Rahasia Sembahyang

Rahasia Shalat

(Kisah-kisah berhikmah yang dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul
Islam Imam Al-Ghazali r.a.)

Dikisahkan bahwa Maimun bin Mahran tiba di mesjid, lalu orang-orang
berkata kepada beliau bahwa orang ramai sudah pulang, karena shalat
berjama’ah telah selesai. Lalu Maimun menjawab,. “Inna lillahi wa inna
illaihi raaji’uun!… Sesungguhnya keutamaan shalat ini (shalat jama’ah)
adalah lebih baik bagiku daripada menjadi wali negeri Irak.” (IU1-518)
(artinya dikutip dari kitab Ihya Ulumuddin jilid 1 halaman 518)

Dikatakan bahwa pada hari kiamat dibangkitkan dari kubur suatu kaum,
wajah mereka berseri-seri seperti bintang yang berkilauan. Kamudian para
malaikat pun bertanya kepada mereka, “Apakah amal perbuatanmu dahulu?…”
Mereka menjawab,.. “Adalah kami yang apabila mendengar adzan, lalu kami
bangun bersuci dan tidak di ganggu oleh hal yang lain.” Kemudian
dibangkitkan dari kubur suatu golongan, yang wajah mereka seperti
rembulan,. dan menjawab golongan ini sesudah ditanya, “Adalah kami yang
berwudhu sebelum masuk waktu shalat…” Kemudian dibangkitkan suatu
golongan, yang wajah mereka seperti matahari,. dan golongan ini pun
menjawab sesudah ditanya,.”Adalah kami yang mendengar adzan di masjid…”
(IU1-518)

Tatkala memakai -khamishah (kain hitam empat persegi) yang dihadiahkan
oleh Abu Jahm kepada-nya. Dan pada kain itu terdapat cap bendera Nabi.
Lalu Nabi bershalat dengan kain itu.

Maka di bukanya sesudah shalat seraya bersabda,.”Kembalikanlah kain ini,
kepada Abu Jahm,. karena kain itu telah melalaikan aku dari shalatku, dan
bawa saja kepadaku kain selimut Abu Jahm.”

Ketika itu Rasulullah saw menyuruh memperbaiki sandal alas kakinya bagian
atas. Kemudian beliau saw memandang kepadanya di dalam shalat, karena
barunya. Maka beliau saw menyuruh membukanya dan mengem-balikan bagian
alas kaki yang lama.

Adalah Rasulullah saw memakai alas kaki, lalu beliau saw kagum oleh
kebagusannya. Maka beliau bersujud kepada Allah, kemudian bersabda:

“Saya merendahkan diri kepada Rabbku ‘Azza wa Jalla, kiranya Dia tidak
memurkai saya..”

Kemudian beliau saw keluar membawa alas kaki itu dan memberikannya kepada
peminta pertama yang di jumpainya. Kemudian, disuruhnya Ali ra.
membelikan dua alas kaki dari kulit yang disamak, yang telah dibuang
bulunya, lalu beliau saw mengenakannya. (IU1-561)

Pada tangan Rasulullah saw, terdapat sebentuk cincin dari emas, sebelum
diharamkan. Dan ketika itu beliau di atas mimbar, lalu dilemparkannya
cincin itu, seraya bersabda,.. “Diganggu aku oleh benda ini, karena
memandang kepadanya dan memandang kepada kalian.” (IU1-562)

Abu Thalhah bershalat dalam suatu dinding tembok yang padanya terdapat
sebatang kayu. Lalu beliau kagum kepada seekor burung yang
kehitam-hitaman, yang terbang di pohon itu mencari jalan keluar. Lalu
diikuti oleh Abu Thalhah sebentar burung itu dengan matanya. Kemudian
beliau tidak mengetahui lagi, berapa raka’at sudah shalatnya. Kemudian
Abu Thalhah menerangkan apa yang telah menimpa dirinya dari kekacauan itu
kepada Nabi saw, kemudian beliau berkata, “Yaa Rasulullah!.. Dinding
tembok itu adalah sedekahku. Perbuatkanlah menurut kehendakmu!” (IU1-562)

Dalam riwayat yang lain, Abu Thalhah bershalat di dalam dinding temboknya
dan pohon kurmanya berbuah lebat. Maka Abu Thalhah memandang kepada pohon
kurma itu dan membuat beliau kagum. Sehingga beliau lupa akan jumlah
raka’at pada shalatnya. Kemudian peristiwa ini diceritakannya kepada
Usman ra. seraya beliau mengatakan: “Dinding tembok itu adalah sedekahku,
buatkanlah dia pada jalan Allah ‘Azza Wa Jalla!.” Maka dijuallah oleh
Usman ra. dengan lima puluh ribu. (IU1-562)

Adalah ‘Amir bin Abdullah, termasuk orang yang khusyu’ di dalam shalat.
Dan apabila beliau mengerjakan shalat, kadang-kadang anak perempuannya
memukul rebana dan wanita-wanita bercakap-cakap sesuka hatinya di
rumahnya. Beliau tidak mendengar dan tidak memahami yang demikian itu.
Dan pada suatu hari ditanyakan kepadanya,. “Adakah jiwa engkau mengatakan
sesuatu kepada engkau di dalam shalat?..” Beliau menjawab,. “Ya ada.
dengan tegakku di hadapan Allah ‘Azza Wa Jalla dan berpaling aku kepada
salah satu dari dua negeri.”

Ditanyakan lagi,. “Adakah engkau mendapati sesuatu dari pada hal -ihwal
duniawi?..”

Beliau menjawab,. “Meskipun tanggal akan gigiku, aku lebih menyukainya
dari pada aku dapati di dalam shalatku, apa yang kamu dapati.” (IU1-585)

Diriwayatkan bahwa ‘Ammar bin Yasir, mengerjakan suatu shalat lalu tidak
berlama-lama padanya. Maka orang bertanya kepadanya, “Mengapakah engkau
sederhanakan shalat itu, wahai Abul-Yaqdhan?..”Maka ‘Ammar menjawab,..
“Adakah engkau melihat, aku mengurangi sesuatu dari batas-batas yang
dimestikan dari shalat?.” Menjawab yang bertanya tadi: “Tidak!..” Maka
menyambung ‘Ammar,.”Aku memburu, di waktu setan lengah, Sesungguhnya
Rasulullah saw pernah bersabda,.”Bahwasanya hamba yang mengerjakan shalat
itu tidak dituliskan untuknya setengah shalat, tidak sepersepuluhnya,
tidak seperlimanya, tidak seperenamnya dan tidak sepersepuluhnya,” dan
seterusnya Nabi menjelaskan, “Sesungguhnya, dituliskan bagi hamba itu
dari pada shalat-nya itu ialah akan apa yang terjangkau oleh ‘aql-nya
dari shalatnya itu.”

Kuswandani Yahdin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: