Berserah Diri (3)

Banyak sekali atau bahkan hampir semua, amal dan usaha kita sekarang
ini lebih merupakan wujud penolakan kita terhadap karsa Allah.
Lihatlah apa yang mendasari kita bekerja? Apa yang mendasari kita
sekolah atau kuliah? Apa yang mendasari kita mengatasi masalah?

Mungkin apabila kita mau jujur terhadap diri kita, jawabannya adalah karena
ketakutan kita akan kelaparan, kekurangan harta, takut disepelekan orang,
karena tersinggung, karena kebencian dan banyak lagi alasan lainnya, yang
semua itu bermuara kepada keinginan bersenang-senang dalam kehidupan
dunia (syahwat) atau ego (hawa nafsu).

Karena itulah al Qur’an dalam perspektif lain menjelaskan tentang bahaya
mengikuti hawa nafsu dan syahwat, serta keharusan bagi kita untuk berupaya
mengendalikannya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
(QS. 45:23)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:43-44)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. 12:53)

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan
dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan
penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang
yang lalai. (QS. 16:108)

Tidak akan mungkin kita menjadi seorang manusia yang menyerahkan diri kepada
Allah, apabila tarikan-tarikan hawa nafsu dan syahwat masih demikian kuat
terjadi dalam diri kita. Dan semakin hawa nafsu dan syahwat terkendali serta jinak,
maka setahap demi setahap meningkatlah keberserahandirinya kepada Allah Ta’ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: