Memuliakan Diri

Tahukah Kalau Kita ini Makhluk yang Mulia?
Dalam al-Quran surah al-Isra’ (17): 70 Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Apasih Mulia itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online http://pusatbahasa. diknas.go. id/ tercatat sebagai berikut: “mu•lia a 1 tinggi (tt kedudukan, pangkat, martabat), tertinggi, terhormat: yg – para duta besar negara sahabat; 2 luhur (budi dsb); baik budi (hati dsb): sangat — hatinya; 3 bermutu tinggi; berharga (tt logam, msl emas, perak, dsb): logam –; hendak — bertabur urai, pb jika orang ingin mendapatkan kemuliaan atau ingin mulia di mata orang lain, hendaklah berani mengeluarkan uang, jangan kikir; me•mu•li•a•kan v menganggap (memandang) mulia; (sangat) menghormat; menjunjung tinggi: kita wajib – nama orang tua kita; – perintah Tuhan; ter•mu•lia a paling mulia; paling dimuliakan: dialah yg – dr segala hamba raja; mem•per•mu•lia v menjadikan lebih mulia: kehalusan budi pekerti akan – kedudukannya di masyarakat; pe•mu•lia n 1 orang yg memuliakan; 2 orang yg membuat (menjadikan) sesuatu bermutu lebih tinggi; – ternak ahli dl hal pemuliaan ternak; pe•mu•li•a•an n 1 hal memuliakan; 2 perihal membuat (menjadikan) sesuatu hal lebih bermutu atau lebih unggul; ke•mu•li•a•an n hal (keadaan) mulia; keluhuran; keagungan; kehormatan: terpujilah -Mu, ya Tuhan.”
Subhaanallah, bagaimana? luar biasa bukan? Mau? Mari bersama-sama berjuang untuk meraihnya.
Nah, jika kita cari lawan katanya pastinya kita adakan menemukan kata berikut hina, rendah, terkutuk. Baiklah, mari kita lihat apa arti kata hina itu, berdasarkan kamus yang sama;
“hi•na a 1 rendah kedudukannya (pangkatnya, martabatnya) : sesungguhnya aku ini orang yg –; 2 keji, tercela; tidak baik (tt perbuatan, kelakuan): zina merupakan perbuatan yg –; ketahuan — mulianya, pb mengetahui kedudukan yg sebenarnya; se — semalu, pb seia sekata; senasib; — angkara sangat rendah dan biadab; — budi kelakuan yg kurang baik; — lata hina dina; — papa hina dina; …”
Subhaanallaah, bagaimana? Semoga kita tak termasuk dalam golongan yang ini, mari bersama-sama kita berjuang untuk terhindar darinya.
Faktor Apa Yang Membuat Kita Menjadi Makhluk-Nya Yang Mulia?
Kemuliaan manusia pada intinya terletak pada kemampuannya meningkatkan kualitas diri dan orang yang ada di sekitarnya. Mengetahui dan memahami lalu mengabarkan, menyampaikan hal yang baik untuk dilakukan dan yang buruk untuk dihindari, bagi diri dan orang disekitar atau lingkungannya. Kemampuan tersebut berasal fasilitas kemanusiaan yang telah Allah SWT berikan dan hal tersebut menyatu dalam diri manusia itu sendiri. Antara satu fasilitas dengan fasilitas yang lainnya tak bisa dipisahkan, semua menjadi satu kesatuan, bagai dua sisi mata uang.
Lalu apa yang dimaksud dengan fasilitas kemanusiaan itu? ada tiga hal, ketiga hal tersebut terkadang disebutkan secara terbalik, tergantung pada saat atau kondisi seperti apa. Dalam surah al-A’raf (7): 179 Allah menyatakan:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Lihat pernyataan sebaliknya pada ayat berikut; Qs. An-Nahal (16): 78
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Atau pada ayat berikut; Qs. Al-Ahqaaf (46);
“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkann ya.”

Dari beberapa petunjuk Allah tersebut diatas jika saya simpulkan sebagai berikut; surah al-A’raf (7): 179 menyatakan, hati (qalb) yang tak difungsikan karena selalu dikotori hingga tak mampu meyaring dan menangkap kebenaran dari Allah (Islam), sehingga melahirkan perilaku buruk dan mengingkari nikmat-Nya, ini menjadi penyebab utama golongan manusia menjadi makhluk yang sangat terhina.
Sedang ayat Qs. An-Nahal (16): 78, menyatakan; yang pertama sekali berfungsi dari diri manusia saat hadir di bumi ini adalah pendengaran, setelah itu mata dan berikutnya yang akan sangat berperan untuk kehidupan selanjutnya adalah hati. Subhaanallah, ada sebuah sistematika yang luar biasa dari Sang Creator, Allah SWT. Pernahkah kita memikirkannya?
Dan pada ayat Qs. Al-Ahqaaf (46) ayat 26; menjelaskan bahwa kemulian manusia/derajat yang tinggi/luhur telah Allah tetapkan melalui ketiga fasilitas tersebut, tetapi banyak manusia menjadikan ketiganya tak berfungsi dengan tindakan/perbuatan dan fikiran yang mengingkari ayat-ayat Allah, ingkar (kufr) tterhadap nikmat yang telah diberikan-Nya karena nafsu negatif telah mendominasi.
Bagaimana Caranya Agar Mulia?
Berdasarkan petunjuk Allah SWT dalam beberapa potongan ayat al-Quran yang telah disebutkan di atas penyebab-penyebab manusia menjadi makhluk mulia atau makhluk terhina. Maka langkah-langkah yang harus kita lakukan saat ini adalah:
1. Menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, atau dalam hidup ada sumber kehidupan
2. Mengenal Sang Pencipta/Sumber kehidupan
3. Menyadari akan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi
4. Mengenal akan siapa diri ini, dari mana asalnya, untuk apa dan akan kemana setelahnya
5. Menyadari akan potensi besar yang telah Allah SWT “titipkan” dalam diri yang harus dikembangkan dan diaktualisasikan
6. Mengenal potensi diri yang telah Allah berikan lalu dikembangkan dan diaktualisasikan
7. Mensyukuri setiap apa yang diterima dengan aksi nyata yang bermanfaat untuk kehidupan.
Agar langkah-langkah tersebut bisa kita raih, maka kehadiran kita semua pada malam boleh dikata sebagai sebuah langkah awal untuk menyusurinya. Sekaligus kemudian bersama-sama berusaha meningkatkan kualitas diri dengan dasar keyakikan kepada Allah SWT agar kelak menjadi makhluk-Nya yang mulia.
Meningkatkan kualitas diri adalah sebuah proses mengenal Tuhan, Allah SWT Sang Pencipta, Sumber kehidupan dan diri sebagai ciptaan-Nya. Diri/jiwa/nafs/ ruh/kehidupan adalah sebuah unsur ketuhanan yang Allah SWT tiupkan dalam wadag/jasad/ badan manusia ketika masih dalam bentuk gumpalan darah/daging. Ada hal yang luar biasa dan tersimpan dalam diri sesuatu tersebut harus diungkap/diolah/ dilatih dalam kehidupan nyata dan jika hal tersebut tidak dilakukan maka jadilah ia sebagaiman yang Allah telah nyatakan dalam surah al-A’raf ayat 179, nau’dzu billaahi mindzaalik. Maka dari itu kegiatan semacam ini merupakan sebuah langkah/usaha untuk menghindarkan diri kita dari kesengsaraan dunia dan akhirat, wallaahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: