MEMILIH YANG TERBAIK

Mungkin Anda akan bertanya: ”Para fuqaha’ (ahli fiqih) telah menyatakan bahwa orang yang berpuasa dan menahan diri dari nafsu makan dan seksual, puasanya itu sah adanya, walaupun ia meninggalkan makna-makna bathiniah seperti tersebut di atas. Bagaimana ini?”
Jawabnya ialah, bahwa kaum fuqaha’ yang hanya memperhatikan hal-hal lahiriah saja, memang hanya menetapkan persyaratan-persyaratan lahiriah bagi sahnya puasa. Namun dalil-dalil yang mereka kemukakan adalah lebih lemah daripada syarat-syarat bathiniah seperti tersebut di atas. Terutama soal-soal ghibah (pergunjingan) dan sebagainya. Hal ini di sebabkan para fuqaha itu tidak menetapkan dari kewajiban-kewajiban ini kecuali yang mampu di kerjakan semua orang, termasuk mereka yang lalai dan sangat tertarik pada kehidupan dunia. Sedangkan para ulama yang mengutamakan kehidupan akhirat, menganggap bahwa keabsahan suatu pekerjaan tidak dapat dipisahkan dari kemungkinan diterimanya (oleh Allah SWT). Hanya dengan diterimanya sesuatu oleh-Nya sajalah kita akan mencapai tujuan. Dan mereka ini memahami bahwa tujuan puasa ialah bertindak dan bersikap dengan dan sesuai dengan akhlak Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga berusaha sekuatnya menyamai sifat para malaikat dalam hal menahan diri dari segala syahwat dan hawa nafsu. Sebab, para malaikat  adalah mahluk-mahluk yang di jauhkan dari segala macam syahwat dan kecenderungan hawa nafsu. Adapun tingkatan manusia adalah di atas tingkatan hewan. Hal ini mengingat kemampuannya untuk mematahkan hawa nafsu, dengan cahaya akalnya. Tetapi bersamaan  dengan itu ia berada di bawah tingkatan malaikat, di sebabkan  kekuasaan hawa nafsu yang ada pada dirinya. Hal itu merupakan ujian bagi dirinya mengingat bahwa ia senantiasa harus melawannya.
Maka setiap kali ia membenamkan diri dalam pemuasan hawa nafsunya, ia meluncur ketingkatan paling bawah sehingga berada di tengah-tengah alam binatang. Sebaliknya, setiap kali ia dapat menekan dan mengalahkan hawa nafsunya, ia terbang ke tingkatan yang paling atas sehingga bergabung dengan para malaikat. Sedangkan para malaikat adalah mahluk yang di dekatkan kepada Allah SWT. Maka siapa saja yang meneladani mereka dan berusaha menyerupai ahlak mereka, ia akan mendekat kepada Allah juga seperti halnya para malaikat. Dan siapa saja yang berusaha menyerupai orang yang mendekat kepada Allah adalah akan masuk kedalam golongan yang dekat dengan Allah juga. Namun yang di mmaksud kedekatan disini, bukanlah dekat dalam tempat dan ruang, tetapi dekat dalam sifat-sifat.
Nah jika yang demikian itu merupakan rahasia (hikmah) puasa dalam pandangan orang-orang berakal sehat dan menggunakan mata-hatinya, faedah apakah yang akan di peroleh dari perbuatan menangguhkan makan siang hari untuk kemudian di gantikan bahkan di tambahkan pada makanan malam hari? Terlebih lagi bila di sertai pelampiasan hawa nafsu syahwat sepanjang hari?
Seandainya hal seperti itu di anggap berfaedah, apa artinya sabda Nabi Saw :
Betapa banyak orang-orang berpuasa namun tidak memperoleh sesuatu dari puasa itu selain lapar dan dahaga?
Bagaimana orang-orang berakal tidak mengecam puasa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh serta bangun-malam mereka, sedangkan sekilas tidurnya orang-orang yang kuat keyakinan dan ketakwaannya, jauh lebih utama dari ibadah orang-orang yang terkelabui oleh dirinya sendiri, walaupun ibadah mereka itu sebesar gunung. Karena itu pulalah sebagian ulama berkata :
”Betapa banyak orang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal  berpuasa.”
Yang di maksud orang berbuka tapi berpuasa ialah yang menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang di maksud berpuasa tetapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuhnya yang lain.
Rasullah Saw telah bersabda :
Sesungguhnya puasa adalah  amanat, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanatnya. (H.R Al-Kharaithiy dalam makarim Al-Khalaq dari Ibnu Mas’ud)             
Pernah Rasulullah Saw membaca firman Allah: ”Sesungguhnyalah Allah memerintahkan kamu menyampaikan semua amanat kepada yang berhak …” Diriwayatkan bahwa ketika itu beliau menunjuk kepada telinga dan mata seraya berkata : ”pendengaran adalah amanat dan penglihatan pun adalah amanat.”
Seandainya yang demikian itu tidak termasuk dalam amanat-amanat puasa, niscaya beliau tidak mengajarkan kepada siapa saja yang diajak bertengkar sementara ia dalam keadaan berpuasa, untuk mengatakan: ”aku ini sedang berpuasa. Aku ini sedang berpuasa”, yang menunjukkan keteguhan untuk menjaga diri dari amanat-amanat Allah.
Kini, telah menjadi jelas bahwa setiap ibadah mempunyai segi lahir dan bathin, atau kulit dan isi. Kulitnya pun bertingkat-tingkat. Maka terserah Anda kini untuk memuaskan diri dengan kulitnya saja, tanpa isi. Atau menggabungkan diri dengan kalangan orang-orang yang terbuka mata-hatinya, yakni mereka yang di sebut ulul-albab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: