Ada Apa Dengan Thasawuf ?

Apakah Tasawuf Menjawab Krisis Spiritual ?
Oleh : Ferry Djajaprana

thasawuf
Manusia terbentuk dari dua prinsip yang berbeda. Jasmani dan rohani. Oleh
karena itu ia mempunyai dua dimensi, dimensi samawi dan dimensi bumi, satu
aspek bersifat kekal dan lainnya fana. Orang-orang yang arif mengetahui
bahwa kedua aspek ini saling berkaitan erat sehingga setiap jenis
disorientasi dari kedua aspek ini mempengaruhi yang lainnya. Konsekwensinya
setiap hal yang hanya tertuju kepada salah satu wujud ini akan gagal
mencapai kebahagiaan yang menyeluruh karena tidak berkaitan dengan
realitas yang sesungguhnya.

Di masyarakat modern umumnya kita tidak mendapatkan keseimbangan dalam
konsep pemikiran, karena ada kecenderungan untuk memilih ke arah salah satu
titik ekstrim, apakah aspek material ataupun aspek spiritual. Perhatian
mereka berpusat kepada alam semesta atau pada manusia saja, tidak
menguak lebih dalam hakikat keberadaan manusia dan alam ini. Hancurnya
nilai sakralitas pandangan manusia dan alam menyebabkan seolah-olah
kehancuran alam dan manusia tidak dapat dicegah lagi. Untuk itu agar
manusia dapat merasakan integritas manusia dan alam itu secara utuh manusia
harus berada di titik pusat. Sehingga mampu mengambil jarak dari kenyataan
yang senantiasa berubah. Dengan kata lain manusia modern harus memikirkan
kembali kehadiran Tuhan yang menjadi landasan pijakan atau dengan kata lain
manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.

Tasawuf sebagai terapi krisis

Sebagian orang berpendapat bahwa tasawuf mengakibatkan kemunduran dan
kejujumudan umat Islam. Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Sufi Essays
(1972) , salah satu bab dari buku tersebut "Apa Yang Dapat Diberikan Islam
kepada Dunia Modern" (What Does Islam Have to Offer to the Modern World?),
dan buku karangannya yang lain, Islam and the Plight of Modern Man (1975),
justru berpendapat sebaliknya, bahwa tasawuf tidak dapat dijadikan kambing
hitam akan kemunduran Islam, gerakan Wahabisme di Saudi Arabia dan Ahli
Hadis di India yang menolak tasawuf dari agama Islam membuat agama Islam
tereduksi sampai tinggal doktrin fiqih saja yang kering dan kaku sehingga
"tidak berdaya" menghadapi gempuran kebudayaan Barat.

Dengan Tasawuf ajaran yang bersifat metafisis dan ma’rifat (gnostic) dapat
dijelaskan sesuai intelektual. Dimensi spiritual tasawuf sangat dirindukan
oleh manusia yang sedang mencari Tuhannya. Bahkan, tasawuf mendapatkan
tempat bagi orang-orang Barat Modern yang merasakan kekeringan bathin dan
kehampaan spiritual dan pemenuhannya kian mendesak. Mereka berpetualang ke
negeri-negeri Timur untuk mencari-cari spiritualitas dalam Kristen, Budha
dan Hindu atau sekedar berpetualang kembali ke alam hanya untuk membuang
kebosanan dan kejenuhan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan Industri.
Sedangkan Agama Islam tidak dilirik karena persepsi mereka agama Islam
penuh dengan kekerasan. Untuk itu sesuai dengan kebutuhannya, sebaiknya
mulai diperkenalkan kepada mereka sebagai alternatif karena mereka hanya
memahami bahwa sudah berabad-abad Islam hanya dikenal dari sisi legal
formal saja.Orang Barat memahami yang berspiritual itu hanya orang-orang Hindu dan
Budha, mereka masih merasa asing jika Nabi Muhammad diidolakan sebagai
tokoh spiritual, mereka mengenal Rosul hanya sebagai panglima perang saja
dan membebani umatnya dengan kewajiban-kewajiban yang banyak.

Ajaran tasawuf bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan
Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan
kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat
sementara dan selalu berubah.

Masyarakat Barat di era modern ini terlalu mengagungkan keabsahan kacamata
ilmiah dan telah kehilangan penglihatan matahatinya (intellectus) akan
sulit menangkap bayang-bayang Tuhan apalagi untuk berdialog. Mereka
kehilangan "benang merah" yang menghubungkan manusia dengan titik pusat
yang dilakukan untuk melakukan pendakian menuju ma’rifat. Kesulitan ini
disebabkan karena selain masyarakat modern hanya mengagungkan materi juga
mengkultuskan rasio sehingga membuat mata hati (intellectus) mereka
tertutup. Solusinya mereka harus berlatih untuk mengembalikan kesadaran
Ilahiah dengan cara menjalankan ajaran tasawuf. Sehingga terjadi
keseimbangan (equilibrium) antara kekuatan rasio yang berpusat di otak dan
ketajaman mata bathin yang berpusat di dada.

Tasawuf dan Integrasi Kehidupan

Islam adalah agama tauhid, sementara itu tasawuf adalah dimensi spiritual
Islam, dengan demikian keduanya bertalian erat. Tujuan utama tasawuf adalah
pengutuhan manusia dengan seluruh kedalaman dan keluaran keberadaannya dan
seluruh keluasan yang tercakup dalam pribadi manusia yang disebut manusia
sempurna (insan kamil),

Tujuan tasawuf adalah mencapai kesadaran murni dan menyeluruh. Manusia yang
terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing perlu diutuhkan kembali
sesuai dengan tingkatannya sendiri. Tasawuf juga berusaha mengutuhkan
berbagai ilmu yang berkembang ke dalam perspektif dengan tepat. Peranan
jalan kerohanian (thariqat) dalam pengukuhan manusia adalah sesuatu yang
hakiki, karena hanya melalui kehadiran Tuhan dan barakah yang terkandung di
dalamnya yang telah ditunjukkan ke dalam al Quran semua unsur yang tercerai
berai dalam diri manusia dapat dipadukan kembali.

Semua manusia pasti mengharapkan dapat mencapai kebahagiaan baik itu
kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Masalahnya adalah bagaimana
agar kedua macam kebahagiaan tersebut dapat dicapai dengan tidak
mengorbankan salah satu dari keduanya?

Dalam menyikapi kedua kebahagiaan tersebut manusia dapat digolongkan
menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang memilih
mengejar kehidupan akhirat dan mengabaikan kebahagiaan dunia. Kelompok
kedua adalah kelompok yang mengejar kebahagiaan duniawi dengan mengabaikan
kehidupan akhirat (ukhrowi). Dan yang terakhir adalah kelompok yang
mengejar kebahagiaan dunia dan akirat.

Masyarakat Barat juga sebagaian masyarakat modern yang hidup
kebarat-baratan kebanyakan hidup hidup dalam suasana sekularisme dengan
mengorienstasikan hidupnya untuk mengejar kehidupan duniawi saja serta
mengabaikan kehidupan rohaninya. Karena itu ketika kesenangan duniawi yang
merupakan buah dari ilmu dan teknologi telah diraihnya jiwa-jiwa mereka
tetap lapar dan kehausan, karena kehidupan spiritual mereka dicampakkan.
Mereka menderita bathin kemudian mencoba lari untuk mengejar untuk memenuhi
hasrat spiritual mereka.

Menurut Nasr, pencarian spiritual ini sebenarnya merupakan fitrah
(perenial)nya manusia secara alami baik individual maupun kolektif.
Ketika suatu masyarakat mengabaikan kehidupan spiritual dan hanya mengejar
materi (duniawi) sebaliknya orang-orang yang mengejar kehidupan mistik
semakin sedikit pada saat itu pula masyarakat tersebut akan ambruk ditimpa
beban berat strukturnya. Dengan ambruknya struktur tersebut maka
masyarakat itu mencari pemecahan masalahnya karena tidak mampu mencari
pengobatan penyakit psikisnya, penyakit rohani sebagai akibat
dari malasnya memberi nutrisi pada rohaninya.

Dalam Islam perenialisme diidentikan dengn fitrah. Alquran menggunakan kata
fitrah untuk menunju
kkan nilai kemanusiaan yang berpangkal pada kejadian
asal manusia yang suci. Yang membuat sang pemilik tubuh memiliki kesucian
dan kebaikan. Fitrah merupakan kelanjutan perjanjian primordial antara
Tuhan dan ruh manusia, sehingga ruh manusia dijiwai oleh suatu kesadaran
tentang Kekuatan Yang Maha Tinggi yang merupakan awal dan tujuan semua yang
ada dan berada di atas alam ini.

Nasr mengingatkan bahwa tasawuf adalah tradisi Islam, jadi jangan sampai
disejajarkan dengan mistisisme lain di luar Islam, oleh karena
itu pelaksanaannya harus melalui syariat terlebih dahulu sebelum melalui
jalur thariqah.

Seluruh cara spiritual (tharikah) dalam tasawuf sesungguhnya bertujuan
untuk membebaskan manusia dari penjara berbagai masalah kehidupan manusia,
menyembuhkan mereka dari kemunafikan, dan menjadikan mereka menjadi manusia
yang utuh, karena hanya dengan menjadi manusia yang utuh saja manusia dapat
diliputi kesucian. Karena banyak manusia yang terjebak dalam kemunafikan,
musyrik dan mereka menderita dosa syirik (politeisme) .

Bibliography :
1) Drs. Syamsuri MA, Tasawuf dan Terapi Krisis Modernisme, Majalah Dzikir
No.09/I/06, CV Sejahtera Offset, Jakarta, 2006
2) Hossein Nasr, Seyyed. Sufi Esays, ABC International Group, Chicago, 1999
3) Hosein nasr,Seyyed. Islam and the Plight of Modern Man ,1975

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: