Sakitku AmpunanMu

Sakit Sebagai Kafarat

Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu
saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan
apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk
menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus
kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan
optimistis, ataukah putus asa.

Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi
sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti
akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di
atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik.
Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan
selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus
asa.

Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah
adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah
bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang
beriman. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya seorang yang beriman
ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu
adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia
sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.”
(HR Abu Dawud).

Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua
hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan
optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti
dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat
Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang-
orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit
ini. ”Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.”
(QS 2: 153).

Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada
terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa
bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang
ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit
sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat
segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan
menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia
melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat
ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya
adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita
adalah bentuk konkretnya.

Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru
merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti
Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah
salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar:
Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang
sedang sakit. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: