Seputar Ujian Di Kehidupan Kita

Ujian dari Allah Lewat Pendamping Hidup.

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), bagi mereka laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi kepada mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).”
(QS An Nuur [24] : 23-25)

“(Pada hari pembalasan itu / akhirat) Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
(QS An Nuur [24] : 26)

Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya, begitu seterusnya. Lalu, mengapa Al Qur’an menuturkan pula bahwa ada hamba-hamba Allah yang sangat shaleh, yakni Nuh As dan Luth As, memiliki istri yang durhaka kepada Allah SWT. Juga wanita shalehah seperti Asiyah, ternyata bersuamikan Fir’aun, orang yang sangat ingkar kepada Allah SWT. Walaupun, ada juga yang keduanya shaleh, seperti Rasul SAW dan istri-istrinya. Dan ada yang keduanya durhaka, seperti Abu Jahal dan istrinya.

Bila kita telaah lebih jauh, surat An Nuur ayat 26 diatas ternyata diawali oleh ayat-ayat (23-25) yang menceritakan tentang balasan kehidupan di akhirat kelak. Artinya, kondisi pada ayat 26 tersebut hanyalah berlaku di akhirat, tidak berlaku untuk kondisi di dunia.

Buktinya, dalam kehidupan nyata sehari-hari pun, tak bisa kita pungkiri bahwa tak sedikit wanita shalehah yang memiliki suami yang tidak shaleh atau sebaliknya. Maha Suci Allah dari berbuat dzalim. Dunia memang diciptakan Allah hanyalah sebagai tempat untuk menguji manusia, apakah kita hamba Allah atau bukan, bertakwa atau tidak, layak memasuki surga atau tidak. Karena itu, karakter pasangan seperti apapun yang ditakdirkan Allah untuk kita, maka hal itu pun merupakan ujian bagi kita.

Karena dunia ini hanyalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan amal perbuatan, maka keadilan memang tak selalu ada di dunia. Berbeda dengan kehidupan akhirat, perbuatan baik atau buruk sekecil apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan dibalas dengan seadil-adilnya oleh Allah Yang Maha Adil di akhirat kelak.

Justru, salah satu ujian di dunia ini adalah bagaimana kita menyikapi ujian lewat pendamping hidup kita yang masih jauh dari Allah. Ini merupakan salah satu cara untuk menentukan siapa yang tetap teguh pada kebaikan dan siapa yang menyimpang dari jalan-Nya.

Selain itu, dalam perbincangan seputar memilih pendamping hidup pun, seringkali diungkapkan bahwa, “Bila kita menginginkan pasangan yang shaleh, maka kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu agar menjadi wanita shalehah. Harapannya, agar kita bisa mendapatkan pasangan yang shaleh pula.”

Tidak salah ungkapan terebut, hanya saja upaya untuk membentuk karakter shalehah dalam diri bukan sekadar agar mendapatkan pasangan yang shaleh, tapi harus ditujukan semata-mata untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, karena sudah selayaknya setiap mahluk di langit dan di bumi tunduk dan patuh kepada-Nya.

Ungkapan diatas bisa jadi dilatarbelakangi karena memahami Surat An Nuur ayat 26 (yang menyebutkan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan wanita yang keji untuk laki-laki yang keji) sebagai suatu kondisi yang juga akan terjadi juga dalam kehidupan di dunia, padahal tidak demikian halnya.

Semoga Allah SWT menuntun kita agar menjadi seorang muslim yang shaleh dan shalehah, menjadi hamba Allah yang senantiasa memurnikan ketaaatan kepada-Nya. Wallahu’alam.

2 Comments (+add yours?)

  1. nurdin
    Apr 22, 2009 @ 04:29:42

    memilih pendaping hidup sangatlah sulit, ketika kita menjadikan wanita sebagai istri kita, apakah atas dasar nafsu atau kasih sayangnya sebagai hamba allah sebetulnya ini hal yg biasa, tetapi sangat penting sekali,karena pada saat kita bersedekah dengan istri kita disitu baru ada perbedaan antara nafsu atau kasih sayangnya,tetapi jika kita mengetahuainya atas petunjuknya (allah)

    Reply

  2. Teguh Andoria
    Oct 08, 2010 @ 09:38:46

    bukankah Muhammad saw membawa revisi dari ajaran terdahulu, boleh jadi sebelum turun An-Nur:26 hukum tentang wanita baik untuk laki2 baik dan sebaliknya belum ditetapkan, tetapi setelah Muhammad saw turun, hukum itu diberlakukan, karena ada banyak contoh tentang ini, seperti pernikahan Rasul dan para sahabat Nabi.

    “Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengikutiku” (HR Imam Ahmad)

    wallahu alam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: