Mari Bersyukur

 

Mensyukuri Neraka…
Entah kapan dimulai, dan siapa yang memulainya tidaklah terlalu jelas.
Yang jelas, ada banyak sekali manusia yang amat rindu akan surga dan
amat takut sama neraka. Dari anak kecil sampai orang tua, dari orang
desa sampai orang kota, kebanyakan rindu surga dan takut neraka.

Jujur harus diakui, sayapun pernah lama dilanda kerinduan dan
ketakutan semacam itu. Cuman, setelah menelusuri lorong-lorong
kehidupan dengan kedalaman kontemplasi tertentu, rupanya kita manusia
sudah terlalu lama manja dengan buaian surga, dan dibuat takut oleh
ancaman neraka. Untuk kemudian kehilangan dua kesempatan emas dalam
hidup. Kesempatan emas pertama, manusia kehilangan kekuatan amat besar
yang bernama keikhlasan. Kesempatan emas kedua, justru melalui
tempaan-tempaan neraka yang ditakuti (baca : masalah) kemudian manusia
jadi kuat dan hebat.

Konsepsi surga-neraka, sebagaimana kita tahu, memang memiliki banyak
sekali manfaat. Cuman, sebagaimana wajah dualitas manapun, konsepsi
surga-neraka membuat tidak sedikit manusia kemudian "berdagang" dengan
kehidupan. Sebagai akibatnya, manusia kehilangan keikhlasan sebagai
kekuatan kehidupan.

Ada cerita tentang sebuah desa yang tidak berhasil memotong pohon
besar mengganggu. Karena berbagai peralatan tidak berhasil membuat
pohon tumbang, dicurigai pohon ini ditunggui mahluk dengan kekuatan
metafisik tertentu. Dicarilah orang "pintar" yang bisa membantu.
Ternyata, ada orang berpenampilan sederhana yang bisa memotong pohon
tadi dengan gergaji biasa. Orang terakhir hanya memotong pohon tadi
dengan kalimat permulaan yang berbunyi : "dengan keikhlasan di depan
Tuhan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan".

Ternyata kinerja orang sederhana ini terdengar ke banyak tempat. Di
samping karena kekaguman masyarakat, juga kerena hadiah besar yang
telah diterimanya. Di desa seberang yang memiliki problema yang serupa
kemudian memanggilnya. Dan setelah memotong pohon dengan teknik dan
alat yang sama, ternyata berkali-kali hanya berujung kegagalan. Ada
yang berubah, katanya setelah berulang kali gagal, hadiah rupanya
melenyapkan keikhlasan!

Ini memang hanya sebuah cerita, namun layak direnungkan kalau
keikhlasan bukanlah sumber kelemahan. Ia sejenis tenaga dalam yang
bisa membuat manusia jadi demikian perkasa. Terinspirasi dari banyak
cerita-cerita sufi, demikian juga dari puisi-puisi Gibran dan Rumi,
serta kualitas pemimpin-pemimpin yang masih berkuasa ketika badannya
sudah disebut meninggal oleh dokter, keikhlasan sudah menjadi tema
kehidupan yang kuat sejak dulu.

Kesempatan emas kedua yang dibuat lenyap oleh konsepsi surga-neraka,
adalah kekuatan-kekuatan yang bisa dihadirkan oleh keseharian yang
penuh dengan "neraka". Masalah, godaan, tantangan, persoalan adalah
rangkaian hal yang ditakuti banyak manusia sebagaimana mereka menakuti
neraka. Semakin sedikit wajah neraka seperti ini yang hadir, semakin
baik bagi para pengagum surga.

Ternyata kehidupan bertutur dan bercerita lain. Sebagaimana pernah
dituturkan secara apik oleh M. Scott Peck dalam The Road Less
Travelled, mereka-mereka yang menakuti neraka ternyata tumbuh jadi
manusia lemah dan lembek. Sebagian bahkan terkena penyakit kejiwaan
yang menyedihkan. Di bagian awal buku inspiratif ini Scott Peck
menulis : ?This tendency to avoid problems and emotional suffering
inherent in them is the primary basis of all human mental illness?.
Kecenderungan untuk lari dari masalah dan penderitaan adalah fundamen
utama dari kondisi mental yang tidak terlalu sehat.

Bercermin dari sini, neraka tidaklah seburuk bayangan banyak orang.
Dalam lapisan-lapisan kejernihan yang lebih dalam, neraka adalah
tempat pemurnian. Sebuah tempat di mana sampah-sampah kehidupan diolah
menjadi pupuk-pupuk berguna. Sebutlah masalah keseharian seperti
dimarahin atasan. Sesaat memang membuat yang bersangkutan kesal,
tetapi kemarahan atasan sedang membuatnya jadi kuat. Atau memiliki
isteri yang cerewetnya minta ampun, ia memang sengaja hadir untuk
membuat sang suami jadi sabar. Demikian juga dengan masalah lain.

Yang jelas, lari dari persoalan memang enak sebentar, tetapi ia
membawa dampak jangka panjang yang negatif. Meminjam argumen Scott
Peck dalam karya di atas, kesukaan untuk lari dari masalah dan
tanggung jawab adalah ciri utama dari manusia-manusia yang terkena
penyakit character disorder. Lebih dari sekadar terkena penyakit
kejiwaan tadi, tantangan dan masalah sebenarnya serupa dengan
tangga-tangga kedewasaan dan kematangan. Semakin tinggi dan besar
masalahnya, itu berarti kaki sang hidup sedang melangkah di tempat
yang juga tinggi.

Surga (baca : kebahagiaan) memang udara kehidupan yang indah dan
segar, tetapi ia terasa jauh lebih indah dan segar jika seseorang
pernah melalui tangga-tangga neraka. Serupa dengan lingkaran Yin-Yang
yang di belah dua, awalnya memang ada beda jelas dan tegas antara
surga dan neraka. Surga itu berisi senyuman, neraka berisi tangisan.
Namun, di tingkatan-tingkatan kejernihan, sekat dan pemisah tadi sudah
tidak ada. Suka-duka, tangisan-senyuman, sukses-gagal hanyalah aliran
kehidupan yang datang dengan peran masing-masing. Persis seperti siang
yang berganti malam dan juga sebaliknya, setiap pergantian berjalan
tenang dan tenteram. Dan jangan lupa, kualitas hidup di dalam diri
seperti ini hanya bisa dicapai oleh manusia yang mendalami hakekat
syukur akan adanya neraka.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: