Sekilas Tentang Qalbu

Qalbu terbagi menjadi 2 jenis:

1. Qalbu Jasmaniyah , Yaitu jantung (heart) yang secara medis dianggap sebagi pusat
kehidupan manusia.
2. Qalbu Ruhaniyah , Yaitu yang merasakan dan memahami. Lebih jauh lagi qalbu ini yang akan dapat mengenal Allah Ta’ala maka disebut pula Qalbu Rabbaniyah.

Nabi SAW mengibaratkan qalbu sebagai singgasana raja. Siapa yang mendudukinya, maka jadilah ia raja. Baiknya seorang raja, akan mengakibatkan baik pula seluruh rakyat dan tentaranya. Tetapi buruknya seorang raja, akan mengakibatkan buruk pula seluruh rakyat dan tentaranya.

Dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah SAW bersabda : “Manusia, dua matanya itu pemberi
petunjuk. Kedua telinganya itu corong. Lidahnya itu juru bahasa, Kedua tangannya itu
sayap. Kedua kakinya itu pos. Dan hatinya itu raja. Apabila raja itu baik, niscaya baiklah
tentara-tentaranya”. [HR Abu Na’im dan Thabrani].

Sesungguhnya di dalam diri manusia terjadi peperangan perebutan singgasana qalbu, antara nafs (Al Muthmainnah) dan hawa nafsu serta syahwat. Kebanyakan manusia akan mendapatkan bahwa peperangan tersebut dimenangkan oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Nafsnya kalah, dan dipenjara, dikepompongi oleh hawa nafsu dan syahwat. Akibatnya seluruh aktivitas manusia yang singgasana qalbunya diduduki oleh hawa nafsu dan syahwat inilah kondisi yang buruk. Seluruh aspek amalnya menjadi rusak karena hal tersebut.

Namun apabila nafs yang menjadi rajanya, maka hawa nafsu dan syahwatnya akan digembalakan. Kapan diperlukan, akan digunakan. Kapan tidak dibutuhkan, akan dijaga baik-baik. Inilah yang akan menyebabkan baik seluruh amalnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Dalam diri manusia itu ada segumpal darah, yang apabila
baik maka baik seluruhnya, tetapi apabila buruk maka buruk seluruhnya, itulah qalbu”.
[HR. Bukhari]

Demikian pentingnya fungsi qalbu, maka Allah Ta’ala hanya menjatuhkan pandangan kepadanya. Bukan kepada selainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian
dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada qalbu kalian”.
[HR Muslim]

Agar singgasana qalbu dapat diduduki oleh nafs, bukan oleh hawa nafsu atau syahwat, tiada lain caranya adalah dengan membuat nafs nya sehat. Dan nafs yang sehat hanya dapat terjadi apabila qalbunya bersih sehingga ruh yang bersemayam di dalamnya dapat memberikan energi buat nafs.

Qalbu dapat bersih apabila Allah Ta’ala memberikan rahmat-Nya dengan mencurahkan cahaya Iman untuk membersihkannya. Dengan cahaya iman yang memancar di qalbu itulah Allah SWT mengeluarkan seseorang dari gelap gulita kepada terang benderang. Dari kejahilan tentang Allah SWT menjadi ma’rifatullah. Dari ketidaktahuan tentang pelik-pelik dan hakikat-hakikat agama
menjadi pemahaman dengan keyakinan.

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa
yang Dia kehendaki… (QS. 24:35) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh
Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. 24:40)

Dan dengan saran cahaya itu pula Allah SWT memperlihatkan dan mengajarkan kebenaran ayatayat-Nya. Termasuk penjelasan tentang ayat-ayat mutasyabihat yang ilmu dan keterangannya ada di sisi-Nya yang tidak diajarkan kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang
diberi ilmu. (QS. 29:49) Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di
antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang
lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. … padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya
melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman
kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan ulil albab. (QS. 3:7)

Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan padanya cahaya, yang Kami
tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS.
42:52) sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang
terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. 56:77-79)

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu
benar. (QS. 41:53)

Al Qur’an diwahyukan Allah SWT kedalam qalbu, bukan ke otak (akal jasamaniyah) Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu tidak akan mungkin seseorang dapat memahami kandungan Al Qur’an secara hakiki dengan qalbu yang gelap gulita dan lubb (akal nafs) yang mati. Karena itu Imam Al Ghazaly berkata : Barangsiapa buta qalbunya, maka tidak akan tersentuh agama ini kecuali kulit dan tandatandanya saja, sedangkan intisari hakikat-hakikat agama tidak tersentuh sama sekali.

Qalbu yang bersih merupakan alat untuk menangkap isyarat-isyarat dan petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 64:11)

Dari Ummu Salamah R.A, Rasulullah SAW bersabda : “Apabila dikehendaki oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya orang itu memperoleh pelajaran dari qalbunya.” [HR. Abu Manshur Ad-Dailamy].

Citra Allah Ta’ala

Perasaan yang ada dan tampak dalam diri manusia yang qalbunya kotor, bila ibarat gunung es di lautan, hanyalah gunung es yang tampak. Inilah yang dalam ilmu psikologi disebut sebagai Psyche. Padahal apabila qalbunya dibersihkan maka kemampuan gunung es yang di dalam lautan (yang tidak nampak), akan muncul dan puncak kemampuannya adalah pengenalan terhadap Allah Ta’ala, sehingga ia dapat menjadi saksi yang benar dan membenarkan bagi Allah Ta’ala serta menjadi citra-Nya di muka bumi ini.

Qalbu adalah barzakh (antara) bagi ruh, nafs dan jasad. Qalbu dan nafs ibarat kaca dengan rasahnya. Apabila qalbu kotor maka tidak berfungsilah nafs sebagai cermin. Dan dengan qalbu yang bersih maka ia dapat memantulkan ruh (zat) Allah. Maka jadilah ia citra/pencerminan dari Allah Ta’ala.

Qalbu yang dibersihkan Allah Ta’ala dengan cahaya iman, maka terbebaslah ia dari segala sesuatu selain Allah. Menyalalah Ruh Al Qudus di dalamnya. Ia menjadi Baitullah (rumah Allah). Dan ketahuilah bahwa Baitullah adalah masjid, dimana sesulit-sulit mendirikan masjid adalah masjid di dalam qalbu (masjid qalb).

Berkata Wahab bin Munabbih, bahawasanya Rasulullah SAW telah bersabda : Allah
Ta’ala telah berfirman : “Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi
sempit untuk merangkul Zat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh qalbu
seorang Mu’min.” [HR. Ahmad]

Keberadaan cahaya iman yang membersihkan qalbu telah membuatnya bercahaya. Ditambah lagi dengan menyalanya Ruh Al Qudus dalam qalbu. Hal ini dikatakan Al Qur’an QS 24:35 ibarat pelita (Ruh Al Qudus) yang berada dalam kaukaban (qalbu) di dalam lubang yang tidak tembus cahaya (jasad). Bahkan sebelum pelitanya menyala pun, sumbunya telah terang karena minyak dari pohon yang diberkati (cahaya iman).

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah
seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar
(misbah). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara
(kaukaban), yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu)
pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah
barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

Untuk itulah Rasulullah SAW mengisyaratkan qalbu Al Mukminun sebagai qalbu yang terdapat pelita di dalamnya.

Dari Abi Said Al Khudry, Rasulullah SAW bersabda : “Qalbu Al-Mukminun itu bersih,
padanya pelita yang bercahaya gilang-gemilang.” [HR. Ahmad dan Thabrani].

Dengan qalbu yang bersih, keberadaan cahaya iman menyebabkan syaithan takut mengelilinginya. Kemudian Allah Ta’ala menjadikan terbukanya alam-alam malakut.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Jikalau setan-setan tidak mengelilingi
qalbu anak-anak Adam, niscaya mereka dapat memandang alam malakut yang tinggi.”
[HR. Ahmad]

Keimanannya tidak lagi sekedar keimanan yang taklid atau sekedar argumentatif (mutakallimin). Ia menyaksikan langsung apa-apa yang diimaninya dalam rukun iman yang enam. Inilah keimanan arifin, keimanan yang hakiki.

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang
sahabat Anshar bernama Haritsah. Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana keadaanmu
ya Haritsah?” Haritsah menjawab : “Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang
mukmin billah”. Rasulullah SAW menjawab: “Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang
engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan!” Haritsah menjawab : “Ya
Rasulullah, hawa nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk
beribadah kepada Allah dan di waktu siang hamba berpuasa…” Sekarang ini hamba
dapat melihat Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba… Hamba dapat melihat
orang di surga saling kunjung mengunjungi, Hamba dapat melihat orang di neraka
berteriak-teriak…”Maka Rasulullah SAW berkata : “Engkau menjadi orang yang Imannya
dinyatakan dengan terang oleh Allah Ta’ala di hatimu”. [Hadits dari Anas Bin Malik]

Harta Karun yang Hilang

Qalbu yang bersih, itulah harta karun yang hilang. Kita harus menggalinya agar ia kembali muncul dipermukaan. Alangkah sayangnya apabila kita menyadari keberadaan dan fungsi qalbu ini. Yang penemuan atasnya merupakan prasayarat mutlak agar seseorang dapat berjalan menuju-Nya.

Mustahil seorang manusia dapat selamat kembali kepada Allah Ta’ala dengan qalbu yang kotor tertutup noda-noda dosa. Karena ini adalah tempat jatuhnya pandangan Allah Ta’ala kepada seorang manusia. Mustahil seorang manusia mendapat bimbingan-Nya dengan qalbu yang kotor, karena melalui media inilah Allah Ta’ala memberikan bimbingan kepadanya.

Dengan qalbu yang bersih, seorang manusia dapat menangkap petunjuk Allah Ta’ala langsung ke dalam dirinya. Al Qur’an yang merupakan panduannya dalam beragama, menjadi terbuka dan jelas dalam dirinya. Ia pun mengimani dengan nyata apa-apa yang diimaninya. Tidak sekedar taklid atau sekedar dengan dalil-dalil argumentasi, karena sesungguhnya ini hanyalah iman yang semu. Ia dapat menjadi saksi bagi Allah Ta’ala yang benar dan membenarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: