Perjalanan Kehidupan Manusia

menatap jalan kehidupan

Bagaimana Perjalanan Kehidupan Kita ?

Pernah kah kita mempertanyakan bagaimana perjalanan kehidupan kita …

Apakah hanya sekedar lahir..kanak-kanak…remaja…dewasa…tua…trus…mati kembali ke tanah ?.. Sesederhanakah itukah siklus kehidupan kita…?

Mungkin khazanah pengetahuan populer seperti biology kimia ..fisika..sosiologi psikologi banyak membahas tentang permasalahn ini tapi pernahkah kita menyentuhnya dari sisi spritulitas Keber-Agama-an ( Islam dengen pendekatan Al-Qur’an dan Hadits.

Sebuah materi dari kajian yang pernah saya ikuti (Kajian Bina Qalbu Makssar tahun 2001) mungkin sedikit banyak menolong ”rasa” keingintahuan tersebut…

Lahir Dalam keadaan Fithrah.

Setiap manusia hadir ke dunia ini dengan modal dasar kesucian. Dengan modal inilah seseorang berniaga (berjual beli) di kehidupan dunia ini. Setiap kamu lahir dalam keadaan fithrah, orang tuanyalah yang menyebabkan menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. (Hadits) Dalam perniagaannya di dunia ini sebahagian besar manusia dalam keadaan merugi. Sedikit sekali orang yang kembali kepada modal dasarnya apalagi beruntung.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan Mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:2-3)

Kerugian manusia dari modal dasarnya dalam perniagaannya di dunia, karena manusia mengotori jiwanya dengan membiarkan dirinya melakukan dosa-dosa.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:9-10)

Penyebab Dosa.

Semua dosa yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya disebabkan manusia mencintai dunia lebih dari akhirat.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:107-108).

Akibat mencintai dunia lebih dari akhirat, menyebabkan manusia rela menjadi budak diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)

Setiap hal yang dilakukan manusia atas dasar hawa nafsu dan syahwatnya, sesungguhnya tiada memberi faedah sedikitpun kepada dirinya kecuali dosa, inilah yang akan menyebabkannya semakin tersesat dari jalan Allah.

dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS. 38:26)

Akibat melakukan Dosa

 Dosa yang dilakukan oleh manusia membuat hatinya semakin kotor tertutup noda. Semakin banyak noda-noda dosa itu menempel di hati, semakin gelaplah dan semakin keraslah hatinya, bahkan kekerasannya lebih keras daripada batu.

Manakala seorang hamba melakukan dosa, maka menempelah pada hatinya setitik noda, dan manakala iamelakukan taubat maka lepaslah noda tersebut (Hadits)

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. 2:74)

Semakin banyak noda yang menutupi hati, maka semakin sulitlah ia menerima petunjuk Allah. Dan kehidupan tanpa petunjuk Allah hanyalah kesesatan.

 “Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (QS. 6:77)

Ayat-ayat Allah.

Walaupun manusia hidup dalam kegelapan hati, tetapi Allah Ta’ala Yang Maha Adil, selalu memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya dengan ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat Allah terbagi atas dua jenis, yaitu Ayatayat Qauliyah (al Qur’an) dan Ayat-ayat Qauniyah (alam semesta), yang semua bertujuan agar manusia kembali (bertaubat) kepada Allah.

…al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. (QS. 2:185)

… dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). (QS. 46:27)

Ayat-ayat Qauniyah ini melingkupi seluruh alam semesta. Bahkan segala hal dalam kehidupan kita, apakah sebuah masalah ataupun kesenangan, semuanya merupakan bagian dari ayat-ayat Qauniyah ini. Hal ini berkali-kali Allah hadapkan kepada kita, namun karena terlampau mencintai dunia sehingga selalu merelakan diri diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya, menyebabkannya tetap berpaling dari ayat-ayat itu.

Katakanlah:"Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu" Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tandatanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS. 6:46)

Dan banyak sekali tandatanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. (QS. 12:105).

Taubatan Nusaaha

Dengan ayat-ayat Allah itu, ada orang yang sadar, kemudian kembali (taubat) kepada Allah. Namun kebanyakan manusia mengabaikannya.

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dan al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya). (QS. 17:89)

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari). (QS. 25:50)

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungaisungai. (QS. 66:8)

Ujian Allah.

 Manakala seseorang benar-benar ingin kembali kepada Allah, maka bertubi-tubi akan dihadapi olehnya ujian-ujian dari sisi Allah. Karena sesungguhnya dengan ujian-ujian ini akan terlihat siapa orang-orang yang sungguh-sungguh merindukan Allah dan siapa yang tidak.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. 29:2)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. 2:155)

Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. 7:168)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang ssebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. 21:35)

Mensikapi Ujian.

Ujian-ujian itu dihadapkan kepada manusia, untuk dilihat siapa manusia-manusia yang baik amalnya, karena mereka yang ingin kembali kepada Allah tentu akan berusaha agar amal-amalnya baik.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 67:2)

Dengan ujian-ujian tersebut, Allah menguji apa-apa yang ada dalam dada kita, seperti kesabaran, kesyukuran, keikhlas
an, keberserahan diri, dsb. Dan dengan ujian-ujian itu, apabila seorang manusia mensikapinya secara benar, maka Allah akan membersihkan noda-noda yang menyelubungi hatinya.

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. 3:154).

Dengan ujian itu pula Allah Ta’ala sedang mendidik kita, untuk melakukan proses perbaikan diri dan juga sekaligus mendidik kita untuk lebih ma’rifat (mengenal) Allah. Dan proses ini bukanlah hanya sekali atau dua kali, tetapi terus menerus sepanjang hayat.

Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS. 9:126)

Rahmat Allah Sesungguhnya manusia tidak akan dapat mensucikan dirinya dengan banyak amalnya, tetapi manusia dapat selamat hanyalah karena rahmat (pertolongan) Allah.

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:21).

Adapun banyaknya amal kita seharusnya sebagai sebuah ungkapan betapa keinginan dan pengharapan kita akan pertolongan-Nya. Dengan banyaknya amal-amal, sesungguhnya kita sedang mengetuk pintu agar Allah membukanya, serta menolong kita. Bagaimana mungkin Allah akan menolong kita apabila tiada setetespun pengharapan kita akan pertolongan-Nya? Allah akan memberikan kepada kita pertolongan(rahmat) dua bagian, yaitu: 1) Mensucikan atau mengampuni kita 2) Menjadikan dari dalam diri kita Cahaya yang dengan cahaya itulah seorang manusia dapat berjalan tetap dalam bimbingan-Nya.

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul- Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 57:28)

Petunjuk Langsung ke Qalbu.

Apabila seseorang mendapatkan rahmat dari Allah sehingga disucikan-Nya dari dosa-dosa, maka hatinya akan dapat menerima petunjuk yang Allah berikan kepadanya. Sedikit sekali manusia pada zaman ini yang menyadari dan mengetahui bahwa sesungguhnya setiap manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah. Dan ketahuilah bahwa petunjuk itu ada 2 jenis, yaitu 1) Petunjuk Umum dan 2) Petunjuk Khusus. Petunjuk Umum adalah petunjuk yang Allah Ta’ala berikan kepada semua manusia untuk sadar, kembali kepada-Nya. Al Qur’an adalah petunjuk umum tersebut. Dan pelaksanaan yang baik atas substansi-substansi petunjuk umum tersebut, maka Allah akan melimpahkan kepadanya petunjuk khusus, yang berlaku individual, langsung ke hatinya. Untuk menuntun seorang manusia kepada jalan yang lurus (Shiraath al Mustaqiim).

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada hatinya. (QS. 64:11)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, (QS.10:9)

Dari Abi Said Rasulullah SAW bersabda :“…takutlah kamu akan firasat orang-orang mukmin, sebab mereka memandang dengan cahaya Allah…” (HR Turmudzi)

Dari Ummu Salamah R.A, Rasulullah SAW bersabda : “Apabila dikehendaki oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya orang itu memperoleh pelajaran dari hatinya.” (HR. Abu Manshur Ad-Dailamy)

Syarat untuk menerima petunjuk langsung tersebut adalah Iman. Namun Iman yang mana? Iman yang menjadi syarat turunnya petunjuk langsung ini, bukanlah Iman yang sekedar definisi tentang rukun Iman, akan tetapi Iman yang menjadi syarat ini adalah Iman yang berupa cahaya, sebagai sebuah rahmat, yang Allah anugerahkan kepada hati orang-orang yang sungguh-sungguh bertaubat kepada-Nya. Berada di Shiraath al Mustaqiim Dengan petunjuk langsung inilah seseorang baru dapat dikatakan tidak tersesat dari jalan Allah. Dengan petunjuk langsung inilah seseorang dipimpin Allah kepada Shiraath al Mustaqiim.

Shiraath al Mustaqiim.

Alangkah naifnya apabila dalam sehari (minimal) 17 kali seseorang memohon ditunjukkan kepada Shiraath al Mustaqiim, namun ia tidak pernah tahu apa-apa saja yang harus dibekalinya untuk mendapatkan itu. sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. 22:54) Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengankitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. 5:16) Orang yang Sesat Dalam Ummul Kitab, Surat al Fathihah, dikatakan bahwa manusia terbagi atas 3 golongan: 1) Golongan yang diberi nikmat, yaitu mereka yang berada di atas Shiraath al Mustaqiim 2) Golongan yang sesat dan 3) Golongan yang dimurkai Allah. Golongan yang sesat adalah mereka yang zalim, yang tidak mendapat petunjuk Allah dikarekan merelakan diri segala aktivitasnya diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya.

Karenanya Allah membiarkannya sesat bahkan lebih sesat dari binatang ternak Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (QS. 30:29)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)

Orang yang Dimurkai Allah Ketersesatan yang terus menerus, tanpa ingin kembali (bertaubat) kepada Allah menyebabkannya sedikit demi sedikit tergelincir ke dalam golongan orang yang dimurkai Allah. … akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. 16:106)

Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (QS. 20:81)

Orang yang Mati dalam Keadaan Shalih

Apabila seseorang menghadapi ajalnya, dalam keadaam kembali kepada modal dasar kesuciannya (fithrah) atau bahkan lebih dari itu (beruntung), maka sesungguhnya walaupun jasadnya dikubur di dalam tanah, namun jiwa (nafs) nya tidaklah mati, ia hidup di sisi Allah dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia, namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154)

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122)

Dan di akhirat nanti ia akan mendapatkan balasan Surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 61:11-12)

Hai orangorang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai… (QS. 66:8).

Orang yang mati dalam Keadaan Sesat atau Dimurkai Allah.

Jika qalbu seseorang telah tertutup dinding, maka didunianya menjadi gelap gulita, tidak bisa melihat Shirath Al Mustaqiim. Jika kondisi kebutaan ini terbawa kelama kubur ketika ajalnya, maka keberadaanya di alam kubur yang asing dalam kondisi buta, merupakan kegelapan diatas kegelapan. Jauh lebih tersesat jalannya. Lebih-lebih jika kondisi butanya terbawa ke alam akhirat.

Dari Abu Umamah r.a dia berkata: Pada siang hari yang sangat terik Rasulullah Saw melintasi sebidang tanah warqad. Semua orang berjalan di belakang Nabi. Setelah Nabi mendengar suara-suara sandal itu, beliau merasa senang. Kemudian beliau duduk sampai mereka berlalu jauh dihadapannya. Setelah beliau melintasi sebidang tanah warqad, tahu-tahu ada dua kuburan yang di dalamnya telah di kuburkan dua orang laki-laki. Rasulullah Saw berhenti seraya bertanya, “siapa yang kalian kuburkan di sini hari ini?” Mereka menjawab, “Si Fulan dan Si Fulan.” Mereka berkata lagi, “Wahai Nabi, bagaimana hal itu?” Rasulullah Saw. Menjawab, “Salah seorang dari mereka tidak membersihkan kencingnya, yang satu lagi, berjalan dengan menggunakan jimat (annamimah).” Lalu beliau mengambil pelepah kurma yang kering dan meletakkan di atas kedua kuburan tersebut. Mereka bertanya, “Mangapa engkau melakukan hal ini wahai Nabi Allah?” Beliau menjawab, “Agar meringankan keduanya.” Mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, sampai kapan mereka berdua di siksa?”Rasulullah Saw menjawab, “Hal ini gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Kalau tidak karena hati kalian berbuih (kotor), dan kalian seringkali menambahnambah pembicaraan, niscaya kalian akan mendengar apa yang aku dengar” (HR Ahmad)

Dan barangsiapa yang buta (qalbunya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat jalannya. (QS. 17:72)

Karena tersesat apalagi dimurkai, kelak di hari kiamat ia akan digiring ke Jahannam dengan cara diseret oleh malaikat.

Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat. (QS. 26:94)

Apakah orang yang mengikuti keridhaanAllah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah jahannam Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (QS. 3:162)

Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka.Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. 27:90)

Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolongpenolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiaptiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (QS. 17:97)

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia:"Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat" (QS. 20:124 125).

Seorang manusia bila ingin lepas dari siksa jahanam tidak boleh membawa dosa ketika ajalnya. Seandainya kita datang menghadap Allah Ta’ala dengan membawa hanya sebiji dosa sekali pun, kita tidak akan selamat dari pembersihan jahanam.

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (QS. 20:74-75)

Makassar, 8 Maret 2001 Kajian Bina Qalbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: