Tujuh Lapis Neraka!

Bismillaah, Alhamdulillaah
Assalammu’alaikum wr.wb.

Salaam Sahabat,
Sahabat tentu kita pernah mendengar perkataan Rosulullaah Saw, yang bunyinya: “Seandainya engkau bisa melihat seperti apa yang aku lihat, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”
Hadits ini bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Mungkin ini satu di antaranya dan marilah kita coba untuk melihat dan merenungi isi hadits dan kisah yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali berikut ini:
“Dikisahkan pada suatu hari Yahya bin Zakaria as merasa kenyang akibat makan roti dari gandum, lalu beliau tertidur ketika sedang berzikir. Dan di dalam tidurnya, Allaah menurunkan wahyu kepadanya, “Hai Yahya, apakah kau temukan sebuah perkampungan yang lebih utama dari perkampungan-Ku atau tempat bersanding yang lebih baik bagimu daripada dengan-Ku? Demi Keagungan-Ku dan Keluruhan-Ku, seandainya engkau melihat Firdaus dan engkau melihat Jahanam dengan sebuah penglihatan, tentu engkau menangis dengan nanah, sebagai ganti air mata. Dan engkau akan memakai besi sebagai ganti dari kain kadut.”
Juga hadits berikut ini, yang berawal dari firman Allaah Swt dalam QS. Al-Hijr, ayat 44, yang artinya: “Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” ” Pintu itu dari besi yang dipenuhi dengan laknat, bagian luarnya tembaga dan bagian dalamnya adalah timah, dasarnya terdapat siksa dan di atasnya terdapat kemurkaan, sedang buminya dari tembaga, kaca, besi dan timah. Api berada di atas penghuninya, di bawah mereka, di sebelah kanan kiri mereka. Setiap tingkat di atas tingkat yang lain dan Allaah menyediakan bagi orang-orang munafik tingkat yang paling bawah dari tingkat-tingkat itu.”
Dalam hadits tsb, Rosulullah Saw menceritakan bahwa: “Pada suatu hari datanglah Malaikat Jibril menemui Beliau, Lalu Beliau bekata pada Jibril, “Hai Jibril, sebutkanlah sifat neraka dan panasnya padaku.” Berkatalah jibril as, ‘Sesungguhnya Allaah Swt telah menciptakan neraka lalu menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi merah. Kemudian menyalakannya lagi seribu tahun sehingga menjadi hitam. Jadi ia adalah hitam kelam. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan haq sebagai Nabi, seandainya sebuah pakaian dari pakaian-pakaian penghuni neraka tampak oleh penduduk bumi dan dituangkan pada air di bumi tentu akan mati semua orang yang mencicipinya. Seandainya satu dzira’ dari rantai yang disebutkan Allaah Swt dengan firman_nya: “Di dalam rantai yang panjangnya tujuh puluh dzira ” [Qs. Al-Haaqqah]: 32.
Setiap dzira’ panjangnya sejauh jarak dunia timur sampai dunia barat, bila diletakkan di atas gunung-gunung, dunia tentu akan hancur. Dan seandainya seorang laki-laki masuk neraka kemudian dikeluarkan ke bumi, tentu penghuni-penghuni bumi ini akan mati karena kebusukan baunya.’ Rosulullaah Saw bertanya , kapada Jibril, “Ya Jibril terangkan padaku sifat-sifat pintu Jahanam. Adakah dia seperti pintu-pintu kami ini?” Berkatalah Jibril, ‘Ya Rosulullaah, tentu tidak. Tetapi dia merupakan beberapa tingkat, sebagian lebih rendah dari yang lain. Jarak dari pintu satu ke pintu yang lain adalah sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintu dari pintu-pintu itu lebih panas daripada pintu yang ada di bawahnya, yaitu tujuh puluh kali lipat.’ Beliau lalu bertanya lagi tentang pintu-pintu itu, dan Jibril menjawab, ‘Adapun isi yang terbawah adalah orang-orang munifik, namanya neraka Hawiyah, seperti firman Allaah Swt, yang artinya: “Sesungguhnya
orang-orang munafik di dalam tingkat yang paling bawah dari neraka.”
Pintu kedua, di dalamnya terdapat orang-orang musyrik, namanya neraka Jahim..
Pintu ketiga, di dalamnya adalah orang-orang dari golongan shabi’in, dan nama nerakanya neraka Saqor.
Pintu keempat, di dalamnya Iblis alaihila’natullaah, dan orang yang mengikutinya dari golongan orang Majusi.Dan nama nerakanya neraka Ladha.
Pintu kelima, adalah untuk orang-orang Yahudi, nama nerakanya neraka Huthomah.
Pintu keenam, di dalamnya orang-orang Nasrani, nerakanya bernama As-Sa’ir.’ Lalu Jibril berhenti. Tapi Rosulullah Saw kembali bertanya, “Hai Jibril mengapa tak kau ceritakan siapa isi pada pintu ketujuh?” Maka berkatalah Jibril, ‘Janganlah engkau bertanya padaku tentang itu, ya Muhammad.’ Kembali Beliau bersabda kepada Jibril, “Ceritakanlah padaku tentang penghuni itu.” Lalu jibril menjawab, ‘Di dalamnya adalah pemilik dosa-dosa besar dari umatmu yang telah mati dan belum sempat bertobat.”
Diriwayatkan ketika turun ayat 71 QS. Mariyam, yang artinya; “Dan tidak ada seorang pun dari kamu, melainkan mendatangi neraka itu.”
Maka menjadi besarlah kekhawatiran Nabi Saw terhadap umatnya, dan Beliau menangis dengan tangisan yang keras.
Rosulullah saja menangis, bukankah Beliau takkan mungkin memasuki pintu itu? “Astaghfirullaah, Ya Allaah, ampunilah dosa kami dan berilah kesempatan kami untuk bertobat dan membersihkan diri, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan kebesaran Rahmat-Mu, amiiin”
Orang yang ma’rifat kepada Allah dan mengenal kekuasaan dan keperkasaan-Nya dengan sepenuh rasa takut dan menangisi dirinya dan kesalahannya sebelum dia melihat penderitaan-penderitaan ini serta melihat nyata perkampungan yang menakutkan dan menyengsarakan.
Tapi mengapakah Allaah memasukkan orang-orang munafik pada neraka paling bawah?
Menurut Imam al-Gozali, kata munafik itu berasal dari kata nafiqo’ul yarbu’, yang artinya liang binatang seperti tikus, tapi kakinya lebih panjang. Disebutkan bahwa yarbu’ memiliki dua buah liang, sebuah disebut natiqo’ dan sebuah lagi disebut qoshia,’ dan dia bisa menampakkan dirinya pada liang yang satu dan keluar dari liang yang lain. Karena mereka mempunyai dua sifat itulah maka disebut sebagai orang-oraang munafik. Kadang tampak sebagai orang Islam, tapi kadang sebagai orang kafir, makanya keduanya Allaah masukkan dalam neraka yang sama, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Allaah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam neraka Jahanam seluruhnya.” [QS. An-Nisa]:140 , dan
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada pada tingkat paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.” [QS. An-Nisa: 145]
Bukan hanya pada ke dua ayat di atas, bahkan pada surat at-Taubah ayat 67-68, Allaah mela’nat orang-orang munafik. Kita selalu berharap semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang munafik ini, amiin.
Dan Rosulullaah Saw pernah ditanya tentang perbedaan orang mu’min dan orang munafik,
Beliau bersabda:
“- Sesungguhnya orang mu’min adalah orang yang tujuan hidupnya adalah sholat dan berpuasa, sedang orang munafik adalah orang yang tujuan hidupnya hanya makan dan minum seperti binatang dan meninggalkan ibadah serta sholat.
– Orang mu’min disibukkan dengan sedekah dan mencari ampunan, sedang orang munafik disibukkan dengan kerakusan dan panjang angan-angan yang berlarut.
– Orang mu’min putus harapan dari semua orang kecuali kepada Allaah, dan orang mu’min menyodorkan hartanya demi Allaah, sedang orang munafik menyodorkan agamanya demi kepentingan hartanya.
– Orang mu’min merasa aman dari semua makhluk kecuali dari Allaah, sedang orang munafik berbuat jahat tetapi masih bisa tertawa.
– Orang mu’min menanam dan khawatir kerusakannya, sedang orang munafik mencabut dan mengharapkan panen.
– Terakhir orang mu’min akan memerintah dan melarang menurut siasat keagamaan serta berusaha berbuat kebaikan, sedang orang munafik memerintah dan melarang karena kepemimpinan serta merusak, bahkan dia memerintah berbuat yang munkar dan melarang yang ma’ruf.”
Namun apakah kita mendekat kepada Allaah karena takut pada nerakanya, dan apakah seandainya tak ada surga dan neraka kita tak akan menyembah dan mengabdi kepada-Nya? Sedangkan surga dan neraka itu juga adalah makhluk ciptaan Allaah, sama seperti kita. Wallaahu a’lamu bi showab, masing-masing kita mempertanggung jawabkan apa yang kita perbuat, [QS. Al-Mudatsir/74 : 38]: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”
Oleh karena itu hendaknya: “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Hasyr/59 : 18]
Dan yang pasti kata Rosulullaah Saw adalah “Kebahagiaan Allaah akan tobat hamba-Nya lebih besar daripada kebahagiaan seorang yang mandul kemudian memperoleh keturunan/anak; lebih daripada orang yang tersesat lalu menemukan jalan; dan lebih daripada orang yang sangat gembira lantaran menemukan air karena kehausan.”
(HR. Ibnu Saakir)
Dan sabda Rosulullaah Saw: “Berfikir sesaat adalah lebih utama daripada beribadah enam puluh tahun.” (HR. Abuu Asy-Syaikh)

Shodakallaaah, mohon ma’af kalau ada salah/kelebihan kata
Wassalaammu’alaikum wr.wb.
Hesti Anshor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: