1000 Langkah Pagi dan Petang

~Oleh Dani Ardiansyah~

Sudah hampir 4 bulan saya tinggal di Pangkalan Jati, daerah perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan. Secara administratif rumah kami terletak di daerah pemerintahan Depok, tapi secara geografis kami masih berada di daerah selatan Jakarta.

Sebagaimana dearah-daerah perbatasan lainnya, jalanan menuju ke sana juga jelek, berlubang, becek, tidak beraturan. Coba saja perhatikan jalan-jalan di perbatasan, rata-rata tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah daerahnya.

Sesekali coba berkunjung ke selatan Jakarta, menuju perbatasan antara Jakarta Selatan dan Depok. Jika mengambil jalur jalan Fatmawati, maka tidak akan terlalu sulit menemukan lokasi ujung paling selatan kota Jakarta ini.

Dari arah RS Fatmawati, jalan raya yang cenderung padat kendaraan pada jam-jam kerja ini masih mulus tekstur aspalnya. Melewati pasar pondok labu, kita sudah berada hampir di ujung selatan Jakarta. Ada sebuah Rumah Sakit Umum yang cukup besar di sebelah kiri jalan, RS Peri Kasih. Dan setelahnya, juga ada bangunan besar yang sangat mudah di jadikan patokan directory, Universsitas Pembangunan Nasional (UPN).

Di jalan tusuk sate tepat didepan UPN, ada banyak pedagang kaki lima yang berjajar di bahu jalan, tepat di sudut tusuk sate itu terdapat sebuah mini market dari salah satu waralaba yang sudah banyak terdapat di banyak tempat. Sebuah pohon beringin rindang tua juga masih angkuh berdiri, dan menjadi tempat bernaung belasan tukang ojek yang menunggu penumpang. Dan disanalah rumah kontrakan kami, di batas kota.

Setiap hari kerja, saya akan berangakat menuju kantor dengan beberapa opsi yang tentunya opsi-opsi tersebut memiliki plus minusnya.

Opsi pertama, saya nebeng membonceng motor tetangga yang rata-rata satu jalur dengan saya. Hal ini sempat beberapa kali saya lakukan jika kebetulan pas saya keluar dari pintu kontrakan, mereka melintas di depan saya dan menawarkan tumpangan. Lumayan, Saya jadi bisa menghemat 2 hal: Waktu dan uang. Tapi cara ini tidak bisa saya jadikan andalan, karena tidak setiap hari saya keluar pintu dan mereka melintas. Saya pun tidak mencoba membuat dengan sengaja kebetulan-kebetulan seperti itu.

Opsi kedua, Saya naik angkutan umum 3 kali, dan turun tepat di depan kantor saya di daerah Radio Dalam. Rutenya: Cilobak -> Pondok Labu Rp 2000, Pondok Labu -> Lebak Bulus Rp 3500. Lebak Bulus -> Radio Dalam Rp 2500-> Total ongkos Rp 8000 x 2 (PP) = Rp 16000 x 26 hari kerja = Rp 416.000. Sebuah angka yang luamayan😀

Opsi ketiga, saya naik angkutan umum 2 kali. Rutenya : Cilobak -> Pondok Labu Rp 2000, Pondok Labu -> Blok M (turun di Blok A) Rp 2500 Total Ongkos Rp 4500 x 2 (PP) = Rp 9000 x 26 hari kerja = Rp 234000, lumayan menghemat Rp 182.000.

Tentu saja, sebagai orang yang memahami kondisi rekening pribadi, saya akan memilih opsi ketiga. Sebenarnya opsi pertama lebih menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat saya enggan untuk melakukan itu. Nah, untuk menjalani opsi ketiga ini, tentu ada konsekuensi yang harus saya tanggung. Dan konsekuensi itu adalah 1000 langkah pagi dan petang. Ya benar, saya harus berjalan kaki dari Pasar Blok A ke Radio Dalam, menembus pasar, pemukiman yang rapat dengan saluran air yang kurang lancar dan menebarkan aroma tidak sedap, melintasi komplek TNI AL lalu sampailah di Radio Dalam.

Saya tidak tahu jarak dalam satuan meter dari mulai saya turun dari Metro Mini di Pasar Blok A sampai ke Radio Dalam. Lalu saya berfikir untuk mengukur jarak tersebut dengan hitungan yang lebih realistis, yaitu langkah kaki saya. Bisa jadi langkah kaki masing orang berbeda-beda, yang akan membuat perbedaan jumlah ayunan langkahnya juga berbeda. 1000 langkah itupun, adalah hitungan yang sudah saya ringkas sedemikian rupa, demi alasan estetika pemilihan judul tulisan ini ^_^.

Sebenarnya, jumlah langkah kaki yang saya tempuh setia pagi lebih dari 1300 langkah, tapi lagi-lagi saya tidak bisa mengingatnya dengan baik berapa tepatnya saya melangkah. Maka saya bulatkan saja menjadi 1000 langkah.

Saya teringat kata-kata Mario Teguh, seorang motivator. Bahwa: “Rutinitas membunuh semangat. Jadi, pastikan, tiap harinya anda belajar hal-hal baru. ”
Tentu saja saya merasa jenuh ketika harus berhati-hati melangkah di atas jalanan pasar yang becek, ketika melintasi tumpukan sampah yang busuk dan lalat-lalat yang menyebalkan, ketika harus menghirup asap knalpot bajaj, ketika keringat membuat pakaian rapi saya lusuh, ketika mencium selokan yang aromanya tercium meski 10 meter saya sudah melewatinya, pemukiman yang rapat dengan aroma rumah tangga yang aneh, dan ketika presensi jam masuk kantor saya selalu merah, dan lain-lain. Ya saya jenuh.

Lalu saya mencoba memetik sesuatu dari rutinitas saya, sebagaimana Ali bin Abi Thalib berkata, “Jikalau hikmah itu ada di dalam gunung, niscaya akan aku goncangkan gunung itu!”. Baiklah, harus ada yang bisa saya ambil dari rutinitas saya tersebut.

Melewati Pasar, saya merasa sangat beruntung untuk tidak bekerja sejak dini hari dengan berkarung-karung sayuran, daging ayam, tempe, ikan asin, buah belimbing, kasur palembang, belepotan minyak goreng, kompor semawar (sejenis kompor minyak yang nyalanya sangat berisik), barisan bajaj dan lainnya.

Alhamdulillah, saya masuk kantor pukul 08.30 pagi, pun masih sering terlambat, dan masih sempat sarapan dengan baik. Saya beruntung bekerja di ruangan berpendingin udara, di hadapan komputer dan fasilitas menyenangkan lainnya, itupun saya masih sering mencuri-curi waktu untuk menuliskan hal ini.

Melewati pemukiman rapat, saya merasa sangat beruntung untuk dapat tinggal di sebuah rumah yang bersih, berlantai ubin, dengan sanitasi dan ventilasi yang baik, jauh dari selokan yang beraroma tak sedap, tidur di atas kasur berpegas ditemani seorang Bidadari cantik dan Seorang Bayi tampan.

Melewati sebuah kios rokok, yang sarat dengan orang-orang pasar yang berdesakan menyaksikan berita pagi di sebuah televisi di dalam kios tersebut, saya merasa beruntung punya sebuah televisi 21 inc yang bisa saya nikmati sepuas-puasnya tanpa harus berdiri dengan kaki dikerubungi lalat, pun tv tersebut saya beli second.

Melewati sebuah pos ronda dengan seorang perempuan paruhbaya kumal, rambut gimbal, kulit coklat, dan sedikit seram dan bertelanjang dada meringkuk kedinginan, tapi dia tertawa cekikikan ketika saya melintas. Saya merasa sangat beruntung masih dianugerahi pikiran yang sehat wal’afiat dengan tubuh yang juga bugar dan mendapatkan asupan gizi yang cukup, pun saya masih sering tertawa terbahak-bahak untuk hal yang tidak penting.

Sampai di Jalan Raya Radio Dalam, dan menyaksikan seorang pengendara motor yang bersimbah darah karena tertabrak oleh sebuah mobil box milik sebuah swalayan yang buka 24 jam, saya merasa sangat beruntung masih diberikan keselamatan meski harus berjalan melintasi semua ngilu di sepanjang jalan. Lalu, saya akan kembali mencari cermin dan memantulkannya ke dalam hati saya pada 1000 langkah petang nanti.

Fabiayyi ‘alaaa irobbikuma tukadzibaan:
So which of the favors of your Lord would you deny?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: