Pelajaran Dari Qurban

Bertahun-tahun Ibrahim As. menanti kedatangan seorang anak yang akan
meneruskan perjuangan menegakkan agama Allah di muka bumi. Tatkala
lahir Ismail As. maka betapa senangnya hati seorang Ibrahim As.
mendapatkan buah hati, beliau As. sangat mencintainya, dan secara
manusiawi adalah wajar saja seseorang mencintai buah hatinya yang
telah ditunggu bertahun-tahun.

Namun Allah tak hendak membiarkan hambaNya mencintai seseorang
melebihi kecintaan kepadaNya. Maka Allah memberi petunjuk kepada
Ibrahim di dalam mimpi, Allah memerintahkan: “Wahai Ibrahim,
sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” Lalu Ibrahim memohon agar
Allah mengulangi mimpi itu sehingga tidak ada keraguan di dalam
hatinya, dan Allah mengulanginya sampai dengan malam ketiga: “Wahai
Ibrahim, sembelihlah apa yang sangat engkau cintai!” maka Ibrahim
menyampaikan mimpi itu kepada putra kesayangannya, dan Ismail As.
berkata: “Wahai Bapakku, jika itu adalah perintahNya, maka
lakukanlah, insya Allah aku termasuk golongan orang-orang yang sabar”
(QS. As Shaffaat : 102)

Maka sembelihlah apa-apa yang dapat menghalangi kecintaan kepada
Allah, karena cinta terbesar kita hanyalah kepada Allah (QS.Al
Baqarah : 165) Yang dapat mempengaruhi kecintaan kita kepada Allah
adalah hawa nafsu dan syahwat kita, sehingga tanpa sadar kita
mencintai sesuatu selain Allah karena hawa nafsu kita, bukan karena
cinta kita kepada Allah dan RasulNya.

Di dalam mimpinya, Ibrahim As. melihat dirinya sedang menyembelih
anaknya. Hal itu bisa saja terjadi kepada diri kita, di dalam
riyadhah kita melihat diri kita dikubur atau dimasukkan ke dalam
liang lahat, yang menggambarkan agar matikan kecintaan-kecintaan
kepada selain Allah karena pengaruh diri (nafs).

Kerjakan apapun yang ada di depan kita, di dalam kehidupan sehari-
hari, karena Allah semata (ikhlas) tidak ada pengaruh dari hawa nafsu
dan syahwat kita yang bersumber dari diri kita, untuk itu marilah
kita matikan diri kita (bunuh diri kita / fana, QS. 2 : 54) dan
leburlah bersama Allah, sehingga semua kehendak kita sesuai dengan
kehendakNya.

Terimalah semua nikmat Allah yang telah diberikanNya dengan rasa
syukur kepada Allah semata, dengan berkurban, yang disimbolkan dengan
penyembelihan hewan kurban, biarlah darah dan jiwa yang dikurbankan
melambangkan matinya kecintaan selain Allah yang terpengaruh oleh
hawa nafsu dan syahwat.

Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, maka Aku pun akan bekerja pula
(QS. 39 : 39) Ikhlas bekerja dimanapun kita berada, di kantor, di
lapangan, di hutan, di pasar, atau di dalam rumah sekalipun, maka
Allah akan mengatur apa-apa yang akan terjadi kemudian (tawakkal).

Setiap kali kita menghadapi persoalan hidup, pasti ada hal-hal yang
mengganjal di hati, mungkin sesuatu yang tidak mengenakkan kita, atau
mungkin sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dengan kehendak hati
kita, maka bersabarlah di dalam menunggu ketetapanNya, karena mungkin
kehendak hati kita pada saat itu tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Sehingga hal yang paling bijaksana yang harus kita ambil adalah
bersabar dengan keadaan yang tidak selancar dengan yang kita duga
sebelumnya.

Itulah yang sering dinasehatkan oleh Bapak kepada kita semua, bahwa
kita harus selalu teliti dengan S T S I setiap saat, dan dimanapun
kita berada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan semoga kita pun
termasuk golongan yang segolongan dengan Ismail As., yaitu golongan
orang-orang yang sabar. Di dalam buku “Cinta Bagai Anggur”, ditulis:
awal kearifan adalah sabar. Untuk bisa dekat dengan Allah, maka hal
yang utama yang harus ada di dalam jiwa kita adalah SABAR.

Sabar adalah salah satu sifat Allah dari 99 sifat Allah, yaitu Ash
Shabuur ( Yang Maha Penyabar ). Saat Allah meniupkan RuhNya ke dalam
jiwa kita, maka sifat-sifat itu telah ditanamkan Allah kepada jiwa
kita, dan karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan terus menerus,
maka jiwa kita tidak dapat memancarkan cahaya Allah yang berisi sifat-
sifat baik dariNya. “Sifat-sifat baik tidak dianugerahkan kecuali
kepada orang-orang yang sabar dan yang memperoleh keberuntungan yang
besar” (QS. 41 : 53)

Orang-orang yang Mabrur adalah orang yang sabar, karena Allah
menganugerahkan semua sifat-sifat baikNya. Haji yang mabrur adalah
seorang haji yang berkemampuan untuk memancarkan sifat-sifat baik
dari dalam dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: