Syawal

Dihubungkan dengan bulan sebelumnya, maka Syawal merupakan momentum untuk lebih meningkatkan apa yang sudah terbangun di bulan Ramadan.

Amalan-amalan selama Ramadan seperti salat lail, tilawah al qur’an, mendatangi dan memakmurkan masjid, zakat, infak, sedekah dan selayaknya lah bias bertahan dalam Syawal. Peningkatan dimaksud tentu saja harus positif. Tapi selain itu, Syawal sendiri memiliki sejumlah keutamaan.

SAAT ini kita berada di bulan Syawal 1430 H. Syawal dikenal sebagai momentum kemenangan setelah berjuang sebulan penuh pada bulan suci Ramadan. Di bulan ke-10 dalam penanggalan Islam ini ada sebagian kaum Muslimin yang tidak lagi bersemangat melaksanakan amal ibadah mereka sebagaimana yang mereka kerjakan pada bulan Ramadan.

Bahkan sebagiannya lagi justru memaknai bulan Syawal sebagai awal kebebasan melakukan kemaksiatan dan pelanggaran agama lainnya. Seolah-olah bulan Syawal adalah akhir dari pelaksanaan kebaikan-kebaikan setelah bulan sebelumnya.

Masjid-masjid yang sangat semarak, shaf-shaf yang penuh terisi pada bulan Ramadan, menjadi sepi seiring dengan berakhirnya Ramadan.

Alquran yang dapat dikhatamkan, bahkan hingga berkali-kali di bulan Ramadan menjadi bacaan yang paling jarang lagi dibaca. Dari seorang yang bersemangat menjadi qari’ Alquran tiba-tiba berubah menjadi qari’ koran saja.

Dalam tinjauan Islam, bulan Syawal adalah momentum tepat untuk mengawali kebaikan yang sesungguhnya. Jika diibaratkan, Ramadan adalah bulan latihan berbuat baik dan menahan dari berbuat tidak baik, maka Syawal adalah awal kompetisi ibadah yang sesungguhnya, yang akan dilaksanakan selama 11 bulan ke depan.

Di masa hidupnya, Rasulullah saw. tidak pernah mengatakan bahwa dengan datangnya Syawal maka umat Islam boleh meninggalkan kebaikan yang sebelumnya giat dikerjakan pada Ramadan, atau memulai segala pelanggaran dan kemaksiatan.

Bahkan telah banyak ulama yang mengingatkan umat Islam agar tidak menjadi ‘hamba Ramadan’, yaitu seseorang yang hanya bertakwa pada bulan suci tersebut, namun ketika Ramadan berlalu, ia kembali berperilaku layaknya orang-orang tidak bertaqwa.

Untuk menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan, Rasulullah saw. menganjurkan agar berpuasa selama 6 hari pada bulan Syawal, seperti sabda beliau, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dan meneruskannya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka ia seperti telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW bahkan pernah melakukan i’tikaf (berdiam di masjid untuk konsentrasi beribadah kepada Allah SWT) pada bulan Syawal seperti dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa, “Beliau juga pernah meninggalkan tempat itikafnya pada bulan Ramadan sampai kemudian beliau beri’tikaf pada 10
hari pertama bulan Syawal. (HR. Muslim).

Syawal bukan hanya sebagai momentum untuk mengawali pelaksanaan ibadah mahdlah saja, tetapi juga saat yang tepat untuk mengerjakan ibadah muamalah seperti pernikahan. Hal ini juga dicontohkan Nabi Muhammad saw ketika melangsungkan pernikahan dengan Aisyah RA. Salah satu istri Rasulullah saw
tersebut pernah berkata, Rasulullah menikahi aku pada bulan Syawal dan masuk padaku pada bulan Syawal.(HR. Muslim)

Hadis tersebut hingga kini dijadikan landasan bagi sebagian ulama seperti Imam An Nawawi yang merekomendasikan Syawal sebagai bulan yang baik untuk menikah. Sebab dengan menikah pada bulan ke-10 Hijriah, maka seseorang telah mencontoh Nabi Muhammad saw,

dan semoga pernikahan yang sesuai sunah itu menjadikan pasangan suami-istri sebagai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Walau perlu menjadi catatan bahwa bukan berarti menikah di luar bulan Syawal tidak sunah.

Syawal pun dalam tinjauan Fiqih Islam juga dikenal sebagai salah satu ‘bulan haji’ karena prosesi ibadah rukun Islam ke-5 dapat dimulai pada bulan ini. Ibadah haji yang dapat dimulai pada bulan Syawal adalah haji tamattu dan haji ifrat.

Kaum Muslimin pada bulan Syawal juga dianjurkan memperkuat semangat dalam berjuang menegakkan agama Allah swt. Dengan menjadikan Syawal sebagai awal memperkuat semangat perjuangan, Rasulullah saw bersama para pejuang Islam berhasil menaklukkan para pelanggar perjanjian dari kalangan Yahudi pada Perang Bani Qunaiqa’, yang telah menghinakan kehormatan seorang Muslimah, tahun 2 Hijriah.

Tiga tahun kemudian, pejuang Islam juga berjaya mengalahkan pasukan koalisi musyrikin Arab dan Yahudi dalam Perang Khandaq.

Dari pemaparan di atas, telah merupakan keniscayaan bagi seorang ‘alumni Ramadan’ untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan semangat ibadah dan ketaatan kepada-Nya pada bulan Syawal ini.

Sebab Tuhan yang kita sembah dengan sepenuh hati dan seikhlas jiwa pada bulan Ramadan lalu, adalah Allah swt, Tuhan yang berhak untuk kita sembah pada bulan Syawal ini, bahkan wajib kita sembah dan taati di setiap waktu dan desah nafas kita.

Syawal layak dijadikan sebagai bulan awal kebaikan yang sesungguhnya (hakiki) setelah kita ditempa selama bulan Ramadan. Dengan hadirnya bulan ke-10 penanggalan Hijriah ini godaan dan cobaan dalam melaksanaan kebaikan pasti akan semakin banyak dan berat.

Sebab hawa nafsu yang sesungguhnya akan senantiasa menggoda kita hingga 11 bulan ke depan. Sungguh tidak elok menghentikan amalan kebaikan pada bulan ini. Mari kita manfaatkan Syawal sebagai bulan awal kebaikan kita dalam beribadah kepada-Nya. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: