Dosa Yang Menggunung

Ibnul Jauzi mengatakan, “Seorang yang berakal semestinya senantiasa merasa takut akibat dosa-dosa yang telah diperbuatnya, meskipun dia sudah bertaubat darinya dan menangisinya. Aku lihat kebanyakan manusia sudah merasa tenang dan yakin bahwa taubatnya pasti diterima. Seolah-olah mereka itu bisa memastikannya seratus persen. Padahal hakikatnya hal itu adalah perkara gaib. Kemudian, seandainya dosanya itu memang sudah diampuni, maka perasaan malas untuk terus melakukannya (taubat) akan meliputinya. Hendaklah benar-benar waspada dari faktor-faktor yang menimbulkan kemalasan ini. Perkara ini sedikit sekali diperhatikan oleh orang yang bertaubat dan orang yang berusaha untuk bersikap zuhud. Hal itu dikarenakan dia telah menganggap bahwasanya dosa-dosanya sudah pasti dimaafkan dengan taubat yang dianggapnya sudah tulus. Oleh sebab itu, apa yang saya sebutkan ini seharusnya mengingatkan untuk tetap bersikap waspada dari terjerumus dalam kemalasan itu.” (Shaidul Khaathir)

Permulaan dan puncak taubat
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Sesungguhnya taubat itu ada permulaan dan ada titik puncaknya. Adapun permulaannya adalah ; bertaubat dari dosa-dosa besar, kemudian dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perkara-perkara makruh, kemudian dari perkara-perkara yang kurang utama, kemudian dari sikap merasa sudah banyak berbuat baik, kemudian dari pandangan bahwa dirinya sudah tulus dalam bertaubat, kemudian dari segala bersitan hati yang muncul demi meraih selain keridhaan Allah ta’ala. Adapun titik puncaknya adalah; bertaubat setiap kali terlena dari menyaksikan kebesaran Tuhannya yang Maha tinggi serta supaya tidak terlena dari mendekatkan diri kepada-Nya walaupun barang sekejap.”

Dari apakah kita betaubat ?
Saudaraku yang kusayangi!
Ketahuilah, sesungguhnya dosa-dosa yang harus ditaubati terbagi menjadi dua : dosa kecil dan dosa besar. Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ sudah menunjukkan adanya pembagian ini. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil kalian.” (QS. An Nisaa’ : 31) Allah Yang Maha suci juga berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar serta perbuatan-perbuatan keji kecuali al lamam” (QS. An Najm : 32) Sedangkan yang dimaksud ‘al-lamam’ adalah dosa-dosa yang tingkatannya berada di bawah tingkatan dosa besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, Shalat Jum’at yang satu hingga Shalat Jum’at yang berikutnya, Puasa Ramadhan yang satu hingga puasa Ramadhan yang berikutnya adalah menjadi penghapus bagi dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Pembagian ini bukanlah berarti bahwa taubat yang wajib hanya dari dosa besar saja, karena bertaubat dari dosa besar dan dosa kecil itu sama-sama wajibnya. Bahkan di dalam Sunnah terdapat peringatan keras agar tidak meremehkan perbuatan dosa-dosa kecil, yaitu dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang kelihatannya remeh, karena sesungguhnya apabila dosa-dosa kecil itu terus terkumpul pada diri seseorang niscaya itu akan membuatnya binasa. Permisalannya ialah sebagaimana seseorang yang berada di sebuah padang kemudian datanglah serombongan orang-orang. Seorang demi seorang datang dengan membawa kayu bakar hingga terkumpullah menjadi tumpukan kayu bakar lalu mereka menyalakan api dan terbakar habislah segala hal yang dilemparkan ke dalamnya.” (HR. Ahmad, dengan sanad hasan)

Pelajaran penting
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa terkadang apabila dosa besar itu diiringi dengan rasa malu kepada Allah, rasa takut -kepada-Nya- dan pelakunya menganggapnya sebagai dosa yang sangat besar; pada akhirnya keberadaan faktor-faktor itu menyebabkan perbuatannya digolongkan dalam golongan dosa-dosa kecil. Namun, terkadang apabila dosa-dosa kecil diiringi dengan rasa malu yang sangat minim, tidak mau peduli, tanpa diikuti rasa takut dan disertai sikap meremehkannya, maka hal itu justru dapat membuatnya tergolong pelaku dosa-dosa besar, bahkan bisa jadi mencapai tingkatan dosa besar yang tertinggi.

Oleh karenanya, maka berhati-hatilah -wahai saudaraku yang kusayangi- dari berbagai perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Waspadalah dari berbagai kejelekan yang turut mengiringi perbuatan dosa kecil sehingga dapat mendongkrak bahayanya sampai menempati timbangan dosa-dosa besar. Di antara bentuk kejelekan tersebut adalah :

Terus menerus melakukan dosa kecil. Oleh sebab itulah para ulama mengatakan, “Tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istighfar dan tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus.”
Menganggap kecil dosa dan meremehkannya : Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu pernah berkata tentang hal ini sebagaimana sudah disebutkan di depan. Dalam hal ini pula, Anas bin Malik radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sesungguhnya kalian ini akan melakukan berbagai macam perbuatan yang lebih remeh daripada sehelai rambut dalam pandangan kalian, namun sebenarnya hal itu kami anggap sebagai perkara yang dapat membinasakan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Merasa gembira dengan berbuat dosa kecil : Hal ini juga merupakan tanda begitu parahnya kelalaian, begitu kuat keinginan dirinya untuk berbuat maksiat, serta sangat dalam kebodohannya terhadap keagungan Allah ta’ala. Hal itu juga menunjukkan begitu bodohnya dirinya mengenai keburukan-keburukan yang timbul akibat perbuatan dosa dan maksiat dan bahayanya. Sehingga apabila kelalaiannya sudah sangat parah sampai mencapai taraf separah ini, niscaya maka hal itu mendorongnya untuk terus menerus mengerjakannya. Sehingga, tertanamlah di dalam dirinya keinginan untuk terus berbuat menyimpang dan bertekad untuk mengulangi lagi kemaksiatan. Dan itu merupakan dosa baru lagi yang bisa jadi malah jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan dosanya yang pertama. Inilah salah satu hukuman perbuatan dosa yaitu terjadinya dosa lain yang lebih besar dari dosa sebelumnya.
Meremehkan kemurahan Allah dan kelembutan-Nya yang telah berkenan menutupi kejelekan kita : Seorang pelaku dosa kecil yang tidak melihat hukuman lahiriyah yang timbul akibat dosanya maka dia pun lupa diri karena tertutupinya dosa itu dari penglihatan manusia berkat karunia Allah. Kemudian dia menyangka bahwasanya Allah ta’ala mencintai dan memuliakan diri-Nya, padahal ’si miskin’ ini tidak sadar bahwa sesungguhnya hal itu adalah kemurahan dari Allah agar dia mau bertaubat kepada-Nya dan mau meninggalkan dosa-dosa yang telah dilakukannya.
Mengoyak tirai penghalang yang dianugerahkan Allah untuk menutupi dosanya, yaitu dengan cara sengaja menceritakannya [kepada orang lain] : Barangsiapa yang terjerumus dalam berbagai perbuatan dosa kecil dan Allah sudah menutupi hal itu, kemudian dia malah memperlihatkannya dan sengaja menceritakannya kepada orang lain maka sesungguhnya dia telah melipatgandakan dosa kecilnya akibat dosa lain yang timbul sesudahnya. Karena apabila dia menceritakan dosanya itu bukan dalam bentuk penyesalan, atau bahkan diringi rasa bangga, hal itu justru akan mendorong orang lain yang mendengarkan ceritanya untuk ikut melakukan perbuatan dosa tersebut, meskipun hal itu tergolong dosa kecil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Dan termasuk tindakan berterus terang dalam berbuat dosa adalah apabila ada seseorang yang berbuat dosa pada malam harinya kemudian Allah pun menuptinya tetapi lantas pada pagi harinya dia justru menceritakannya kepada orang lain : Wahai fulan, tadi malam aku telah berbuat demikian dan demikian. Sehingga di malam harinya dosanya telah ditutupi Allah akan tetapi di pagi hari dia malah menyibak tirai yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedudukan pelaku dosa kecil sebagai orang yang menjadi panutan orang atau orang yang dikenal shalih : Orang semacam ini apabila melakukan dosa kecil secara sengaja dan disertai rasa sombong dan sengaja menentang dalil-dalil, maka terkadang dosa kecilnya ini justru membengkak menjadi dosa besar. Akan tetapi, apabila orang yang melakukannya karena didasari ta’wil, sedang dalam keadaan marah, atau sebab lain maka dia bisa memperoleh ampunan, terlebih lagi apabila dia memiliki amal-amal shalih yang akan bisa menghapuskannya (Al ‘Ibadaat Al Qalbiyah dengan ringkas)
Tulisan ini diambil dari buku mungil ‘Ayyuhal muqashshir mata tatuubu’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: