MENJEMPUT RAHMAT ALLAH

Seorang manusia tiada akan mungkin mampu mensucikan dirinya sendiri. Yang akan dapat mengampuni segala dosa dan kesalahan seseorang adalah hanyalah apabila hadir rahmat (pertolongan) Allah pada dirinya.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:21)
Sebuah cara untuk mengetuk agar rahmat dari Allah Ta’ala hadir adalah dengan kesabaran dan amal-amal yang shalih.
Kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. 11:11)
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. 13:22)
Untuk itulah agar puasa yang dilakukan seseorang dapat menjemput rahmat dan ampunan dari Allah, ia harus melingkupi aspek lahir dan bathin. Bukan sekedar menjaga diri dari lapar dan dahaga.
Puasa lahir apabila dilaksanakan dengan benar, merupakan sarana penunjang yang amat sangat ampuh dalam memudahkan seseorang untuk bersabar, memenangkan an-nafs dari hawa nafsu dan syahwatnya.  Namun sekali lagi, hal tersebut hanyalah sarana penunjang yang memudahkan. Untuk itu ia harus memanfaatkan sarana penunjang tersebut dengan implementasi nilai-nilai puasa bathiniah nya.
Ibarat seseorang ingin naik ke atas atap rumah. Untuk memudahkan, ia membutuhkan tangga. Tanpa tangga ia akan merasakan betapa sulitnya naik ke atap rumah. Namun apabila tangga telah terpasang, maka hal itu tidak menyebabkannya secara serta merta telah berada di atap rumah. Ia masih punya keharusan untuk memanjat tangga tersebut. Dalam konteks puasa, ia harus menyelarasinya dengan menjaga aspek-aspek bathiniah, yang menjadi tujuan dari agama itu sendiri.
Untuk itulah agar seorang dapat mencapai kemuliaan di sisi Allah, dan segala dosa disucikan oleh-Nya, ia harus berpuasa lahiriah dan bathiniah. Kalau ia berpuasa lahiriah, namun yang bathiniah diabaikannya, maka sepertilah ia tangga yang terpasang sementara bukannya ia memanjat tangga, tetapi ia malah menyibukkan diri dengan permainan atau pekerjaan yang lain. Hal inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, bahwa demikian banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga!

 

 

Puasa Lahiriah dan Bathiniah
Secara lahiriah, sekarang ini kebanyakan orang dalam melakukan puasa hanyalah menahan dirinya dari lapar dan dahaga serta syahwat sexual saja. Padahal seharusnya bukan hanya mencakup kepada kedua hal tersebut. Tetapi ia harus menjaga segala anggota tubuh dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.  Seluruh anggota tubuh ini melingkupi mata dan penglihatannya, telinga dan pendengarannya, lidah dan segala ucapannya, hidung dan penciuamanya, kulit serta kelamin dari segala rasa yang muncul darinya, lambung dan makanan yang dimasukkan ke dalamnya, kaki dan untuknya ia berjalan serta tangan dan segala aktivitasnya.
Puasa lahiriah ada dua peringkat. Peringkat pertama adalah puasa umum dan perangkat kedua adalah puasa khusus. Puasa umum ini adalah puasa orang-orang umum yang awam, yang dilakukannya hanya sekedar mencegah dari hal-hal yang membatalkannya. Sedangkan puasa khusus adalah puasanya orang-orang shalih yang berharap perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Ia bukan hanya menjaga diri dari yang membatalkan puasa, namun ia juga menjaga seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Sedangkan puasa dalam aspek bathiniah adalah puasanya para Nabi, Shiddiqiin dan Muqarrabiin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Mereka bukan hanya menjaga hal-hal yang membatalkan serta anggota tubuh dari hal yang diharamkan oleh Allah, tetai ia juga menjaga seluruh perasaan (rasa), keinginan (karsa) dan pikiran (cipta) dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah, yaitu segala hal yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah Ta’ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: