Sabar Dalam keluarga

Merajut Tali Kesabaran Dalam Keluarga

keluarga

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar [39]:10)

 

Pada zaman Khalifah Al Manshur, salah seorang menterinya, Al-Ashma’i melakukan perburuan. Karena terlalu asyik mengejar hewan buruan ia terpisah dari kelompoknya dan tersesat di tengah padang sahara. Ketika rasa haus mulai mencekiknya, di kejauhan ia melihat sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya kearah sana dan menemukan penghuninya yang memukau : wanita muda dan jelita. Ia meminta air. Wanita itu berkata, “ Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku, kalau engkau mau ambilah”.

 

Tiba-tiba wajah wanita muda itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. ‘Suamiku datang ‘, katanya. Wanita muda itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih. Lelaki yang datang itu lebih mudah disebut bekas manusia. Seorang tua yang jelek dan menakutkan . Mulutnya tak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat dan menuntunnya dengan mesra masuk ke kemah.

 

Sebelum pergi, Al-Ashma’i bertanya , “Engkau muda, cantik dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berahlak buruk ?”

 

Jawaban perempuan itu mengejutkan Al-Asma’i, “Rosulullah bersabda, agama itu itu terdiri dari dua bagian : syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Allah telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikanm dan perlindungan. Ia membimbingku untuk berahlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi yakni, bersabar. (Dikutip dari Jalaluddin RAhmat. Meraih Cinta Ilahi. 2001:238-239).

 

Empat bidang kesabaran.

 

Kesabaran itu bisa melahirkan keajaiban. Salah satunya tergambar dalam kisah diatas. Dengan kesabaran, wanita cantik tadi mampu berbakti kepada suaminya yang berahlak buruk. Sesuatu yang terkadang sulit dicerna oleh rasio.

 

Tidak diragukan lagi, kesabaran adalah satu pilar penting dalam pernikahan setelah lurusnya niat. Langgeng tidaknya sebuah pernikahan sangat ditentukan oleh seberapa jauh tingkat kesabaran yang dimiliki suami istri. Makin banyak bekal kesabaran yang dimiliki, maka akan makin kokoh pula bangunan pernikahan yang dijalani. Tapi makin sedikit kesabaran yang dimiliki, maka makin besar pula kemungkinan hancurnya sebuah pernikahan.

 

Demikian pentingnya kesabaran dalam pernikahan, ada orang mengatakan, “Bila sebelum nikah kesabaran kita hanya satu, maka setelah menikah kesabaran kita harus seratus.” Pertanyaannya, kesabaran seperti apa yang harus dimiliki dalam menjalani pernikahan?

 

Ada empat macam bidang kesabaran. Pertama, sabar menghadapi kekurangan pasangan. Pernikahan adalah kesimpulan terakhir setelah seseorang mempertimbangkan semua kekurangan dan kelebihan pasangan. Tidak pada tempatnya bila setelah menikah seorang suami mengeluhkan kekurangan yang ada pada istrinya. Demikian pula sebaliknya. Masing-masing harus menerima kekurangan atau kelebihan pasangannya dengan penuh kesabaran.

 

Pernikahan adalah sarana untuk saling melengkapi, bukan untuk saling mengalahkan (QS. An-Nisa [4]:1)

 

Salah satu hakikat sabar dalam pernikahan adalah menghilangkan keluh kesah pada saat tidak enaknya menghadapi segala kekurangan. Tidak ada keluh kesah selain pada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa saja yang menikah karena ketampanan atau kecantikan, maka satu saat rupa tersebut akan menghinakannya. Kecantikan dan ketampanan itu temporer sifatnya, tidak langgeng. Ketika belum menikah pasangan kita begitu cantik, tapi setelah punya anak maka kecantikan itu akan semakin menurun untuk kemudian hilang sama sekali setelah tua. Tanpa adanya kesabaran, sebuah rumah tangga tidak akan bertahan lama.

 

Kedua, sabar menghadapi godaan. Rumah tangga itu laksana perahu. Untuk mencapai pulau kebahagiaan di surga, perahu itu harus berlayar mengarungi luasnya samudra masalah. Indahnya pernikahan analog dengan indahnya pantai. Namun jangan lupa, siapa saja yang bertolak dari pantai untuk menyeberangi lautan, maka ia akan menemukan ganasnya ombak. Siapa saja yang tidak membawa bekal dan persiapan yang matang, tidak mustahil bahtera rumah tangganya akan karam ditelan gelombang.

 

Nikah adalah ikatan yang teramat suci lagi kuat, mitsaqan ghalidza, sehingga jangan dinodai dengan saling menyakiti. Dalam alqur’an, kata mitsaqan ghalidza dipakai untuk menyebutkan ikatan antara Allah dan Rosul-Nya. Tidak akan pernah sukses seorang suami yang sering menyakiti istrinya. Walau awalnya bergelimang harta, sukses dalam karir, tapi pada suatu saat ia akan menemui kehancuran. Begitu pula seorang istri yang tidak taat dan selalu menyakiti suaminya, hidupnya tidak akan berkah dan bahagia.

 

Karena itu, suami istri harus punya komitmen untuk saling setia. Inilah mitsaqan ghalidza. Sehingga, menjaga tali pernikahan agar tetap kokoh adalah jihad akbar. Arasy’i tidak akan berguncang saat seseorang meninggalkan shaum wajib, tidak akan berguncang saat seseorang lalai dalam shalat, namun ia akan berguncang tatkala sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai.

2 Comments (+add yours?)

  1. paryani
    Sep 01, 2008 @ 06:04:17

    bagaimana jika seorang suami sdh tau akan kekurangannya tapi selalu terjerumus ke dalam hal yang sama dan tidak mencoba dengan apa potensi yang di punyainya.

    Reply

  2. editor : yoedha pamungkas
    Dec 20, 2008 @ 13:56:33

    Maaf postingan comentnya baru terbaca akibat kesalahan teknis …Mba Paryani sesungguhnya kita harus sabar dalam menghadapi persoalan ini saran saya mba berdoa semoga Allah memberikan kesabaran kepada diri mba lalu di beri kakuatan untuk menerima persoalan ini,bagaimana pun juga persoalan ini datang dari Allah maka kita pun mencari solusi dari Allah pula.semoga Allah menolong mba.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: