Biarkan Anakmu Menangis !

Barusan saya menidurkan anak yang paling kecil, setelah menangis
dalam gendongan selama kl 30 menit, karena ibunya ada tugas dari
sekolah untuk urusan dinas ke luar kota.

Dulu, kalau anak saya menangis, maka treatment saya adalah upaya
untuk menghentikan tangisan. Semakin cepat bisa berhenti
menangis, saya senang.🙂

Sekarang ini, setelah beberapa tahun bersuluk dan mempelajari
sedikit cara kerja otak, saya berusaha menahan diri untuk tidak
menghentikan tangisan anak. Untuk anak-anak yang sudah besar,
ketika menangis, saya katakan kepada mereka: “Silakan menangis,
tapi jangan sampai merusak barang atau meraung-raung”. Dan saya
konsisten dengan aturan ini.

Untuk anak yang kecil, yang agak susah untuk mengajak berpikir
logis, saya tak melakukan upaya-upaya:

– Membujuk anak dengan janji-janji yang saya tak bisa penuhi.
– Mengalihkan perhatian si anak dengan mainan atau hal lain
yang menarik.
– Menghentikan tangisan dengan ancaman.

Menurut sepengetahuan saya ketiga hal ini hanya akan
mengakibatkan anak segera berhenti menangis, akan tetapi
kedewasaannya tidak tumbuh berkembang dengan baik. Kedewasaan
ditandai dengan penanganan emosi dengan benar.

Jadi saya membiarkan anak untuk mengatasi emosinya sendiri. Jika
saya melakukan 3 hal tsb, dia berhasil mengatasi emosinya, akan
tetapi upaya ini adalah upaya luar ke dalam, bukan lahir dari
dalam dirinya sendiri. Yang saya inginkan, otak berpikirnya (neo
korteks) jalan dan mengatasi otak emosi-nya (amigdala). Yang saya
lakukan hanyalah menunjukkan perhatian bahwa saya empati dengan
kesedihannya. Dan ini membutuhkan kesabaran ektra.

Beberapa saat yang lalu, anak saya ingin menelpon ibunya. Sehabis
nelpon ia menangis sedih karena tidak bisa bertemu. Tanpa sepatah
kata-pun, saya menggendongnya untuk menunjukkan saya empati
dengan kesedihannya ini.

Dia mengulang-ulang kata-kata: “Mau ketemu ibu malem-malem”. Dia
tidak mengatakan “Mau ketemu ibu”, tetapi ada tambahan
“malem-malem”. Buat saya ini adalah pertanda otak logisnya sudah
mulai jalan. Tambahan “malem-malem” adalah upayanya untuk
meyakinkan saya bahwa dia ingin sekali bertemu ibunya, walaupun
dia tahu malam adalah saat yang kurang bagus untuk bepergian.

Saya hanya menjawab “Ya, ini bapak gendong”. Saya tak menjanjikan
apa-apa. Saya juga tak membujuknya untuk mengalihkan perhatian.

Setelah agak lama menangis, ingusnya mulai keluar dan dia
mengeluh hidungnya tersumbat. Saya ambil kain dan menghilangkan
ingus sambil mengatakan, “Tuuh, kalau menangis terus hidungnya
mampet”. Disini saya mulai mengalihkan perhatian sedikit, dari
masalah kesedihan ke masalah hidung mampet.

Lama-lama tangisannya berhenti dan dia tidur pulas.

Mitro,
Marbot Tikar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: