PUASA KHUSUS AL KHUSUS

Sedangkan puasa yang terkhusus diantara yang khusus, disamping hal-hal yang tersebut di atas, ialah puasanya hati dari niatan-niatan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi serta memalingkan diri secara keseluruhan dari segala sesuatu selain Allah SWT. Puasa seperti ini  dianggap batal dengan tertujunya pikiran kepada selain Allah SWT dan Hari Akhir. Atau dengan memikirkan tentang dunia, kecuali sesuatu dari  dunia ini yang dimaksudkan dengan agama, yaitu sesuatu yang termasuk bekal akhirat bukan semata-mata ingin bermegah-megah dalam kehidupan dunia.
Mengenai hal tersebut, beberapa dari arbab al-qulub (yakni orang-orang yang telah tercerahkan hati nuraninya) berkata: ”Barang siapa tergerak himmah (tekad)-nya untuk mengerjakan sesuatu di siang hari guna mendapatkan sesuatu yang di makan pada saat berbuka, maka perbuatannya itu akan dicatat dosa akan dirinya. Sebab yang demikian itu bersumber dari kurang kepercayaan akan karunia Allah SWT serta sedikitnya keyakinan akan rizki-Nya yang dijanjikan”.
Inilah peringkat para muqarrabin (orang-orang yang di dekatkan kehadirat-Nya), yaitu para Nabi dan para Shiddiqiin. Tidak perlu berlama-lama membicarakan perinciannya, tapi yang lebih penting ialah mentahkikkan pengamalannya. Yakni menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT serta memalingkan diri dari apa saja selain-Nya.
Untuk menuju kepada kesempurnaan puasa seperti yang dilakukan oleh para muqarrabiin, maka sesungguhnya pencegahan bukan hanya dilakukan atas apa yang lahiriah, tetapi juga dilakukan terhadap hal-hal bathiniah.
Apabila kita memperhatikan prosesnya, maka segala perbuatan itu terjadi didahului oleh munculnya perasaan, keinginan dan pikiran. Proses perpindahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya seringkali terjadi demikian cepat sehingga kadang kita pun tidak menyadarinya. Dan sesungguhnya semua tahap tersebut tidak berlalu begitu saja, semua telah mendapatkan nilai dari Allah Ta’ala.
Sebahagian besar manusia hanya memperhatikan apa yang nampak saja, yaitu aspek perbuatan. Sementara yang tidak nampak (padahal lebih banyak jumlahnya) yaitu perasaan, keinginan dan pikiran seringkali diabaikan. Padahal dalam sebuah  hadits Rasulullah Saw amat menekankan tentang pentingnya hal yang tidak nampak ini. Sehingga beliau berkata bahwa perbuatan itu bergantung kepada niatnya, atau dalam sebuah hadits dikatakan bahwa hati adalah tempat jatuhnya titik pandang dari Allah Ta’ala.
Dalam hati seorang hamba selalu terjadi pertarungan antara an-nafs dan hawa nafsu – syahwat. Usaha untuk selalu mengendalikan hawa nafsu dan syahwat kemudian memenangkan an-nafs inilah wujud dari puasa bathiniah tersebut.

 

 

Memperhatikan Guratan Hati dan Pikiran
Seorang yang sungguh-sungguh dalam ‘puasa bathiniah’ ini akan benar-benar memperhatikan segala guratan hati dan lintasan pikiran. Dan ia akan benar-benar berusaha menjaga agar hati dan pikirannya tidak didiami oleh tentara-tentara hawa nafsu dan syahwat.
Dalam melaksanakan puasa bathiniah ini sikap yang memegang peran amat penting adalah kejujuran kita terhadap diri sendiri. Manakala kita menyadari sebuah kesalahan, kita harus jujur terhadapnya, dan kemudian berusaha untuk keluar daripadanya. Orang lain memang tidak melihat segala hal yang tersimpan di hati dan segala hal yang berputar di akal. Tapi kalau kita mau jujur, sesungguhnya kita tahu manakala hati kita menyimpan segala hal yang tidak benar, demikian pula manakala pikiran kita bergulat dengan segala sesuatu yang tidak disukai oleh Allah. Wajarlah kalau dikatakan di hadits bahwa puasa adalah milik Allah!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: