PUASA KHUSUS

Puasanya orang-orang shalih, bukan sekedar menjaga dari hal-hal yang membatalkannya seperti dijelaskan dalam Bab Puasa Lahiriah Umum, tetapi dengan menjaga segala anggota tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Pertama, dengan “menundukkan” pandangan mata serta membatasinya sedemikian rupa sehingga tidak tertuju kepada segala yang tercela atau yang dapat menyibukkan hati dan membuatnya lupa dari ingat kepada Allah SWT. Sabda Rasulullah saw :
Sekilas pandangan mata adakalanya  merupakan sebuah anak panah yang berbisa di antara panah-panah Iblis yang terkutuk. Maka barang siapa menahan dirinya dari pandanmgan seperti itu, karena rasa takutnya kepada Allah, maka Allah SWT akan melimpahkan kepadanya keimanan yang terasa amat manis dalam hatinya. (H.R. Al-Hakim yang mensahihkan riwayatnya dari hudzaifah)
Jabir ra meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Lima perkara dapat membatalkan puasa seseorang:Ucapan bohong, ghibah (bergunjing), fitnah, sumpah palsu dan pandangan yang bernafsu (memandang dengan syahwat).(H.R. Al-Adziy).
Kedua, menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia, dusta, gunjingan fitnahan, caci-maki, menyinggung perasaan orang lain, menimbulkan pertengkaran dan melakukan pertengkaran berlarut-larut. Sebagai gantinya hendaknya ia memaksakan lidahnya agar diam serta menyibukkannya dengan zikir  kepada Allah dan tilawat-Al Quran. Demikian itulah puasanya lidah.
Bisyr bin Harits meriwayatkan ucapan Sofyan : “Gunjingan merusak puasa”. Demikian pula Laits meriwayatkan dari Mujahid : “Dua hal merusak puasa : gunjingan dan dusta”.  Sabda Rasulullah saw :
Sesungguhnya puasa adalah tabir penghalang (dari perbuatan dosa). Maka apabila seorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil. Dan seandainya ada orang lain yang mengajaknya berkelahi ataupun menunjukan cercaan kepadanya, hendaknya ia berkata “Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (H.R.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Pernah pula di riwayatkan bahwa-di masa hidup Nabi saw- ada dua orang perempuan berpuasa lalu mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada akhir puasa itu, sedemikian sehingga hampir-hampir binasa karenanya. Kemudian mereka mengutus orang yang menghadap Rasulullah saw untuk memintakan izin bagi keduanya agar di perbolehkan menghentikan puasa mereka. Maka beliau mengirimkan sebuah mangkuk kepada mereka seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perut ke dalam mangkuk itu. Ternyata mereka memuntahkan darah dan daging yang segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga orang-orang yang menyaksikannya menjadi terheran-heran. Dan Rasulullah saw lalu bersabda : “Kedua perempuan ini  berpuasa terhadap makanan yang di halalkan Allah tetapi membatalkan puasa dengan Perbuatan yang di haramkan oleh-Nya. Mereka berdua  duduk bersantai sambil menggunjingkan orang lain. Maka itulah “daging-daging” mereka yang di pergunjingkan”. (H.R. Ahmad dari Ubaid (maula Rasulullah saw). Diantara sanadnya terdapat seorang yang tak di kenal (majhul).
Puasa dirinya dari menahan terhadap lapar dan dahaganya tidak ada nilainya di sisi Allah, apabila ia tidak menahan lisannya.
“Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan yang buruk, maka Allah tiada membutuhkan makan dan minum yang ditinggalkannya” (HR Bukhari)
Ketiga, menahan pendengaran dari mendengarkan segala sesuatu yang di benci oleh agama. Sebab segala sesuatu yang haram diucapkan haram pula untuk didengarkan. Karena itu pula Allah SWT menyamakan antara orang yang sengaja mendengarkan sesuatu yang diharamkan dan orang yang sengaja (menyediakan pendengarannya) untuk mendengarkan sesuatu yang diharamkan dan orang yang memakan harta haram, seperti dalam firman-Nya :
Mereka itu adalah orang-orang  yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan yang haram….(QS 5: 42)
Dan firman Allah pula :
Mengapakah orang-orang alim mereka serta pemimpin-pemimpin agama mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? (QS 5:63)
Demikian pula sikap membiarkan pergunjingan dan tidak melarangnya, termasuk hal yang haram, seperti dalam firman Allah :                                              
…Dan Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (jika tetap  bersama mereka) kamu adalah bersama mereka…(QS 4:140)
Rasulullah saw  pernah bersabda pula :
Orang –orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan adalah serupa dalam dosa (H.R.Ath-Thabraniy dengan beberapa perbedaan kata-kata)
Keempat, mencegah hidungnya untuk membiarkan penciumannya membaui segala sesuatu yang dapat munculnya syahwat dan hawa nafsu, apakah munculnya syahwat tersebut berupa keinginan untuk makan atau minum, atau fantasi sexual, atau yang lainnya.
Kelima, demikian juga menjaga perut agar tidak dimasuki makanan yang subhat (meragukan) terutama pada waktu  berbuka. Sebab tidak ada artinya seseorang berpuasa, menahan diri dari makanan yang halal, sedangkan pada saat berbuka dari puasanya itu, ia memakan yang haram. Orang seperti ini  dapat diibaratkan orang yang membangun istana sementara ia menghancurkan sebuah kota. Dan, pada hakekatnya., makanan yang halal pun dapat membawa mudarat karena banyaknya kadar yang di makan, walaupun bukan karena jenisnya. Maka puasa di maksudkan guna mengurangi kadarnya. Sama halnya seperti seorang yang tidak mau memperbanyak makan obat karena takut akan bahayanya. Jika orang tersebut menggantikan makan racun (walau sedikit) maka ia adalah seorang yang tidak sempurna akalnya. Adapun makanan yang haram adalah racun yang membinasakan agama sementara yang halal adalah obat yang bermanfaat apabila di gunakan sekadarnya, namun akan bermudarat apabila di makan terlalu banyak. Maka  puasa di maksudkan guna mengurangi kadar yang di makan itu.
Dan telah di riwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
Betapa banyak orang yang berpuasa sedang ia tidak mendapat sesuatu dari puasanya itu selain lapar dan dahaga. (H.R An Nasa-iy dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
Ada orang yang menafsirkan sabda Beliau tersebut berkaitan dengan orang yang berbuka dengan makanan yang haram. Ada pula yang berpendapat bahwa yang di maksud oleh beliau adalah orang yang berpuasa (menahan diri) dari makanan yang halal namun ia pada hakikatnya telah berbuka dengan “memakan daging orang lain”, yakni dengan menggunjingkan mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa yang di maksud dengan itu adalah orang yang tidak mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan dosa.
Hal lain dalam urusan makan dan lambung juga mencukupkan diri ketika berbuka, dengan makanan halal sekadarnya saja. Jangan terlalu kenyang sehingga perut
nya penuh dengan makanan (walaupun dari yang halal). Hendaknya di ingat bahwa “tak ada wadah yang di benci Allah daripada perut yang penuh dengan makanan”.
Betapa mungkin seorang dapat mengambil manfaat puasa yang berupa penghinaan tehadap setan, musuh Allah, atau penekanan syahwat hawa nafsu, kalau orang yang berpuasa itu segera menggantinya-pada saat berbuka- dengan semua yang tidak dapat di perolehnya di siang hari?! Atau adakalanya menambah-nambah berbagai jenis makanan seperti yang menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat. Yaitu dengan menyimpan berbagai macam makanan untuk dimakan pada bulan Ramadhan sejumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya!
Tentunya telah di ketahui bahwa tujuan puasa adalah mengosongkan perut dan mematahkan hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat untuk peningkatan ketakwaannya. Maka jika alat pencernaan seseorang dikosongkan sepanjang hari sampai malam sehingga selera makannya bergejolak dan keinginannya makin kuat, kemudian diberi makan dari segala yang lezat-lezat sekenyang-kenyangnya, sudah barang tentu kesenangannya bertambah dan kekuatannya menjadi berlipat ganda. Bahkan berbagai syahwat hawa nafsunya yang tadi masih terpendam, kini akan muncul dengan berbagai kerakusannya.
Jelaslah bahwa ruh puasa dan rahasianya (atau hikmahnya) yang tersembunyi ialah sebagai upaya memperlemah kekuatan-kekuatan fisik yang merupakan sarana-sarana setan dalam mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa. Oleh sebab itu tidak akan tercapai ruh puasa kecuali dengan mengurangi kadar makanan yang dimakan. Yakni mecukupkan diri dengan sekedar makanan malam yang biasanya ia makan pada hari-hari ketika ia tidak berpuasa. Adapun jika ia menambah makanan yang biasanya ia makan di siang hari dengan makanan malamnya, maka puasanya itu tidak akan bermanfaat baginya.
Lebih dari itu, diantar pelbagai adab puasa ialah hendaknya orang yang berpuasa tidak memperbanyak tidurnya di siang hari, agar ia benar-benar merasakan lapar dan haus serta makin melemahnya kekuatan tubuh. Dengan demikian, jiwanya pun akan menjadi jernih. Dan ia hendaknya tetap menjaga tetap berlanjutnya sebagian dari kelemahan itu hingga malam hari, agar terasa ringan baginya untuk ber-tahajjjud dan tetap membaca wirid-wirid yang telah ia tetapkan atas dirinya sendiri. Dengan begitu dapatlah di harapkan semoga setan tidak berani mendekati jiwanya, sehingga ia akan berhasil memandang kepada keajaiban kerajaan langit, terutama pada malam lailatul –qadar.
Lailatul-qadar ialah malam yang ketika itu akan tersingkap sebagian kebesaran ‘alam  malakut (alam atas). Yaitu yang di maksud firman Allah :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al Quran) pada lailatul-qadar. (QS 97:1).
Dan barang siapa yang menjadikan ruang antara hati dan dadanya sebagai gudang penyimpan makanan, maka akan tertutuplah ia dari pemandangan itu. Bahkan pengosongan perut pun tidak akan cukup untuk menyibak tirai penutup itu, jika himmahnya tidak dikosongkan sama sekali dari apapun selain Allah SWT. Itulah asas segala-galanya. Dan hal itu harus di mulai dengan mengurangi makanan.
Keenam, mencegah kelamin dari hal yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala antara waktu Subuh dan Maghrib, menjaga kelamin dari hal yang diharamkan pada seluruh waktu yang ada, serta menjaga diri dari segala hal yang dapat menggerakkan bangkitnya syahwat sexual. Banyak orang-orang yang menjaga kelaminnya dari hal yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala pada siang, namun membiarkannya terhadap yang haram di waktu malamnya. Maka tiada faedah puasanya di waktu siangnya itu.
Kemudian juga mencegah kulit dari merasakan hal-hal yang dapat munculnya hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, walau kemunculan tersebut hanya dalam tingkatan perasaan, keinginan atau pikiran.
Ketujuh, mencegah semua anggota tubuh lainnya dari perbuatan haram. Yakni tangan dan kaki  dicegah dari melakukan, memegang, mengantar kepada segala yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.
Kedelapan, hendaknya hatinya-setelah selesai berbuka- senantiasa terpaut dan terombang-ambing antara harap dan cemas. Sebab, ia tidak tahu apakah puasanya di terima sehingga ia termasuk golongan muqarrabin (orang yang di dekatkan kepada Allah)? Ataukah ditolak sehingga masuk golongan mamqutin (orang yang di benci oleh-Nya)? Perasaan seperti itulah yang seyogianya menyertai dirinya setiap saat selesai melakukan ibadah. Telah diriwayatkan bahwa Hasan Al Bashri melihat (di bulan Ramadhan) sekelompok orang sedang tertawa terbahak-bahak. Ia berkata kepada mereka :
”Sesungguhnya Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena bagi hamba-hamba-Nya untuk berlomba-lomba berbakti kepada-Nya. Maka sebagian orang yang berjaya karena berhasil keluar sebagai pemenang, dan sebagiannya lagi kecewa karena tertinggal di belakang. Karena itu, sungguh amat mengherankan, masih ada orang yang tertawa dan bermain-main pada hari kejayaaan orang-orang yang menang, dan kekecewaan orang-orang yang bertindak sia-sia! Demi Allah, seandainya tirai penutup yang gaib tersibak, niscaya setiap orang yang telah berbuat kebajikan akan sibuk dengan hasil kebajikannya, dan yang telah berbuat kejahatan akan sibuk dengan hasil kejahatannya!”.
Pernah ada seorang yang berkata kepada Ahnaf bin Qais : “Anda seorang yang telah lanjut usia. Sedangkan puasa akan melemahkan fisik Anda!” Jawab Ahnaf : “Memang aku menjadikannya sebagai bekal untuk suatu perjalanan amat jauh. Sabar dalam melaksanaakan kebaktian kepada Allah lebih ringan daripada sabar menderita azab-Nya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: