Atas Nama Kemanusiaan

Saya dapat tiga SMS bernada mirip malam ini. Setelah berhari-hari tidak ada siapapun menanyakan kabar berita melalui SMS, saya senang

karena akhirnya bunyi yang diam-diam selalu bikin penasaran, terdengar lagi.

SMS pertama dari sahabat saya, bunyinya: “Aslm. Pemimpin Hizbullah Lebanon Syd Hasan Nasrullah meminta seluruh Muslim untuk melafazkan Qs. Al-Fath: 26-27 mlm ini agar zionis israel hancur! Sebarkan!”

Yang kedua dari entah siapa berbunyi: “Salam, Pemimpin Hizbullah Libanon, Sayed Hasan Nasrullah meminta seluruh Muslim untuk melafazkan QS. Al-Fath, ayat 26-27 malam ini. Tlg sebar, agar israel hancur.”

SMS ketiga berbunyi: “JARKOM-(univsts se-Indo): tlng bcakan.Lailahaillallah, allahuakbar&surah al-ikhlas 3x, utk masjid Aqsa yg sdg dikepung olh israel.smskn kpd 10 org rekan km.. AMANAH”

Tanpa bermaksud mengurangi atau menambahkan, memang begitulah kata-kata yang terpampang di layar ponsel saya. Penuh penekanan dan singkatan kata-kata. Saya sedang puasa pulsa, jadi mustahil melakukan yang mereka minta. Lagipula setelah sore tadi melihat liputan penghancuran yang dilakukan Israel, saya sudah otomatis berkata-kata dalam hati, memohon agar Allah memberikan yang terbaik bagi orang-orang Palestina yang sedang diuji begitu dahsyat.

Sebenarnya saya bersyukur pulsa habis. Bukan apa-apa, saya sendiri sedang dalam masalah klasik yang sangat melelahkan. Saya sedang berjuang mengendalikan diri agar emosi stabil. Saya juga sedang berjuang menetralkan diri dari hal-hal di luar diri yang kerap mengalihkan perhatian dari hal-hal utama berdasar standar pribadi yang seharusnya mendapat perhatian lebih.

Pernah saya alami, di saat-saat miskin tanpa harta dulu, saya bersemangat ikut acara doa di masjid Unpad dengan beberapa teman untuk mendoakan orang-orang Bosnia yang sedang dibombardir Serbia. Saya nangis darah, tak kuasa menahan gejolak emosi menonton tayangan penderitaan para korban. Saat berdoa, saya sangat bersungguh-sungguh meminta Tuhan menyelamatkan orang-orang Bosnia dan menghancurkan Serbia. Saya juga meminta agar Allah memuliakan Islam dengan cara memberi kemenangan atas pihak Muslim Bosnia. Lalu saat pulang dengan teman-teman, perut saya keroncongan sampai melilit. Kepala pusing tujuh keliling. Saya baru ngeh belum makan entah sejak kapan. Atas kebaikan hati seorang teman, saya ditraktir makan di sebuah warung sederhana.

Dalam perjalanan ke rumah, saya merasa aneh. Pikiran yang mulai jernih karena masuknya makanan membuat saya berpikir tentang hal lucu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan. Kehebohan saya berdoa dan menangis darah tidak membuat lapar saya hilang. Sederhananya, saya butuh uang agar bisa bertahan hidup. Sedangkan uang bisa didapat jika saya bekerja. Kenapa juga saya heboh nangis darah padahal tubuh membutuhkan saya untuk melakukan hal lain yang lebih berguna?

Sejak itu saya mau lebih memikirkan hal-hal mendasar lainnya. Salah satunya: kenapa juga tetap pakai jubah ke kampus Jatinangor (dari Gerlong) padahal sering hampir jatuh terinjak kainnya saat naik atau turun bus? Apa yang membuat saya keukeuh pakai jubah meskipun sering merasa badan saya hampir tenggelam di dalamnya? (Kebayang ya, jubahnya tanpa potongan, yang lurus dan gombrong). Perlahan tapi pasti saya mulai semakin kritis. Sedikit demi sedikit beberapa hal saya benahi.

Nah, kembali ke SMS-SMS tadi. Tentu saya takkan keberatan membaca surat Al-Fath, tahlil, takbir, dan Al-Ikhlas demi kebaikan Muslim Palestina. Itu kan kebaikan, insya Allah ada gunanya. Apalagi setelah membaca salah satu karya Karen Armstrong yang menceritakan Yerusalem sebagai kota besar agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya sadar betapa kompleksnya penyebab perang yang berlangsung antara Palestina dan Israel. Rasanya naif kalau saya berani menghakimi siapa yang salah atau siapa yang benar. Namun dari sisi manusiawi, saya menyesalkan dan bersedih atas darah yang tumpah di kota suci Yerusalem, yang pernah di satu waktu dulu begitu aman dan tentram di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Dalam buku Jurnal Hebron, Art Gish menceritakan pengalamannya selama menjadi anggota sebuah organisasi kemanusiaan di Yerusalem. Salah satu tugasnya adalah membantu anak-anak Palestina menyeberang jalan saat menuju ke sekolah agar terhindar dari peluru Israel. Dia menjadi sahabat orang-orang Palestina yang tanahnya tergusur karena pembangunan kompleks perumahan yang secara sistematis dibangun Israel di atas tanah yang tadinya milik orang Palestina. Dia Kristen yang sangat taat, namun setiap Ramadhan, dia ikut berpuasa bersama orang-orang Palestina yang dia dampingi. Namun setiap kali Hamas menuntut balas atas serangan Israel dan menyebabkan jatuhnya korban orang sipil, dia bersedih dan menyesalkan hal itu.
So, atas nama kemanusiaan, saya bersedih atas jiwa-jiwa yang melayang menemui penciptanya tanpa peringatan…

Fenfen
(septina ferniati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: