Dunia Boleh Hancur….

Salam sahabat sekalian..

Selama libur sekolah, rumah kami di Gang Panorama selalu penuh oleh anak-anak tetangga yang ingin nebeng main congklak dan yang suka membaca buku. Kaki mereka mengotori lantai, tapi melihat senyum dan dongeng heboh yang mereka bagikan pada satu sama lain, membuat saya urung mengurusi hal itu. Apalagi Ilalang dan Shanti pun belajar sosialisasi dengan alami, tanpa campur tangan kami. Begitu saja mereka akrab dengan anak-anak itu.

Diam-diam saya sering iri pada anak-anak. Mereka selalu senang bermain dengan sesamanya, apa pun yang terjadi. Kelihatan segala hal mereka eksplor sama-sama, saling berpendapat, saling mendengarkan dengan cermat dan penuh rasa ingin tahu, serta saling menghargai. Kehangatan menjalar cepat. Saya yang cuma diam mengawasi saja jadi ikut-ikutan merasa hangat, dan penasaran ingin tahu kelanjutan obrolan mereka. Padahal malam sebelumnya, saya dan suami sempat sedikit ricuh di depan kedua anak kami meskipun langsung berbaikan. Begitu hari berganti, keceriaan mereka sudah pulih seperti sediakala.

Dunia anak-anak sangat menyenangkan. Menyaksikan anak-anak Palestina korban perang membuat saya sesak. Ilalang terus-menerus tanya, “Kenapa sih bu mereka dijadiin korban sama Israel?” Karena bingung mesti jawab apa, maka TV pun saya matikan, atau channelnya saya pindah. Tapi diam-diam saya selalu ingin tahu berita mengenai Palestina.

Dulu saya pernah hapal lagu-lagu berbahasa Arab dengan ritme menarik yang menyerukan agar Al-Quds diselamatkan dari tangan-tangan penjarah yang ingin menguasai dan menghancurkannya. Saya menyanyikannya bareng sahabat yang punya ketertarikan sama terhadap persoalan-persoalan umat Islam. Kami sering nangis bersama saat membaca liputan pembantaian terhadap orang-orang Palestina oleh tentara Israel dalam majalah Sabili. Kami bahkan salat berdua untuk mendoakan mereka secara khusus. Begitulah kami waktu itu.

Sekarang tentu semua berbeda. Kami sudah berkeluarga, beranak-pinak, dan menghadapi masalah besarnya masing-masing. Kematian sekian ratus orang Palestina masih mengharu-biru hati-hati kami, namun tidak lagi membuat kami bertangisan seperti dulu. Sekarang kami bahkan sudah lupa lirik lagu-lagu religi tentang Al-Quds. Namun setidaknya semangat kami untuk mendoakan sesama umat Islam di belahan bumi lain yang sedang terdzalimi masih tetap membara.

Saya bersyukur masih diberi waktu untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup. Meskipun masih sering gagal dan jatuh, saya selalu berusaha ingat akan besarnya kasih dan ampunan Allah. Saya bersyukur hidup di negara ini, meskipun carut-marut oleh ribuan masalah elemental, namun saya toh masih bisa membesarkan anak-anak dengan cukup nyaman.

Berita terakhir tentang Palestina yang saya ikuti sekitar 2-3 hari lalu menyebutkan bahwa dalam waktu 11 hari perang, harga minyak dunia yang sempat mengalami penurunan signifikan, naik 11 dolar. Setiap terjadi perang, spekulasi bahwa minyak dunia selalu membubung naik pun berkembang. Saat perang Irak dan perang apa pun di Timur Tengah, harga minyak dunia malah terkatrol naik memperkaya negara-negara maju. Gila juga. Kalau spekulasi itu benar, maka perang memang dibutuhkan negara-negara kaya untuk mengatrol kemajuan ekonomi negeri mereka. Kebayang betapa nyawa-nyawa yang melayang, jiwa-jiwa yang terbang dalam perang itu dianggap sepi.

Mungkin sudah pasti bahwa semua yang terjadi di atas bumi ini sudah Allah takdirkan. Kematian sekian ratus anak dan perempuan Palestina pun demikian. Tapi kemungkinan bahwa perang bisa dihindari pun besar dan terbuka. Setelah tayangan hari ke sebelas perang Gaza, saya sudah tak kuasa lagi menonton tayangan diangkutnya anak-anak dan korban perang lainnya. Sedangkan yang masih bertahan, hidup dengan wajah penuh rasa takut dan ketidakpastian.

Saya ingin tetap percaya bahwa kisah anak-anak korban perang dalam salah satu karya Paulo Coelho; The Fifth Mountain, yang tetap main dan ceria meskipun hidup dalam lingkaran ketidakpastian dan kehancuran, bisa terjadi di dunia nyata. Saya harap anak-anak Palestina punya orang tua atau wali yang bisa membuat mereka tetap tersenyum walaupun keadaan serba tak menentu, seperti tokoh anak dalam film Life Is Beautiful. Karena begitulah juga yang saya baca dari dunia anak-anak saya. Dunia boleh hancur, namun anak-anak seharusnya tetap bisa bermain…

Fenfen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: