Meluruskan Niat

NIAT

pancaran niat

Disusun oleh: Ibnu ‘Abidin As-Soronji

Pembahasan tentang masalah niat adalah pembahasan yang sangat penting. Hal ini telah dijelaskan oleh para salaf, diantaranya perkataan mereka:

Dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata: “Pelajarilah (tentang) niat. Karena niat itu lebih mengena daripada amalan.

Dari Ibnu Mubarak, dia berkata: “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar (nilainya/pahalanya) disebabkan niat dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (nilainya/pahalanya) disebabkan niat.”

Dari Fudhail bin ‘Iyadh, dia berkata: “Sesungguhnya Allah hanyalah menerima dari engkau niatmu dan kehendakmu.” (jami’ul ‘ulum wal hikam 1/70-71)

Suatu hadits yang sangat mashur dan paling sering disampaikan oleh para ulama ketika membahas masalah niat yaitu hadits:

Dari Umar bin Khothob Radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rosul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena (perkara) dunia yang ingin dia peroleh atau karena wanita yang ingin dia nikahi maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini adalah hadits yang sangat tinggi nilainya sehingga banyak kitab-kitab yang dibuka dengan hadits ini. Seperti kitab shohih Bukhari, kitab Umdatul Ahkam karya Syaikh Taqiyuddin Al-Maqdisi, kumpulan hadits-hadits Arba’in dan kitab Al-Majmu’ oleh Imam Nawawi, serta kitab Jami’us Shoghir oleh Imam As-Suyuti. (Qowa’id wal fawaid hal.24). Sehingga benarlah perkataan Abdur Rahman bin Mahdi: “Kalau Aku menulis bab-bab (ilmu) maka aku letakkan hadits Umar tentang ‘A’malu binniyat pada setiap bab-bab tersebut.” Dia juga berkata: “Barangsiapa yang ingin menulis sebuah kitab maka hendaklah dia membuka kitabnya tersebut dengan hadits ‘a’malu binniyat. Berkata Imam Syafi’i: “Hadits ini masuk dalam tujuh puluh bab fiqih.” (Jamiul ‘ulum wal hikam 1/61)

Hadits ini juga merupakan hadits yang sangat tinggi nilainya karena mengandung pokok agama, sehingga diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i berkata: “Hadits ini (mengandung) sepertiga ilmu (agama).” Perkataan serupa juga dilontarkan oleh Imam Ahmad seraya berkata: “Landasan Islam (dibangun) di atas tiga hadits, hadits Umar (’a’malu binniyat) dan hadits ‘Aisyah (Barang siapa yang membuat dalam urusan (agama) kami ini amalan yang bukan bagian darinya maka ia tertolak) dan hadits Nu’man bin Basyir (Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas …)” Perkataan Imam Ahmad ini sangat tepat karena perkara agama seluruhnya kembali pada pelaksanaan perintah-perintah agama dan meninggalkan larangan-larangan agama dan berhenti (berdiam diri) dari perkara-perkara syubhat. Hal itu semua terkandung dalam hadits Nu’man bin Basyir. Dan amalan-amalan kebaikan ini hanyalah diterima oleh Allah jika terpenuhi dua syarat. Pertama, dzhohir amalan tersebut harus sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (bersih dari bid’ah). Dan syarat pertama ini terkandung dalam hadits ‘Aisyah. Kedua, batin amalan tersebut harus ikhlas hanya mengharap wajah Allah dan makana ini terkandung dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu . (Jami’ul ‘ulum wal hikam 1/171).

Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Supaya Dia (allah) menguji kamu, siapa diantara kamu yang terbaik amalnya.” (Al Mulk:2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman “siapa diantara kamu yang terbanyak amalannya” tetapi “yang terbaik amalnya”. Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan ayat ini (yang terbaik amalannya), kata beliau: “(yaitu) yang paling ikhlash dan yang paling benar. Sesungguhnya amalan jika sudah ikhlash namun tidak benar (tidak sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) maka tertolak; dan jika amalan tersebut sudah benar namun tidak ikhlash maka tertolak (hanyalah diterima) hingga jika benar dan ikhlash. Yang dimaksud dengan ikhlash yaitu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dikatakan amalan itu benar jika di atas sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perkataan Fudhail ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Maka barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal sholih dan janganlah dia berbuat syirik dalam beribadah kepada Robbnya dengan sesuatupun. (Al-Kahfi:110)

Amalan yang sholih maksudnya yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berbuat syirik maksudnya ikhlash (tidak riya’). (Jami’ul ‘ulum wal hikam 1/72)

PENJELASAN HADITS:

Niat menurut bahasa bermakna “Al-Qosdu” (yang berarti maksud/tujuan) dan “irodah” (yang berarti kehendak/tujuan). Sedangkan menurut istilah syar’i adalah ‘azam (kehendak yang kuat) untuk melakukan suatu ibadah untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Sungguh menyedihkan jika ada seorang muslim yang begitu giatnya memeperhatikan amalan-amalan tubuhnya, dia berusaha membaguskannya namun dia lalai dari memperhatikan amalan hatinya. Dia lupa memperhatikan apakah niatnya ketika beramal sudah baik atau belum. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila daging tersebut baik maka baik pula seluruh (anggota) tubuh. Dan bila segumpal daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh (anggota) tubuh. Ketahuilah … segumpal daging itu adalah hati.’

Hadits ini menunjukkan bahwa amalan-amalan hati (termasuk di dalamnya mempelajari masalah niat karena niat tempatnya di hati) adalah sangat penting. Berkata Syaikh As-Sa’di: “Baiknya amalan-amalan tubuh dan amalan-amalan harta yaitu dengan baiknya amalan-amalan hati.” (Qowaidul fiqhiyah hal.24) Berkata Muthorrif bin Abdillah: “Baiknya hati dengan baiknya amalan, dan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘ulum wal hikam 1/71)

Maroji’:

Al-Qoul Al-Mufid jilid 1 dan 2, Syaikh Utsaimin
Fathul Majid (penerbit Darul Fikr tahun 1992)
Qowa’id wa fawaid min al-Arbain an-Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthon
Tazkiyatun Nufus, Dr. Ahmad Farid
Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Utsaimin jilid 1
Aina Nahnu min Aklakis Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil
Al-Qowa’id Al-Fiqhiyah, Syaikh Nasir As-Sa’di
Al-Qaul al-Mubin Fiber Optic aktho’ al-mushollin, Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Salman
dinukil dari: makalah “Fiqih Niat”, disusun oleh: Ibnu ‘Abidin As-Soronji. (Santri Ma’had Jamilurrahman As-Salafy, Yogyakarta) Hal.1-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: