Dosa Besar itu “Bernama” Keluh Kesah

Catatan Alfathri Adlin.

Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,

Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.

Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.

Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.

Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.

Dalam sebuah hadis, sayang saya hanya ingat redaksi umumnya, Rasulullah saw bersabda betapa herannya beliau terhadap keluh kesah manusia ketika mereka ditimpa kesakitan, karena seandainya manusia itu tahu bahwa kesakitan yang menimpanya merupakan wahana pembersihan, sehingga nanti saat manusia tersebut menghadap Tuhan sudah dalam keadaan bersih, maka tentu mereka akan senang menerimanya. Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya terlihat jelas juga di kalangan sufi (dan terutama para nabi). Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan dan tidak pernah berbuat banyak dan nyata untuk manusia di sekitarnya (Insya Allah, kalau ada waktu dan umur saya ingin sekali menuliskan betapa dodolnya stereotipe klise lagi basi ini, Insya Allah). Sekarang coba perhatikan puisi Rumi di atas, apakah Anda bisa menangkap ketangguhan yang dahsyat dalam puisi tersebut? Coba amati bait kunci ‘Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.’ Bahwa semua ungkapan cinta kepada Tuhan yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi (dan juga sufi lainnya) diimbangi dengan kesediaan mereka untuk menerima apa pun yang diperbuat Allah sebagai sang kekasih terhadap mereka sebagai para pecinta. Setiap orang bisa saja dengan mudah mengatakan “aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi ‘tamparan keras’ dalam kehidupan yang mengunjunginya sehingga terlahirkanlah keluh kesah baik di lisan mau pun dalam hati menunjukkan betapa cinta itu sebenarnya belum meresap.

Apabila dibaca kisah hidup Rumi, sebenarnya terlihat jelas bahwa dia pun menghadapi sekian banyak ujian, namun tak ada keluh kesah yang terungkap dalam puisinya, semata cinta kepada Allah. Padahal dia harus menghadapi sekian fitnah dan kedengkian dari kalangan muridnya karena pertemanannya dengan Syamsi Tabriz, dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak sulungnya pun beroposisi terhadapnya (bahkan Schimmel mencatat bagaimana Rumi pun tidak “bisa” ikut menguburkan anak sulungnya tersebut—tentu hal ini cukup menyakitkan bagi seorang ayah), dan sekian banyak fitnahan lainnya dari lingkungan sekitarnya.

Ketangguhan seperti ini bisa kita lihat juga dalam Mazmur yang ada di Alkitab milik umat Yahudi dan Nasrani. Mazmur itu merekam sekian madah dari Nabi Dawud as. Sebagaimana kita ketahui Rasulullah Saw sendiri pernah mengungkapkan bahwa dalam hal tertentu Nabi Dawud diuji lebih berat dari beliau Saw. Rasulullah memiliki keluarga dan sahabat yang taat padanya dan Allah. Sementara Nabi Dawud Saw, setelah menikah dengan anaknya Thalut (atau Saul dalam Alkitab), harus menerima keadaan bahwa dirinya difitnah hendak mengkudeta Thalut sehingga selama sekian tahun harus melarikan diri dari Thalut. Berulangkali Dawud memperlihatkan bahwa mudah saja baginya untuk membunuh Thalut, namun dia tidak mau melakukannya. Kemudian bagaimana dia dikhianati oleh istri-istrinya, bagaimana dia harus kehilangan sahabatnya, Yonatan, yang adalah kakak iparnya (putranya Thalut) karena mati dalam peperangan. Bagaimana dia harus menerima pengkhianatan dari teman-teman semeja makannya, bagaimana dia harus menghadapi kenyataan bahwa Absalom, anaknya, telah membunuh seorang saudara tirinya—saya lupa namanya—karena telah “berbuat tidak senonoh” terhadap adiknya Absalom—saya juga lupa siapa namanya (maklum, lagi di kantor dan gak megang Alkitab). Tidak hanya itu, Absalom pun di kemudian hari malah memerangi bapaknya hingga dia sendiri mati. Tidak cukup sampai di situ, Dawud pun harus melakoni skenario peristiwa dirinya “merebut” Batsyeba dari Uriah, kemudian bagaimana Dawud dimintai putusan apa hukuman bagi perkara seseorang yang memiliki 99 kambing malah mengambil satu kambing milik orang lain. Saat Dawud menjatuhkan apa putusan hukuman bagi si perebut satu kambing milik orang lain tersebut, sebenarnya Dawud tengah menjatuhkan “hukuman” untuk dirinya sendiri. Dan sekian anak yang lahir dari rahim Batsyeba akan meninggal, namun, Allah memang sebaik-baiknya Sutradara, justru dari Batsyeba inilah lahir seorang nabi Sulayman, dan bukan dari istri-istri lainnya yang dinikahi bukan dengan cara “sekontroversial” Batsyeba. Percayalah, kalau membaca seksama kisah hidup Dawud dari sumber-sumber yang ada di agama Semit, kita bisa agak sesak dada membayangkannya dan mengerti mengapa Rasulullah Saw sampai mengatakan bahwa Nabi Dawud memang diuji sekian hal yang lebih berat dari Rasulullah Saw.

Dengan brilian, Ibn ‘Arabi dalam Fushush Al-Hikam memaparkan bahwa dari namanya saja kita bisa tahu bahwa nama Muhammad dalam bahasa Arab ditulis dengan huruf yang saling tersambung, berbeda dengan nama Dawud yang ditulis terpisah-pisah antar tiap huruf, yaitu Dal, Alif, Wau, Dal, yang menunjukkan bagaimana kehidupan Dawud itu sendiri terpenggal-penggal oleh sekian ujian seperti yang bisa kita saksikan dalam alur kehidupannya. (Kalau ada yang kemudian mengomentari paparan Ibn ‘Arabi itu dengan sok hermeneutis, “Ah, itu kan cuma metode menafsirnya Ibn’Arabi aja”, maka saya cuma bisa berkomentar, “Kasihan sekali, terjebak hanya oleh satu cara pikir saja, seperti orang yang cuma punya palu, dan hanya palu, sehingga melihat segala hal sebagai paku…”)

Nah, kembali kepada Mazmur, silahkan simak madah demi madah yang tertuang di dalamnya, adakah keluh kesah terlontar dari Dawud karena sekian prahara kehidupan yang harus dihadapinya? Adakah keluh kesah karena dirinya didzalimi oleh si anu dan si anu? Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya namun seringkali teralihkan karena terbungkus oleh bentuk ungkapan-ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Dalam puisinya, Rumi bahkan mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan.

Itulah sebabnya, di kalangan para sufi, keluh kesah itu termasuk dosa besar yang susah untuk dibersihkan. Apabila hati itu seperti bola kaca, maka ada dosa-dosa yang menyerupai lumpur yang menempel dan membentuk kerak di luar bola kaca tersebut. Dengan air, lumpur itu bisa kembali dibersihkan. Namun, ada dosa-dosa yang begitu halus dan kecil seperti molekul, yang masuk ke dalam pori-pori bola kaca dan mengendap di bagian inti bola kaca. Keluh kesah termasuk dosa yang halus seperti itu, karena kaitannya dengan akidah seseorang terhadap Allah. Bagaimana cara membersihkannya? Bola kaca itu harus “dibedah” dan dibersihkan bagian dalamnya. Maka tak heran, bagi kalangan pecinta Alah, keluh kesah termasuk dosa besar. Kenapa? Banyak sufi, salah satu yang saya ingat adalah Abdul Qadir Jailani, menyatakan hal yang kurang lebih sama. Begini kurang lebih. Apabila kita mengenal sekian orang, kita umumnya membuat semacam identifikasi bahwa si A itu pengghibah, si B itu pemarah, si C itu tidak percaya diri di banyak hal, dan sebagainya. Kenapa identifikasi itu lahir? Karena dalam interaksi, kita melihat bahwa itulah karakteristik yang paling dominan pada diri orang-orang tersebut. Nah, dalam hal ini, Allah Ta’ala mengidentifikasi Diri-Nya sebagai Rahman dan Rahim, yang berarti menunjukkan bahwa dua asma itulah yang paling dominan pada Dia. Dua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya sehingga diabadikan dalam rajanya doa, yaitu Bismillahi Rahmani Rahimi. Dengan Rahman dan Rahim-Nya itu pulalah maka Dia selalu menegaskan bahwa Dia hanya memberikan yang terbaik bagi manusia. Ibn ‘Arabi mengutarakan bahwa Allah memiliki dua Tangan, Tangan Kanan merepresentasikan Kepemurahan-Nya, dan Tangan Kiri merepresentasikan Kemurkaan-Nya, padahal, kata Ibn ‘Arabi lagi, sebenarnya kedua Tangan tersebut hanyalah Tangan Kanan belaka.

Nah, karena itu, sebuah keluh kesah yang terlontar pada seseorang yang mengaku sebagai pecinta Allah, atau setiap orang yang mengaku beriman—seperti disinggung Rumi di atas—secara langsung sebenarnya merupakan sebentuk ketidakmenerimaan atas segala hal yang menghampiri dalam kehidupannya sekaligus tudingan bahwa Allah Ta’ala tidak adil. Sebuah keluh kesah secara langsung menghapuskan asma Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala, padahal kedua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya, asma yang mengidentifikasikan sifat dominan Diri-Nya. Di sinilah saya selalu loyo sekaligus kagum kalau melihat bahwa para pecinta Allah—para sufi sejati juga para nabi—benar-benar mengajarkan tentang ketangguhan dan keberserahdirian yang gila-gilaan. Sejujurnya, meskipun masih bermental gombal dan berwatak munafik kronis lagi akut, tapi saya selalu “kabita” melihat kemilitanan para sufi dan nabi tersebut dalam mencinta dan tangguh menerima apa pun. Tidak salah kan?

Ketangguhan untuk tidak berkeluh kesah itu memang tidak mudah. Tidak pernah ada yang mengatakan hal itu mudah. Misalnya, saat menyaksikan berbagai berita tentang gempa di tanah kelahiran, saya seringkali tidak tahan dengan beberapa narasi pembawa berita yang terlalu membimbing saya untuk akhirnya berkeluh kesah dan cenderung tidak menerima. Terlebih hal itu menimpa sebagian saudara saya juga. Saya juga tidak bisa mengiyakan begitu saja bahwa itu semua adalah azab dari Allah, karena pada kenyataannya saya juga tidak tahu apa Kehendak Dia atas peristiwa ini. Saya juga tidak mau menjadi terlalu sok saintis dengan memaparkan gempa tersebut secara sok ilmiah dan seolah memperlihatkan kewarasan nalar–padahal sebenarnya lebih mirip mati rasa—dalam banyak pembicaraan.

Saya lebih membutuhkan “penguatan” seperti ketika di berita tampil seorang Bapak yang berdiri di depan sekolah anaknya yang ambruk, dan dia belum tahu apakah anaknya masih hidup ataukah sudah mati. Tapi dia malah berkata, “Kalau pun anak saya sudah mati, tidak apa-apa, Allah rupanya lebih sayang pada anak saya.” Saya tidak bisa lupa hal itu hingga hari ini. Saya hanya membayangkan apakah kalau hal itu menimpa saya, bisakah saya berkata seperti Bapak itu? Menyusul lagi sebuah berita tentang seorang lelaki yang kehilangan semua keluarganya. Kini dia sebatang kara. Saya kembali tersentak, kalau saya dalam posisi lelaki tersebut, akankah saya masih berpegang bahwa Allah itu Rahman dan Rahim. Dari situ, saya kembali teringat kepada para pecinta Tuhan, kepada para sufi dan nabi yang begitu militan dalam mencintai Allah dan tidak berkeluh kesah. Betapa dalam kondisi kematian yang begitu mudah menjemput kita, ketika bumi yang kita pijak kini begitu mudah menggeliat sewaktu-waktu tanpa kita ketahui, maka ketangguhan untuk bisa menerima apa pun dalam kehidupan ini, seperti yang diperlihatkan para sufi dan nabi tersebut, benar-benar menjadi semakin “ngabibita”. Wallahu ‘alam bi shawwab.

Mohon maaf kalau ada silap kateu. Wassalam.

(Ya Allah, ampuni kalau melalui tulisan ini, kemunafikanku malah menjadi sumber fitnah bagi khazanah agama-Mu yang agung tersebut, semoga Engkau berkenan memudahkanku untuk senantiasa menjadi lebih baik hari demi hari. Amin.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: