Tentang Takdir

Ada sebuah pertanyaan mengenai takdir yang tercecer di alamat email binaqalbu@gmail.com semoga bermanfaat

Ass. Wr. Wb,

Admin yang budiman, jumat sore kemarin saya dapat informasi yang bikin
saya berpikir panjang. Ustad bilang kalo hidup kita sudah di settle
sedimikian rupa /rapih dan kita hanya tinggal melaksanakannya saja dan
itulah yang dinamakan takdir. Hal ini belon sempat saya tanyain sama pak
ustad karena sempitnya waktu, nah…pada forum ini saya mo tanya apa benar
hal yang demikian di namakan takdir.
Bukankah kita dalam hidup ini kita diperintahkan untuk tidak berpangku
tangan untuk menggapai apa yang kita inginkan, kalaulah kita percaya takdir
itu bukannya kita lebih baik kita menunggunya saja. “Tidak akan berobah
nasib suatu kaum jika bukan sendiri yang merubahnya” buat apa ada arti ayat
yang demikian, dan buat apa susah-susah isnetner bekerja siang sampe malam
kan sudah ada takdir.
Admin,,,,,tolong yach. Berikan pencerahanya biar saya ngak bingung
dengan statement yang dilontarkan pak ustad kemaren, tentunya diiringi
dengan dalil, surah dan hadist kalo ada.
———————————————————————

Alaikum Salam Wr Wb.
Dalam agama Islam, salah satu pondasi keimanan adalah iman adanya
Qadha dan Qadar. Dalam bahasa yang lain, agama lain pun meyakini ini,
dengan menyandarkan keyakinan bahwa segala sesuatu ada yang mengatur.

Dalam bahasa Arab, Qadar berasal dari kata qa-da-ra yang berarti
takaran. Dalam bahasa Indonesia sering dibahasakan dengan Kadar.
Taqdir atau takdir berasal dari kata qadar.

Mehamai persoalan takdir, sebuah hal yang sulit dan rumit. Dalam
sejarah Islam dikenal adanya polarisasi kelompok ‘jabariyah’ dan
‘qadariyah’ yang saling bertolak belakang dalam memahami takdir
kehidupan ini. Disebut qadariyah karena mereka mengingkari adanya
takdir dan meletakkan bahwa segala sesuatu itu bergantung dari hasil
usaha manusia. Sedangkan disebut jabariyah karena ia amat yakin segala
sesuatu sudah ditentukan oleh Yang Kuasa, sehingga tidak penting
melsayakan usaha.

Memang kalau kita mencermati al Qur’an, kita akan mendapatkan
ayat-ayat yang bila dilihat secara sederhana nampak bertolak belakang.
Di satu sisi Allah mengatakan bahwa segala sesuatu itu telah
ditentukan oleh DIA (QS 57:22) disisi lain Allah mengatakan bahwa
Allah tidak merubah suatu bangsa apabila ia tidak berusaha merubah
dirinya sendiri (QS 13:11) Dalam kalimat yang lain Allah mengatakan
bahwa musibah itu datang atas izin-Nya (QS 64:11) dan dalam ayat yang
lainnya dikatakan musibah terjadi adalah atas perbuatan tangan manusia
sendiri (QS 42:30)

Kaidah takdir, atau ayat-ayat diatas, akan sulit dimaknai apabila kita
tidak menyadari bahwa manusia memiliki ‘lahir’ dan ‘bathin’. Aspek
lahir terikat dengan tata aturan demikian pula dengan aspek bathin.
Merupakan kewajiban dari aspek bathin, untuk menggantung kepada Yang
Kuasa yang Mengatu Hidup. Namun merupakan kewajiban yang lahir untuk
melsayakan usaha maksimal, menurut kaidah-kaidah lahiriah yang berlsaya.
Kedua hal itu harus berjalan secara harmonis, bersamaan.

Kebanyakan orang akan merasakan sulit menjalankan demikian. Apabila
hatinya ‘menerima dan pasrah’, maka lahiriahnya pun akan menerima dan
pasrah. Apabila hatinya bergolak dan menolak, demikian pula
lahiriahnya. Sungguh sebuah hal yang sulit, bahkan sebagian orang
mengatakan hal yang mustahil, bila sang hati pasrah, tunduk bergantung
kepada-Nya, namun lahiriahnya berusaha dan bekerja keras sesuai dengan
aturan-aturan lahiriah.

Mungkin sulit bagi kita ‘memarahi’ anak kita, namun hati kita
sesungguhnya ‘ridla’ dengan perilsaya sang anak. Yang lebih sering
terjadi adalah kita memarahi anak kita, karena memang hati kita kesal
dan marah. Kepada anak saja susah, apalagi untuk urusan yang lebih
rumit, seperti urusan kantor, bertetangga, sampai urusan politik dan
kenegaraan?

Namun ketahuilah, bahwa orang yang selamat adalah orang yang dapat
melsayakan hal itu; hatinya selalu ridla kepada takdir-Nya, namun
lahirnya selalu berusaha maksimal berdasarkana ketentuan yang ada.
Apabila ini bisa dilsayakan maka akan lahirlah amal-amal shalih, yang
dalam (QS 103:2-3) dikatakan bahwa hanya orang yang iman dan amal
shalih lah yang beruntung (selamat, tidak merugi).

2 Comments (+add yours?)

  1. kopi cina
    Mar 16, 2009 @ 04:49:29

    Tuhan telah menulis milyaran kemungkinan atas setiap kemungkinan yang mungkin, alias niscaya, sementara manusia hanya bisa melangkah satu-satu dan menerka-nerka apa yg akan terjadi kemudian. setiap langkah memiliki akhir yg berbeda, yang kesemuanya hanya sebutir debu dalam ceritaNya.

    Reply

  2. kopi cina
    Mar 16, 2009 @ 04:55:34

    sesungguhnya tidak ada yg bertolak belakang; takdir telah ditulis dengan milyaran kemungkinan dan akhir cerita, ibarat jalan menuju roma. tinggal manusianya yg memilih hendak lewat mana.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: