Renungan Sore…

 

kesal bergantung

sekedar renungan sore, setelah ‘lelah’ melihat berita
di televisi yang isinya demo bbm melulu.

semalam, dalam perjalanan pulang, ban mobil saya bocor
(kebetulan besok akan ada acara di luar kota, jadi
supra x125 diganti si irit ceria kxr 847cc).

usai mengganti ban (alhamduliLLAH, ban serep yang
selama 5 tahun tidak pernah dipergunakan, akhirnya
menyentuh tanah juga) saya melanjutkan perjalanan
dengan ‘beban’ pikiran tambahan. pertanyaan sederhana
namun mengganggu terus bergelayut. kenapa saya harus
mengalami peristiwa tersebut?

beberapa menit yang lalu, saya menyadari bahwa
pertanyaan itu dari sejak semalam belum terjawab. tapi
ada hal yang lebih penting dari sekedar menjawab
pertanyaan itu. adalah ingatan bahwa betapa seringnya
saya selalu bertanya "mengapa hal itu harus terjadi"
saat mendapati situasi-situasi sulit, musibah,
kehilangan, dan sejenisnya. saat henfon ilang, mikir,
kenapa harus kehilangan. saat kecelakaan-jatuh dari
motor, mikir, kenapa harus jatuh. saat dompet dicopet
di depan hidung (soalnya kalo di depan mata kan
ketahuan dong, bisa dihindari pencopetannya, karena di
depan hidung, ga keliatan), mikir, kok bisa kecopetan
hanya karena lengah 5 detik saja.

ingatan itu membawa pada ketidak-ingatan lain. saya
tidak ingat apakah saya bertanya-tanya, "mengapa hal
itu harus terjadi" saat kejadian yang menimpa adalah
hal-hal yang baik dan menyenangkan. saya tidak ingat,
apakah saya sempat berpikir keras, mengapa saya
mendapat bonus yang sangat besar akhir tahun lalu,
mengapa orang yang tak dikenal itu sedemikian baik
pada saya, mengapa saya diberi anak yang sangat
menyenangkan hati, mendapat istri yang sangat baik.
mengapa pagi ini udara jakarta sedemikian segarnya,
mengapa nasi uduk ini sedemikian nikmatnya, mengapa
tukang parkir itu sedemikian ramahnya. sungguh saya
tidak ingat, apakah saya selalu mempertanyakan hal-hal
tersebut.

sungguh saya merasakan sebuah ketakutan, jangan-jangan
berbagai pertanyaan tentang "mengapa hal ini
harus/bisa terjadi" saat mengalami hal-hal yang tidak
diinginkan bukanlah didasari dari sebuah niat mulia
untuk berintrospeksi dan menggali hikmah.
jangan-jangan sungguh sebuah keburukan hati semata
saat itu semua didasari oleh ketidakrelaan menerima
berbagai ketentuan ALLAH SWT sehingga saat hal buruk
terjadi kita merasa harus ada alasan di balik itu. dan
saat alasan tidak ditemukan, kita jadi punya alasan
untuk menguatkan keluh kesah dan protes kita pada
ketentuan TUHAN. seakan tidaklah layak diri ini
mendapat hal yang buruk. mengapa hal buruk ini harus
terjadi pada saya, apa salah saya, mungkin demikian
gugatan naif dari nafsu yang hanya mau mendapat
kesenangan.

sebaliknya, saya sungguh sedih saat membayangkan,
betapa lalainya dalam bersyukur, dengan tidak pernah
berpikir atas dasar apa semua hal yang baik itu
terjadi pada diri ini. kenapa semua hal tersebut
menjadi layak untuk diterima. kebajikan apa yang telah
dilakukan sehingga ALLAH SWT membalasnya dengan
nikmat-nikmatNYA. sungguh seakan semua hal itu layak
untuk diperoleh, sehingga membawa pada kelalaian untuk
mensyukurinya.

semoga ALLAH Yang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosa
dan kealpaan kita… dan tidak menurunkan adzabNYA
karena kelalaian kita dalam bersyukur…

wassalaam
hanafi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: