Macam -Macam Kerusakan Pada Hati

Kata orang ahli ibadah, ”Seseorang yang khusyuk ketika mendirikan shalat itu karena Allah sudah menganugerahkan nikmat ibadah kepadanya. Nikmat ibadah yang dirasakannya itu akibat dari keberhasilan dia telah menempatkan Allah selalu berada di dalam hatinya. Seluruh ruang-ruang hatinya itu telah berhasil dibersihkan dari tuhan-tuhan selain Allas SWT yaitu berupa hawa nafsu. Dengan menempatkan Allah Ta’ala sebagai Tuhan satu-satunya di dalam qalbu, maka kemana pun dia pergi selalu bersama Allah, kapan pun dia berada selalu ada Allah. Qalb yang demikian ini adalah qalb yang sehat, qalb yang jernih cemerlang, sehingga dapat memantulkan cahaya Allah dari dalam dadanya. Kekuatan cahaya yang memancar itu membuat dia mampu memahami dengan mudah kandungan Al-Qur’an, hal ini karena qalb-nya telah Allah sucikan, ”Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhilmahfudz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS Al-Waaqi’ah [56]:77-79)

Kebalikannya adalah qalbu yang sakit, yaitu qalbu yang disebabkan karena tidak dijaga kesehatannya. Qalb yang tidak sehat itu disebabkan banyak hal, tapi pada intinya adalah tidak menempatkan Allah sebagai Tuhan satu-satunya di dalam qalb sebagaimana yang Allah inginkan. Sebaliknya, kebanyakan malah tuhan-tuhan yang lain dihadirkan di dalam qalbu. Tuhan-tuhan selain Allah ini dibiarkan menghuni bilik-bilik rumah qalb, lalu kemauan tuhan-tuhan yang selain Allah itu dipenuhi keinginannya. Kalau sudah demikian, apakah Allah SWT bersedia singgah di qalb kita? Pada hal, qalb kita seharusnya adalah ’baitullah’ atau rumahnya Allah.

Lalu siapakah yang dimaksud dengan tuhan-tuhan selain Allah itu? Yaitu tidak lain adalah para hawa nafsu, merekalah yang selama ini selalu mendominasi nafs (jiwa) kita, ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?.” Siapa sajakah tuhan-tuhan dari hawa nafsu mereka itu? Menurut hadits Imam Shadiq dan Imam Kazhim meriwayatkan bahwa hawa nafsu yang dijadikan sebagai tuhan adalah: Kejahatan, Kekufuran, Ingkar, Putus asa, Kezaliman, Tidak ridha, Obsesif, Mutung (putus ikhtiar), Ambisius, Lalai, Mengumbar marah, Bodoh, Dungu, Gegabah, Mengumbar kesenangan (hasrat), Kasar tidak santun, Ceroboh, Takabur, Tergesa-gesa, Kemunafikan, Pengoceh, Menentang, Membandel, Dendam kesumat, Keras, Ragu, Meronta (berontak), Pendendam, Fakir (serba kurang), Berangan-angan, Lupa, Pemutusan, Ingin lebih, Isolasi diri, Rasa permusuhan (tersaingi), Melepas, Maksiat, Arogansi, Bencana, Benci, Bohong, Batil, Khianat, Penodaan, Lamban, Riya’ ingin dipuji, Penyangkalan, Egois, Makar, Pembeberan, Penyia-nyiaan, Lepas kendali, Tidak berupaya, Ingkar janji, membongkar aib (keburukan), Rakus, Boros, Fanatisme, Angkuh/Sombong, Kotor, Tidak tahu malu, Berduka, Meremehkan, Kesukaran, Kebinasaan, Petaka, Berlebihan, Kikir/Pelit, Nestapa, Keras kepala, Pongah, Lengah tidak mawas diri, Memecah belah.

Akibat dari menuhankan hawa nafsu, maka hati akan menjadi sakit karena tidak mendapat cahaya Allah, sehingga tidak memperoleh anugerah mendapatkan nikmat spiritual ketika melakukan ibadah. Penyakit-penyakit hati ini adalah:

• Ar-Rayan (karat)
Ar-Rayan adalah karat yang menutupi hati. Allah berfirman, ”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS Al-Muthafifin [83]:14) Dalam tafsirnya Ar-Raqhib dikatakan, ”Hal tersebut bagaikan karat yang menutupi kejernihan hati mereka. Sehingga tidak jelas perbedaan antara kebaikan dan keburukan.”
• Ash-Sharf (memalingkan)
Ash-Sharf adalah suatu kondisi, di mana Allah memalingkan hati yang lalai dari mengingat Allah, karena mereka tidak mau mengerti. Firman Allah Ta’ala, ”Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS At-Taubah [9]:127)
• Ath-Thab’ (terkunci)
Allah Ta’ala berfirman, ”…dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”. (QS Al-A’raaf [7]:100)
Maksudnya adalah bahwa Allah membentuk karakter hati bukan dari shibghah (celupan) Allah, melainkan dari bentukan hawa nafsu dan syahwat dunia.
• Al-Khatm (Tertutup)
Allah SWT berfirman, ”Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang Amat berat.” (QS Al-Baqarah [2]:7) Tertutupnya qalb, karena mata hati dan pendengaran hati dikunci mati Allah SWT, orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya. Bila penglihatan ditutup, mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka Lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.
• Al-Aghfal (Terkunci)
Allah SWT berfirman, ” Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad [47]:24)
• At-Taghlif (Penyelimutan)
Allah SWT berfirman, ”Dan mereka berkata: ’Hati Kami tertutup (terselimuti)’. Bahkan sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; Maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS Al-Baqarah [2]:88)
• At-Taknin (Penyumbatan)
Allah SWT berfirman, ”Mereka berkata: “Hati Kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan antara Kami dan kamu ada dinding,..” (QS Fushshilat [41]:5)
• At-Tasydid (Pengerasan)
Allah SWT berfirman, ”…Ya Tuhan Kami, binasakanlah harta benda mereka, dan keraskan (wasydud) hati mereka, Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS Yunus [10]:88)
• Al-Qaswah (Membatu)
Allah SWT berfirman, ”Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (AQ Az-Zumar [39]:22) Dan Allah SWT berfirman, ”…kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS Al-Hadid [57]:16)

Inilah gambaran-gambaran tentang kerusakan hati serta berbagai keadaannya dan perkembangannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Qu’anul Karim.
_______________
Sumber: Muhammad Mahdi Al-Ashify, ”Terapi Menundukkan Hawa Nafsu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: