*Malaikat Maut*

“Disadur dari buku Mati sebelum Mati, M. R. Bawa Muhaiyaddeen”

*Pertanyaan : *Malaikat ‘Izrail as disebut sebagai Malaikat Maut. Apakah
malaikat itu berhubungan dengan tubuh? Apakah fungsi ‘Izrail as mengabdi
dalam tubuh, dan di mana kekuatan itu berada?

*Jawab :* Fungsi yang dia layani adalah takdir [*nasib*], yang telah
ditetapkan oleh Tuhan. Aku telah melihatnya dengan mataku sendiri. Pada
suatu waktu, dua orang dari kami terbang melaksanakan suatu misi tertentu
untuk melihat sesuatu. Setelah beberapa saat, aku meninggalkan satu orang
lainnya di belakang dan berjalan sendirian. Kemudian aku melihat Malaikat
‘Izrail as duduk di atas mimbar, yang menurut perkiraanku tingginya dua
ratus lima puluh mil. Aku tidak dapat melihat kakinya. Dia sangat, sangat
tinggi. Di dekatnya, terdapat sebuah pohon dengan daun-daun dalam setandan
lima atau enam. Daun-daun itu bersinar seperti bintang, dan karena sinarnya
seluruh tempat itu gemerlapan. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat tempat
lain untuk melakukan pengadilan. Ketika tiap-tiap roh datang, ia ditanyai
dan kemudian beberapa di antaranya diijinkan pergi melalui satu jalan dan
yang lain diarahkan ke lain jalan.

Satu golongan diarahkan di atas jalan yang sangat tinggi menuju
surga, ke singgasana [*’arsy*] Tuhan. Pohon tersebut dekat dengan *’arsy*.
Golongan yang digiring ke jalan lain dikirim ke neraka; mereka melewati
jalan menurun. Inilah salah satu keajaiban-keajaiban yang aku saksikan. Aku
telah melukiskannya dalam buku pengalaman-pengalaman mistis.

Aku melihat Malaikat Maut memiliki empat wajah; satu wajah
hitam, yang satunya berwajah susu, satunya lagi berwajah api, wajah yang
lainnya lagi melihat pada pohon itu sepanjang waktu.

Aku mengucapkan salam kepadanya, “*As-Salamu’alaikum, Ya
‘Izrail.* Semoga Allah memberi kedamaian kepadamu.” Seseorang memberi tahu
kepadaku bahwa dia adalah ‘Izrail as. Ketika aku melihatnya, seluruh dunia
berada di dalam matanya, setiap kehidupan ada di dalam matanya. Aku tidak
dapat melihat dunia di mana pun juga kecuali dalam matanya. Ketika aku
melihat wajah susunya, ia merupakan wajah yang menawan. Aku melihat wajah
api, dan ia membara bagai api. Wajah hitamnya sangat gelap, dan wajah ke
empat menghadap ke arah pohon. Ketika roh datang kepadanya, dia
membentangkan tangannya dan mencengkeramnya. Ada sebuah gunung roh yang
sangat besar.

Aku mendengar sebagian orang menjerit, ‘Izrail menatap mereka
dengan tatapan api. Mereka berteriak, “Jangan bakar aku. Ia seperti api.”
Yang lainnya berteriak, “Oh, mereka memotong-motongku. Mereka membunuhku.

Kemudian aku berbicara dengan Malaikat Maut. Dia berkata, “Lihat
mataku. Seluruh dunia ada dalam mataku. Aku laksanakan apa yang Allah
perintahkan kepadaku; itulah sebabnya aku disebut ‘Izrail. Aku hanya
melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadaku. Tidak ada roh yang
dapat lari dari mataku, sekalipun ia bersembunyi di bawah batu. Tiada
seorangpun yang dapat sembunyi dariku. Mereka tidak dapat hidup di mana aku
tidak dapat melihat.”

Kemudian aku melihat beberapa orang dengan tanduk di kepala
mereka yang bergerak-gerak, dan mata mereka juga seperti mata ‘Izrail as.
Mereka mencengkeram orang-orang dan melemparkan mereka ke sebuah padang yang
luas, tempat pengadilan, di mana pertanyaan akan dilaksanakan. Terdapat
sebuah platform sekitar lima kaki tingginya, dengan sebuah selubung, dan
terdapat sebuah cahaya yang gemilang mengelilingi selubung itu. Seseorang di
sana. Dia yang diberi pertanyaan dan ditunjuk dengan tangannya untuk
menunjukkan arah mana yang harus diambil seseorang. Kemudian orang-orang
dibawa ke satu atau lain jalan.

Aku bertanya kepada Malaikat ‘Izrail as, “Engkau selalu melihat
ke arah pohon itu. Apakah cahaya-cahaya itu?”

Dan dia berkata, “Semua roh makhluk hidup ada di pohon ini.
Seketika cahaya berhenti bersinar, kami tahu bahwa kehidupan seseorang
berakhir. Cahaya yang sama yang memancar di sini, juga memancar dalam
tiap-tiap ciptaan. Cahaya merepresentasikan cahaya roh masing-masing orang.
Dalam tiap-tiap orang terdapat roh, dan di sini ia adalah cahaya. Seketika
cahaya di pohon ini memudar, berarti bagian makanan dan minuman [*rizqi*]
seseorang telah habis, dan itulah saatnya bagiku untuk membawanya kembali.
Maka aku bentangkan tanganku kearahnya dan memanggilnya ke sini. Aku harus
melihat ke pohon ini setiap waktu untuk mengetahui kapan cahaya berhenti
bersinar. Itulah sebabnya aku harus senantiasa mengawasi pohon ini.

“Roh-roh jin ditangkap oleh wajah apiku. Kejahatan ditangkap
dengan wajah hitamku. Orang-orang salih yang memiliki kasih sayang Tuhan,
pikiran-pikiranNya, dan senantiasa mengingatNya, aku terima dengan wajah
susuku.

“Aku tidak di atas ataupun di bawah. Engkau tidak dapat
mengatakan bahwa aku berada di suatu tempat tertentu. Itulah aku. Dunia ada
dalam setiap manusia, dan seluruh alam dapat disaksikan dalam matanya. Aku
menyadari segala sesuatu ada dalam diriku.” Kemudian dia mengatakan kepadaku
untuk melangkah lebih jauh dan melihat; dan aku melihat bahwa jumlah
orang-orang yang menuju surga sedikit dan jumlah orang-orang yang ke neraka
banyak. Aku sangat lelah, dan karenanya kami berhenti.

*Al-hamdulillah. As-Salamu’alaikum,* semoga kedamaian selalu
beserta kalian. Semoga Tuhan melindungi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: