuilah saudaraku, tidak ada satu kejadian pun yang akan menimpa keluargaku setelah aku meninggal ini, kecuali kabarnya sampai kepadaku, sampai berita kematian kucing sekali pun. Ketahuilah saudaraku, bahwa putriku akan meninggal dalam waktu enam hari ini, maka sampaikanlah kepada keluargaku agar mereka mengajarkan kebaikan yang baik kepadanya.’

Ketika pagi tiba, Auf berkata kepada dirinya sendiri, Aku yakin mimpi malam tadi sebagai petunjuk dan pemberitahuan dan aku harus segera menemui keluarganya.’

Auf lalu mendatangi keluarga Sha’b. Mereka pun menyamutnya dengan hangat, ‘Selamat datang Auf, apakah kau pantas berbuat demikian dengan keluarga saudaramu, sejak Shab meninggal, kau tidak pernah berkunjung lagi ke rumah.’

Setelah ngobrol, Auf lalu menuju ke laci sebagaimana yang ditunjukkan Shab dalam mimpinya. Ternyata benar, di dalamnya ada uang dinar. Lalu uang itu dibawa untk dikembalikan kepada si Yahudi. Ketika sudah bertemu, Auf berkata, ‘Apakah kau ada urusan dengan Sha’b?’

Yahudi itu menjawab, ‘Semoga Allaah merahmatimu, Sha’b, dia sahabat pilihan Rosulullaah. Dia berutag padaku sepuluh dinar, tapi aku telah membebaskannya dan merelakannya.’

Auf lalu berkata, ‘Apakah uangnya ini?’
Yahudi itu menjawab, ‘Ya, itu uangnya.’
Auf lalu memberikan uang dinar tersebut.

Setelah kembali ke kelurga Sha’b, Auf bertanya kembali kepada keluarganya, ‘Apa yang terjadi baru-baru ini di keluarga ini?’

‘Iya, kucing kami baru meninggal beberapa hari yang lalu di rumah ini.’

Auf berkata, ‘Ini hal kedua yang betul=betul terjadi sebagaimana yang disebutkan oleh Sha’b.’

‘Di mana putri saudaraku itu?’ tanya Auf kembali.

Mereka menjawab, ‘Ia kini sedang bermain.’

Auf lalu mendatanginya, dan ternyata ia sedang demam. Auf lalu berkata, ‘Perlakukan ia dengan sagat baik.’ Dan tidak lama sesudah itu, putri Sha’b tadi meninggal dunia persis setelah enam hari.
[HR. Ibnu Abid Dunya]

wallohu a;lam
semoga bermafaat
Prihasti Septiningsih
sumber: ‘Kisah-kisah hikmah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: