Lambaian-Nya

lambaian yangan

~ LAMBAIAN TANGAN ALLAH ~

dan Kami telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, (QS. 15:81).

Allah selalu melambaikan tangan-Nya kepada kita. Dia memanggil kita, Dia menuntun kita. Namun sungguh sayang, kita lebih senang mengabaikan panggilan-Nya itu.

Lambaian tangan Allah meliputi seluruh manusia. Tidak melihat apakah ia percaya kepada-Nya atau tidak. Tidak peduli apakah mereka membaca kitab-kitab-Nya atau tidak, juga tidak pandang bulu, apakah orang-orang tersebut iman kepada utusan-utusan-Nya atau tidak. Inilah ke Maha Adilan Allah.

Benarkah Allah selalu melambaikan tangan-Nya kepada kita?
Tampaknya pertanyaan ini perlu kita jawab, atau paling tidak kita cari jawabannya. Sebab apabila tidak, jangan-jangan kita secara sadar atau tidak sadar, menjadi kelompok orang-orang yang selalu mengingkari, mendustakan, dan mengabaikan panggilan-Nya ini.

Ketahuilah bahwa Allah melambaikan tangan-Nya kepada kita dengan segala bentuk kehidupan kita, baik yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan, yang menggembirakan dan yang menyusahkan. Inilah yang salah satu bagian yang disebut sebagai ayat-ayat Allah.

Lihatlah apa yang kita lakukan dengan lambaian tangan (ayat-ayat) Allah yang mewujud dalam kehidupan kita ini. Yang menyenangkan diterima dengan bergembira bahkan seringkali tiada disyukuri, dan apabila diberi yang menyakitkan, kita tiada pernah bersedia menerimanya, memberontak, mengomel, bersumpah serapah atasnya. Bahkan tidak jarang yang  sesungguhnya menyenangkan pun, kita tidak syukuri  karena melihat apa yang diterima orang lain lebih bagus. Saat inilah kita telah berpaling dari lambaian tangan-Nya, dan saat inilah kita telah mendustakan ayat-ayat-Nya.

Kalau seperti ini, bagaimana mungkin kita akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang dituntun mendapat petunjuk dari-Nya. Karena hamba yang dituntun hanyalah hamba-hamba yang mau diatur oleh-Nya, yang selalu berterima kasih atas pemberian-Nya, tidak pernah memberontak kepada-Nya, apalagi mengomel dan mencaci-maki-Nya.

Ah… tanpa sadar, ketika kita mecaci maki persoalan hidup yang menghampiri kita, maka secara langsung kita mencaci maki Allah, yang mengizinkan persoalan hidup itu datang kepada kita. Seandainya saja, kita berencana dan berkeinginan menjadi hamba yang mendapat tuntunan dari-Nya, maka marilah kita memulai dengan belajar menerima apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita, baik kesenangan maupun kesusahan. Tiada pemberontakan sedikit pun, apalagi caci maki dan cemoohan.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)

Makassar, 10 Maret 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: