FALSAFAH PUASA

Langkah Awal Menuju Keselamatan
Manusia adalah makhluk yang khusus. Berbeda dengan malaikat yang dicipta hanya untuk menjadi abdi Allah atau hewan yang dicipta hanya mengikuti hawa nafsu-syahwatnya saja, maka manusia mempunyai kedua sisi tersebut dalam dirinya. Ia dapat menjadi abdi Allah melebihi kemuliaan para malaikat, dan diapun dapat mengikuti hawa nafsunya sehingga lebih berbahaya dari seekor binatang.
Bawa Muhaiyadeen mengatakan kalau dua ekor binatang jantan berkelahi, maka apabila salah satu lari, maka yang menang akan membiarkannya pergi sehingga pertarungan berakhir dan persoalan pun selesai. Namun tidak demikian dengan manusia. Bila sang lawan lari ketakutan, maka ia akan mengejarnya, membunuhnya jika perlu. Bisa menggunakan pisau, senapan, batu, tipu muslihat bahkan guna-guna. Demikianlah manusia bisa lebih berbahaya dari seekor hewan.
Keberadaan dua sisi inilah yang disebut dalam al Qur’an sebagai wujud an-nafs (jiwa sejati) dan hawa nafsu-syahwat. Dalam diri manusia antara an-nafs dan hawa nasu-syahwat ini selalu berperang memperebutkan singgasana raja hati. Siapa yang berhasil mendudukinya, maka dialah yang akan menguasai seluruh tentara lahir dan bathin manusia. Apabila seorang manusia mengendalikan dirinya atas hawa nafsu-syahwatnya, maka an-nafs nya akan menyempurna menjadi an-nafs al muthmainnah. Dan ketika ia menjadi raja dalam diri akan menjadikannya seorang yang ridla kepada Allah dan Allah Ta’ala ridla kepadanya. Sedangkan jika hawa nafsu-syahwat yang menjadi raja, akan menyebabkannya lebih rendah dari binatang ternak.
Wahai an-nafs al-muthmainnah. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridla kepada Allah dan diridlai oleh Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun. (QS. 8:22)
Karena adanya an-nafs dan hawa nafsu-syahwat inilah maka Allah Ta’ala membebaskan manusia untuk memilih jalan. Apakah jalan yang buruk atau jalan yang baik, jalan yang fujur atau jalan taqwa. Walaupun kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban dari jalan yang diambilnya.
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefujuran dan ketaqwaan (QS. 91:8)
Seorang yang akan selamat, adalah seorang yang berada dalam jalan ketaqwaan.  Untuk berada dalam jalan ketaqwaan, maka langkah pertama yang tidak pelak harus dilakukannya adalah ia harus mengendalikan diri dari hawa nafsu dan syahwatnya. Tiada akan mungkin mengalir dari diri seorang amal-amal shalih, kalau hawa nafsu dan syahwatnya tidak dikendalikannya. Dan kalau amal-amal seseorang tidak shalih, maka ia tidak akan masuk dalam golongan orang yang taqwa.
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:40-41)

Hawa Nafsu dan Syahwat
Hawa nafsu dan syahwat oleh diibaratkan sebagai kuda-kuda yang membawa kereta jasad. Sedangkan an-nafs  adalah saisnya.
Hawa nafsu dan syahwat bukanlah dimatikan. Karena apabila ia mati, maka tiada lagi sarana bagi kereta jasad untuk dapat berjalan menghadapi kehidupan duniawi yang merupakan amanah sekaligus ujian dari Allah Ta’ala. Tetapi hawa nafsu dan syahwat harus dijinakkan dan dikendalikan oleh sais an-nafs al muthmainnah.
Kebanyakan manusia kondisinya adalah sang sais an-nafs dalam keadaan sakit bahkan lumpuh, sehingga kuda-kuda hawa nafsu dan syahwat tidak terkendali membawa beban jasad kesana kemari tidak tentu arah. Dirambahnya jalan-jalan kemaksiatan, sehingga tidak terasa ia telah tergelincir semakin jauh dari jalan Allah Shiraath al Mustaqiim.
Banyak orang yang menyangka bahwa segala sesuatu kemaksiatan yang dilakukannya adalah dikarenakan syaithan secara mutlak. Ketahuilah bahwa tanpa peran syaithan pun hawa nafsu dan syahwat yang tidak dikendalikan telah membawa manusia kepada kemaksiatan kepada Allah.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 12:53)
Syaithan menggoda manusia dengan media hawa nafsu dan syahwat yang ada di dalam diri. Caranya menggelincirkan manusia kepada kemaksiatan digambarkan Syaikh Mozaffer Ozak, hanyalah seperti mengendorkan tali kekang kambing kesayangan milik seorang lelaki. Setelah kendor tali kekangnya maka sang kambing berlari menabrak cermin yang demikian dicintai oleh sang istri. Sang istri marah, maka disembelihlah sang kambing. Sang suami yang mendapati kambing kesayangannya telah disembelih, marah tidak kepalang dan kemudian membunuh sang istri. Keluarga sang istri yang mendengar bahwa kerabatnya telah dibunuh pun tidak bisa menerima kejadian tersebut. Mereka mengejar sang suami yang kemudian ditolong oleh keluarganya. Maka selanjutnya terjadilah peperangan antar kaum. Dan syaithan pun bertepuk tangan sambil berkata, “aku hanya mengendorkan tali kekang kambing”.
Sungguh syaithan hanya menggoda manusia melalui hawa nafsu dan syahwat, dengan cara mengendorkan kendali hawa nafsu dan syahwat seperti dikendorkannya tali kekang kambing tersebut. Ia melakukannya dengan cara memberikan janji, membangkitkan angan-angan kosong dan meniupkan was-was ke dalam dada manusia.
Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (dirinya) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. 6:119)
… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS. 38:26)
Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS. 4:120)

Puasa Alat Bantu Mengendalikan Hawa Nafsu
Apabila dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa mengandung rahasia tersendiri. Hal ini dengan mengingat tiadanya suatu amalan konkret padanya yang dapat dilihat oleh orang lain. Sedangkan semua amalan ketaatan kepada Allah, selain puasa, mengandung kemungkinan untuk dapat disaksikan oleh orang banyak. Puasa tidak ada yang dapat melihatnya kecuali Allah Azza wa Jalla. Sebab, ia adalah amalan dalam bathin seseorang, dilaksanakan hanya dengan kesabaran semata-mata.
Disisi lain puasa adalah amalan yang menghinakan syaithan, musuh Allah, dengan cara paksa. Hal ini mengingat bahwa sarana syaithan terkutuk untuk mengelabui manusia ialah pelbagai syahwat dan hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu akan menjadi kuat dengan makan dan minum. Karena itu Rasulullah Saw bersabda :
Sesungguhnya syaithan itu mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah, maka persempitlah saluran-saluran baginya dengan lapar. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Syafiyyah).
Apabila seseorang berpuasa dengan benar, maka dengan kondisi lapar dan dahaga, menjadikan jasad lemah demikian pula dengan kekuatan hawa nafsu dan syahwat   menjadi lemah. Inilah yang dibahasakan diatas sebagai &l
squo;cara paksa’.
Imam al Ghazaly menjelaskan tentang hakikat sabar adalah sebuah upaya kita untuk selalu memenangkan an-nafs dari hawa nafsu dan syahwat. Maka dengan lemahnya hawa nafsu dan syahwat, akan lebih  mudahlah bagi seorang manusia untuk memenangkan tentara penggerak agama atau secara sederhana dikatakan, akan lebih mudahlah baginya untuk bersabar.
Apabila tentara penggerakan agama atau aspek kemalaikatan, selalu diupayakan untuk dimenangkan dari hawa nafsu dan syahwat, maka sedikit demi sedikit akan bangkitlah kembali ia dari keadaan sakit atau kelumpuhannya. Sehingga akan kembali seperti pada kondisi awalnya pada saat lahir ke bumi ini (‘idul fithri).
Dan apabila atsar puasa ini tetap terjaga dalam seluruh aspek kehidupan, maka an-nafs akan menjadi muthmainnah dan menjadi sais yang secara baik mengendalikan kuda-kuda hawa nafsu dan syahwatnya.
Karena hal itulah maka puasa diderajatkan sebagai ‘’Seperempat iman’’ seperti yang dapat di simpulkan dari sabda Nabi Saw.: Puasa adalah separuh dari sabar. (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah) Sedang beliau pernah bersabda pula : Sabar adalah separuh dari Iman. (HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, dan Al-Khatib dalam Tarikh-nya dari Ibnu Mas’ud dengan sanad “hasan”).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s