PUISI

TITIPAN…

api korek

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra).

2 Comments (+add yours?)

  1. Hatta Zaujani
    Aug 06, 2008 @ 12:07:07

    Lelahku temukan kata…
    seperti ikhlas yang senantiasa berbaring di angkasa

    seperti syukur yang senantiasa menancap, hingga setiap langkah adalah diam

    seperti ridha yang menggantung tanpa
    tiang dan tali

    ah… sekiranya kutemukan rangkaian kata yang dengannya pupus setiap ragu… seperti aku menyentuh riak air bening yang kurasa sejuk

    hingga benih ego diri menjadi mutiara murni yang tersimpan disisi-Nya.

    ketika setiap penyair, bagaikan padatnya air yang mengalir menuju lautan hikmah, diamnya dalam makna yang manfaat yang berlapis…

    hingga tiada kutangisi setiap kata yang merupakan rangkaian semu kehidupan.

    sampai kapan terselamatkan…

    Reply

  2. editor : yoedha pamungkas
    Dec 20, 2008 @ 13:46:23

    mohon maaf comentnya baru terbaca trims atas komentarnya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: